Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Bibir dalam Pispot

Cerita “Pistot” menceritakan tentang pengalaman Tokoh Aku. Pengalaman tersebut terjadi saat Tokoh Aku berada di pasar. Tokoh Aku di gambarkan oleh penulis dengan karakter yang jujur ia menunjukan siapa yang menjadi penjambret di pasar tersebut. Dan ia mau dijadikan sebagai saksi dan mengatakan yang sebenarnya. Selain itu Tokoh Aku juga digambaerkan sebagai tokoh yag pemberami dan cerdas. Karena ia berani dan berhasil merayu tersangka untuk meminum obat pencahar. Yang sebelumnya tersangka tersebut menolak untuk meminumnya. Berikut kutipannya:
“sekarang Cuma kita berdua saja di ruang ini. Ada suatu hal yang ingin kukatakan kepada mu.” Aku mulai meyakinkannya. “ kalau dalam waktu dekat kau tidak mengeluarkan kalung itu, mereka akan mengoperasimu!” aku bergeser mendekat kepadanya.”
Dari kutipan di atas tokoh aku memiliki siasat yang cerdas untuk membujuk Tersangka. Agar meminum obat pencahar dengan cara menakut-nakuti tersangka. Selain itu, Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik dan bertanggaung jawab. Ia merasa bersalah atas penderitaan yang diterima oleh Tokoh Tersangka. Setelah ia dinyakatan tidak bersalah. Ia berusaha meminta maaf kepada Tokoh Tersangka atas apa yang menimpanya. Ia memberikan uang kepada tokoh tersangka. Dan mengantarnya pulang. Berikut kutipannya;
“aku raba uang disakuku. Aku beri dia uang untuk menebus rasa berdosa pada diriku. Lelaki itu berlinang air matamenerimanya.”
“Kemudian kami sama diam di dalam perjaanan itu. Kemudian dia minta diturunkan di gang tempat tinggalnya. Aku menolongnya samapai keluar. Aku menyalamnya.”
Tokoh Aku benar-benar sangat menyesal karena ia telah membuat Tokoh Tersangka menjadi babak belur dan terlhat lemas karena terlalu banyak membuang air besar akibat obat pencahar.
Tokoh Tersangka digambarkan penulis sebagai penjambret yang licik. Karena setelah ketahuan ia menelan barang bukti apa yang dijambretnya. Berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang terges.”
Dari kutipan di atas Tokoh Tersangka dapat berpikir cepat untuk menghilangkan barang bukti. Namun, ia tetap dapat dikelabui oleh Tokoh Aku sehingga ia mau menelan obat pencahar. Tetapi kelicikan itu dikeluarkan lagi oleh penulis melalui penuturan Tokoh Tersangka yang mengaku telah menelan kembali. Berikut kutupannya:
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.”
Dari pengakuan di atas Tokoh Tersangka mengakui perbuatannya. Dan ia menyesal melakukan perbuatan itu. Ia malah meminta kepada Tokoh Aku untuk dihukum. Dan ia menjelaskan mengapa ia meakukan perbuatan itu. Berikut kutipannya:
“Bapak orang baik. Hukumlah saya.” Dia raba uang yang telah saya beri itu di dalam saku bajunya. Dia mungkin hendak mengembalikannya.”
Cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggunkan kata ganti aku. Tokoh Aku dalam cerpen ini adalah mewakili penulis karena cerpan ini terinspirasi dari pengalan penulis seperti yang dituturkannya pada proses lahirnya cerpen.
Cerpen ini menggunakan alur campuran karena terdapat bagian mengulang kejadian yang sudah terjadi berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang tergesa.”
Cerpen ini menggunakan latar tempat yaitu pasar dan kantor polisi. Sedangkan latar suasana sangat mempengaruhi jalan cerita cerpen ini karena penulis serusaha mengambarkan apa yang dirasakannya pada saat mengalami pengalaman itu. Yaitu membuat pembaca bergidik. Berikut beberapa kurtipan mengenai suasana:
“kamu beri kepada temanmu?”
“tidak.”
“dia tidak bisa berkata lain selain: tidak!” mereka mulai tidak sabar.” Siksa!” (halaman 13)
“cukup! Itu sudah cukup!” bentak kepala pemeriksa “ (halaman 14)
Dari gambaran di atas terlukis suasana tegang yang menimpa Tokoh Tersangka. Selain itu penulis menggambarkan apa yang ia lihat dan membuat pembaca bergidig.
“Belum keluar! Baru biji-biji kedele rupanya dia makan tempe!”
Dia keluar membawa pispot dan seorang menyambutnya dan membersihkannya di lubang pispot.” (halaman 18)
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.” (halaman 21)
Cerpen ini membahas tentang kebaikan hati dari Tokoh Aku. Ia berusaha menolong seseorang yang tidak ia kenal. Dan ia tetap menolong orang yang dia ketahui telan menjambret kalung seorang wanita.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

I. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat".
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Irian Jaya
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
bulan Agustus hari Natal
bulan Maulid Perang Candu
hari Galungan tahun Hijriah
hari Jumat tarikh Masehi
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara Kali Brantas
Banyuwangi Lembah Baliem
Bukit Barisan Ngarai Sianok
Cirebon Pegunungan Jayawijaya
Danau Toba Selat Lombok
Daratan Tinggi Dieng Tanjung Harapan
Gunung Semeru Teluk Benggala
Jalan Diponegoro Terusan Suez
Jazirah Arab

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam inggris
gula jawa
kacang bogor
pisang ambon
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
menjadi sebuah republik
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menurut undang-undang yang berlaku
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
Dr. doktor
M.A. master of arts
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Surat Saudara sudah saya terima.
"Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
majalah Bahasa dan Kesusastraan
buku Negarakertagama karangan Prapanca
surat kabar Suara Karya
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi 'pandangan dunia'.
Tetapi:
Negara itu telah mengalami empat kudeta.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.
II. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
• bergeletar
• dikelola
• penetapan
• menengok
• mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
• bertepuk tangan
• garis bawahi
• menganak sungai
• sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
• menggarisbawahi
• menyebarluaskan
• dilipatgandakan
• penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati mahasiswa
aerodinamika mancanegara
antarkota multilateral
anumerta narapidana
audiogram nonkolaborasi
awahama Pancasila
bikarbonat panteisme
biokimia paripurna
caturtunggal poligami
dasawarsa pramuniaga
dekameter prasangka
demoralisasi purnawirawan
dwiwarna reinkarnasi
ekawarna saptakrida
ekstrakurikuler semiprofesional
elektroteknik subseksi
infrastruktur swadaya
inkonvensional telepon
introspeksi transmigrasi
kolonialisme tritunggal
kosponsor ultramodern

Catatan:
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
• non-Indonesia
• pan-Afrikanisme
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra
D. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
E. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.
F. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000 per helai.
G. Singkatan dan Akronim

Hantu Kuntilanak dan Pocong

A. Kuntilanak
1. Deskripsi
Kuntilanak (bahasa Melayu: puntianak, pontianak) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "kuntilanak" atau "pontianak" kemungkinan besar berasal dari gabungan kata "bunting" (hamil) dan "anak".
Dalam folklor Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik yang punggungnya berlubang. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kamboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak juga senang menyantap bayi dan melukai wanita hamil.
Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.
Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat "bersemayam", misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut "waru doyong")
.2. Kepercayaan penangkalan
Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.
Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.
3. Budaya popular
Kepercayaan akan adanya kuntilanak atau sundel bolong sangat sering dijadikan sebagai bahan urban legend serta sinema. Berikut adalah beberapa film yang dibuat dengan inspirasi dari kuntilanak:

* Film Indonesia
o Terowongan Casablanca (Kuntilanak Merah) (2007) (Indika Entertainment)
o Kuntilanak (2006) karya Rizal Mantovani
o Kuntilanak (1962), dibintangi oleh Ateng
o Sundel Bolong, dibintangi oleh Suzanna

* Film Malaysia
o Pontianak Gua Musang
o Anak Pontianak (1958)
o Pontianak Kembali (1963)
o Pontianak Harum Sundal Malam (2004)
o Pontianak Harum Sundal Malam 2 (2005)
Adapun cara memanggil jaelangkung, ada pula cara memanggil kuntilanak. Dan cara memanggil kuntilanak adalah dengan melatunkan sebuah tembang Jawa. Tidak sama dengan cara memanggil jaelangkung,yang bisa dilakukan oleh siapa saja, lain halnya dengan kuntilanak.
Cara memanggil kuntilanak hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan “lebih” dari pada orang kebanyakan. Kemampuan ini belum bisa dipastikan bagaimana cara memperolehnya karena ada beberapa mitos yang mengatakan bahwa ini kemampuan yang diperoleh dari nenek moyang atau keturunan, ada pula yang mengatakan itu factor kebetulan atau dialah orang yang terpilih tanpa sebab apapun.
Apabila tembang jawa pemanggil kuntilanak ini dinyanyikan, akan membuat si korban menjadi mimisan, setelah itu si”penembang” akan memuntahkan belatung (sejenis ulat yang memakan mayat atau organ yang sudah busuk), dan si korban menjadi mimisan setelah itu akhirnya si korban akan mati mengenaskan dengan kepala terpelintir. Konon ritual yang sama akan terjadi bila tembang jawa ini dinyanyikan, nyanyi - mimisan - belatung - mati mengenaskan.
Bersahabat dengan mahluk halus atau disini dengan kuntilanak, mengacu pada seseorang yang mengikat tali persahabatan dengan mahluk halus atau kuntilanak. Dalam hal ini tujuan memelihara kuntilanak adalah untuk memperoleh sesuatu entah itu membalas dendam, memperoleh pesugian yang erat kaitannya dengan cara”memperlancar” usaha atau bisnis yang sedang dijalani.
Persahabatan dengan mahluk halus ini juga dikenali sebagai saka Mereka yang bersahabat dengan mahluk halus ini perlu mematuhi beberapa syarat seperti ada yang meminta persembahan makanan, ada yang perlu dibakar kemenyan setiap waktu tertentu, dan ada yang tidak mengenakan syarat apa-apa, atau dengan melaksanakan ritual tertentu.


B. Pocong
1.Deskripsi
Penampakan hantu pocong di pekuburan Bungur, Jalan MH Thamrin Cikokol, Kota Tangerang, persis di depan kantor Kelurahan Cikokol, Rabu (26/7) petang, membuat heboh warga Tangerang. Seribuan orang memadati areal pekuburan tersebut untuk melihat pocongyang katanya bergelantungan di dahan pohon beringin yang tumbuh di areal pekuburan itu.
Akibat kerumunan massa, arus lalu lintas di Jalan MH Thamrin dari Kota Tangerang ke arah Serpong macet total hingga berjam-jam. Puluhan polisi lalu lintas dari Polrestro Tangerang dan petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Tangerang yang disebar di sepanjang jalan, tak mampu mengatasi kemacetan.
Geger hantu itu bermula dari munculnya kabar tentang penampakan hantu pocong yang terbang dari pepohonan di areal pekuburan menuju gedung SDN 01-02 Cikokol yang berada di depan areal pekuburan. Keberadaan hantu tersebut terlihat oleh beberapa siswa SDN Cikokol yang tengah berjalan pulang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
Kabar tentang penampakan hantu itu segera tersiar ke perkampungan di belakang areal pekuburan. Ratusan warga yang penasaran segera mendatangi kuburan itu guna menyaksikan wujud hantu tersebut. Beberapa orang warga mengaku sempat melihat hantu itu bergelantungan di dahan pohon beringin. "Saya lihat sendiri hantu itu bergelantungan di pohon. Hantu pocong itu bukan cuma satu, tapi banyak. Mereka terbang dari pohon ke pohon lalu menghilang," ujar Anwar, warga Kampung Sembung yang mengaku melihat hantu pocong itu.
Cerita Anwar dan beberapa warga kampung lainnya yang mengaku sempat melihat hantu pocong itu, makin membuat warga penasaran. Ratusan orang terus berkerumun di depan areal pekuburan menunggu kedatangan hantu itu. Kerumunan warga menarik perhatian ratusan pelintas yang ikut-ikutan nimbrung. Beberapa orang pemilik handphone berkamera terlihat mengarahkan lensanya ke arah pohon beringin. "Hantu pocong itu nggak bisa terlihat dengan mata telanjang. Tapi sosoknya bakal tertangkap jika dibidik lewat kamera," ujar seseorang memberitahu.
Apa penyebab penampakan hantu pocong itu. Menurut seorang warga Kampung Kelapa bernama Kopral, hantu dari areal pekuburan itu ke luar dari persemayamannya setelah seorang pertapa asal Jawa Timur menyelesaikan semedinya di kuburan itu. "Pertapa itu sudah sembilan hari bersemedi di bawah pohon beringin. Tadi siang dia selesai bertapa dan langsung menghilang. Berbarengan dengan itu, beberapa hantu pocong ke luar dari tempatnya karena diperintahkan sang pertapa," kata Kopral. Hingga pukul 20.30, ratusan warga masih terus berkerumun di sekitar pekuburan Bungur.

Penggambaran pocong bervariasi. Dikatakan, pocong memiliki wajah berwarna hijau dengan mata yang kosong. Penggambaran lain menyatakan, pocong berwajah rata dan memiliki lubang mata berongga atau tertutup kapas dengan wajah putih pucat. Mereka yang percaya akan adanya hantu ini beranggapan, pocong merupakan bentuk protes dari si mati yang terlupa dibuka ikatan kafannya sebelum kuburnya ditutup. Selain itu, pocong sering dinamai dengan hantu bungkus. Hantu bungkus atau juga dikenali sebagai hantu punjut, merujuk kepada sejenis makhluk yang berbentuk seperti mayat yang dibungkus dengan kain kafan.
Hantu bungkus sering dikatakan mengusik orang yang lemah semangat, dan akan bergerak dengan meloncat seperti hantu cina, atau bergoleh. Ia dikatakan mampu bergerak sepantas kereta, bergerak seiring dengan kereta yang dipandu oleh mangsa udikan merek Status : Hantu bungkus tidak dipelihara dan terdapat secara bebas. Kelebihan mereka yang berani menangkap hantu bungkus dikatakan mampu mendapat kekayaan yang banyak. Ini kerana dikatakan, dalam bungkusan tersebut terdapat wang yang banyak.

.2. Kepercayaan penangkalan
Meskipun pocong dalam film sering digambarkan bergerak melompat-lompat, mitos tentang pocong malah menyatakan pocong bergerak melayang-layang. Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat. Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu dimasyarakat. Kepercayaan akan adanya hantu pocong hanya berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Walaupun penggambarannya mengikuti tradisi muslim, umat beragama lain pun ternyata dapat mengakui eksistensi hantu ini.
Menurut kepercayaan masyarakat, hanya ada 2 cara untuk melepaskan diri bila dikejar oleh pocong. cara pertama adalah bersetubuh dengan bumi atau yang biasa disebut tiarap sedangkan cara kedua adalah jalan berkelok-kelok layaknya cacing. Kedua cara ini diyakini sangat efektif oleh masyarakat diberbagai daerah.
3. Budaya popular
Pocong sering kali mewarnai cerpen atau roman bertema misteri. Dalam sinema nasional Indonesia bergenre horor, pocong bahkan sering kali dihadirkan. Beberapa bahkan menggunakannya sebagai judul.
Dalam parade ogoh-ogoh sebelum perayaan Nyepi di Bali, umpamanya, wujud pocong kerap diwujudkan, biasanya oleh kelompok masyarakat non-Hindu. Kepercayaan akan sosok yang satu ini membawanya hadir kedalam layar lebar. Film yang sudah dirilis menggunakan sosok ini diantaranya "Pocong" pada tahun 2005, "pocong2" pada tahun 2006, "pocong3" pada tahun 2007, dan 40 Hari Bangkitnya Pocong.
4. Cerita yang berkembang dalam masyarakat
Penampakan hantu pocong di pekuburan Bungur, Jalan MH Thamrin, Cikokol, Kota Tangerang, persis di depan kantor Kelurahan Cikokol, Rabu (26/7) petang, membuat heboh warga Tangerang. Seribuan orang memadati areal pekuburan tersebut untuk melihat pocong yang katanya bergelantungan di dahan pohon beringin yang tumbuh di areal pekuburan itu.
Akibat kerumunan massa, arus lalu lintas di Jalan MH Thamrin dari Kota Tangerang ke arah Serpong macet total hingga berjam-jam. Puluhan polisi lalu lintas dari Polrestro Tangerang dan petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Tangerang yang disebar di sepanjang jalan, tak mampu mengatasi kemacetan.
Geger hantu itu bermula dari munculnya kabar tentang penampakan hantu pocong yang terbang dari pepohonan di areal pekuburan menuju gedung SDN 01-02 Cikokol yang berada di depan areal pekuburan. Keberadaan hantu tersebut terlihat oleh beberapa siswa SDN Cikokol yang tengah berjalan pulang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
Kabar tentang penampakan hantu itu segera tersiar ke perkampungan di belakang areal pekuburan. Ratusan warga yang penasaran segera mendatangi kuburan itu guna menyaksikan wujud hantu tersebut. Beberapa orang warga mengaku sempat melihat hantu itu bergelantungan di dahan pohon beringin. "Saya lihat sendiri hantu itu bergelantungan di pohon. Hantu pocong itu bukan cuma satu, tapi banyak. Mereka terbang dari pohon ke pohon lalu menghilang," ujar Anwar, warga Kampung Sembung yang mengaku melihat hantu pocong itu.
Cerita Anwar dan beberapa warga kampung lainnya yang mengaku sempat melihat hantu pocong itu, makin membuat warga penasaran. Ratusan orang terus berkerumun di depan areal pekuburan menunggu kedatangan hantu itu. Kerumunan warga menarik perhatian ratusan pelintas yang ikut-ikutan nimbrung. Beberapa orang pemilik handphone berkamera terlihat mengarahkan lensanya ke arah pohon beringin. "Hantu pocong itu nggak bisa terlihat dengan mata telanjang. Tapi sosoknya bakal tertangkap jika dibidik lewat kamera," ujar seseorang memberitahu.
Apa penyebab penampakan hantu pocong itu. Menurut seorang warga Kampung Kelapa bernama Kopral, hantu dari areal pekuburan itu ke luar dari persemayamannya setelah seorang pertapa asal Jawa Timur menyelesaikan semedinya di kuburan itu. "Pertapa itu sudah sembilan hari bersemedi di bawah pohon beringin. Tadi siang dia selesai bertapa dan langsung menghilang. Berbarengan dengan itu, beberapa hantu pocong ke luar dari tempatnya karena diperintahkan sang pertapa," kata Kopral. Hingga pukul 20.30, ratusan warga masih terus berkerumun di sekitar pekuburan Bungur.

Hantu Alat Kontrol Sosial

Perbincangan masyarakat dan para ahli mengenai maraknya tayangan mistik (khususnya makhluk halus) di berbagai media massa di Indonesia kian hari-kian terasakan. Tua muda, besar kecil, laki perempuan ramai memperbincangkan bagaimana ngerinya wajah seorang perempuan tanpa raut muka yang beberapa waktu lalu ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta dalam acara uji nyali, atau banyak yang bergidik ngeri ketika menyaksikan tingkah polah seorang laki-laki yang kerasukan karena melanggar pantangan untuk tidak mengencingi pohon besar. Dan masih sangat banyak lagi kesaksian lain yang senada. Sampai-sampai banyak kalangan yang menghimbau agar tayangan-tayangan yang berbau mistis dan sejenisnya dienyahkan dari layar kaca. Padahal program-program tersebut memiliki segmen pasar yang cukup menjanjikan terlihat dari semakin menjamurnya program sejenis dan banyaknya pemasang iklan yang masuk.
Perdebatan mengenai makhluk halus sebenarnya bukan masalah yang baru di Indonesia, bahkan di dunia. Tulisan-tulisan maupun kajian ilmiah tentang makhluk gaib ini telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan terutama kalangan Antropolog, sebut saja Malinowski dengan etnografi Suku Trobriannya yang menyangkutkan makhluk halus dengan perdagangan Kula, atau kerelaan orang Jawa untuk hidup berdampingan dengan memedi (makhluk halus) seperti yang ditulis Clifford Geert the Religion of Javanya. Bahkan sebagian orang Indonesiapun telah melakukan perhatian terhadapnya meski mayoritas belum masuk dalam tataran ilmiah. Karena pada umumnya lebih suka berpolemik tentang ada atau tidaknya para hantu tersebut di dunia ini.
Dunia makhluk halus sering dianggap sebagai masalah kuno dan sebagai sisa-sisa kebudayaan kuno. Karena hampir pada setiap penjelasannya sulit diterima dengan akal sehat. Seperti kemampuan mereka menembus tembok tebal, kemampuan menghilang tanpa bekas, masuk ke dalam tubuh seorang dukun, atau kemampuan bertengger di puncak dahan. Anggapan yang tersebut dikarenakan akal pikiran manusia belum mampu menembus fenomena alam yang demikian dalam. Untuk menjelaskan fenomena tersebut sangat dibutuhkan pemahaman sosial budaya secara kontekstual dan spiritual yang baik. Hal ini sebagai akibat dari selalu terpenjaranya manusia ke dalam paham materialisme yang sering menjerumuskan.
Dari kacamata budaya kita bisa melihat bahwa makhluk halus memiliki posisi sosial yang cukup penting. Di dalam kisah penampakan makhluk halus, misalnya, sebenarnya sarat dengan makna dan fungsi sosial. Makhluk halus bukan hanya sekedar sesuatu makhluk jahat yang senang mengganggu manusia, suka merasuki tubuh manusia, hingga menyebabkan seseorang maninggal dunia atau bukan pula sesosok makhluk baik yang bisa dipekerjakan untuk membantu memperbaiki mobil penyok, membantu mengumpulkan kekayaan (mencuri uang), atau diperintah menjadi satpam di rumah. Meminjam istilah Geertz bahwa perilaku-perilaku tersebut menunjukkan sebuah kemenangan manusia atas alam sehingga manusia bisa berbuat seenak perutnya sendiri.
Di luar masalah itu, kalau dicermati secara seksama kish-kisah penampakan para mahluk halus selalu memiliki pola yang sama yaitu selalu berkaitan dengan tempat sepi, gelap, kotor, dihuni oleh jenis-jenis makhluk tertentu, serta selalu mengganggu orang-orang yang nakal maupun iseng.. Dari kondisi tersebut bisa dijelaskan bahwa paling tidak ada dua posisi strategis makhluk halus dalam kedudukan sosial manusia. Pertama adalah sebagai alat rekonstruksi sosial. Kehidupan manusia masa lalu berusaha dihadirkan kembali melalui peristiwa-peristiwa yang sangat unik. Kita mungkin pernah meyaksikan atau mendengar sebuah benteng perjuangan, pabrik gula yang tidak berfungsi, atau sebuah rumah tua yang dijadikan tempat tinggal para makhluk halus Londo. Dimana pada waktu-waktu tertentu para makhluk tersebut menyambangi manusia yang kebetulan melintas didekatnya dengan membawa atribut keLondoannya. Atau barangkali kita juga tidak pernah mendengar bahwa ada drakula maupun vampir yang berkeliaran di wilayah Indonesia. Belum pernah juga ada hantu pocong yang bergentayangan di Amerika. Sehingga dapat dikatakan bahwa makhluk halus memiliki wilayah sosial tertentu yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain bahwa hantu-hantu yang ada merupakan ciptaan dari masyarakat yang mendiaminya. Di kompleks candi Borobudur pada malam-malam tertentu orang akan mudah menemui hantu uwil-uwil (bala tentara Budha), di sekitar kali Code kita akan mudah menemui cerita tentang hantu Lampor (iring-iringan pasukan berkuda), atau di tempat bekas terjadi kecelakaan akan beredar cerita tangisan yang sangat menyayat hati pada malam-malam tertentu.
Kedua adalah sebagai alat kontrol sosial. Keeksistensian para hantu saat ini juga sangat tergantung dari peran masyarakat. Masyarakat merasa perlu menjaga kehidupan mahkluk halus karena membutuhkan peran mereka dalam menjaga keseimbangan sistem-sistem nilai yang berlaku. Terutama pada saat ini ketika sudah banyak sekali pranata-pranata dan nilai-nilai sosial yang dilanggar manusia. masyarakat perlu membentenginya agar kerusakan yang terjadi paling tidak bisa dihambat. Merebaknya kasus prostitusi di berbagai wilayah di Indonesia berusaha disindir oleh masyarakat dengan menghadirkan makhluk halus yang bernama kuntilanak. Diamana kuntilanak divisualisaikan sebagai sesosok wanita yang sangat cantik dan menggairahkan berjalan sendirian di tempat yang sepi kemudian serta merta berubah menjadi nenek-nenek reyot ketika hendak diajak berbuat zina seorang lelaki. Atau upaya masyarakat yang berusaha mempertahankan keberadaan sebuah hutan dilakukan dengan menghembuskan sebuah makhluk penunggu yang mendiami hutan tersebut dan akan marah apabila akan ditebang. contoh lain adalah hantu Kemanag-mang di Indramayu. menurut saya fungsi hantu tersebut adalah sebuah bentuk kontrol sosial agar masyarakat di wilayah pesisir pantai utara tidak merusak tanaman bakau. sehingga wilayah tersebut tetap asri dan abrasi tidak menyerang penduduk tersebut.
Banyak orang yang mengingkari keberadaan makhluk tersebut, namun banyak pula yang mempercayai bahwa makhluk halus benar-benar ada. Pada saat ini melalui pengkisahan kembali terhadap peristiwa-peristiwa perjumpaan dengan para makhluk halus, atau melalui pemvisualisasian dalam berbagai media elektronik, wacana makhluk halus mulai berusaha diungkapkan kembali. Betapa banyaknya media massa di Indonesia yang menyediakan ruang khusus untuk pemuatan berbagai opini tentang makhluk halus. Secara sadar maupun tidak media-media massa ini ikut berperan dalam terjaganya sistem masyarakat yang ideal.
Terlepas dari nilai-nilai dan hukum-hukum yang berlaku dalam Agama. Bahwa keberadaan makhluk halus disekitar kehidupan manusia karena memang makhluk-makhluk tersebut sengaja diciptakan oleh masyarakat. Keberadaan makhluk halus merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Penciptaan ini dimaksudkan agar tatanan nilai dan norma yang ideal pada suatu masyarakat kelangsungannya dapat terjamin dengan baik. Dengan kata lain makhluk halus diciptakan sebagai rambu-rambu sosial yang wajib di taati oleh siapapun.
Akhirnya, maraknya tayangan mistis di berbagai media massa sebaiknya disikapi dengan pemahaman sosial yang baik dan dilandasi dengan keimanan yang kuat agar kita tidak terjerumus kedalam kesesatan. Informasi yang muntahkan media massa sebaiknya tidak dimaknai sebagai ajakan untuk berbuat menyimpang dari kodrat alam. Dengan ketebalan iman kepada Yang Kholiq kita tidak perlu khawatir akan dibodohi oleh tayangan-tayangan itu. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Tembang Lir-Ilir

Tembang Lir-ilir merupakan lagu yang tidak diketahui umurnya ini sudah dari sejak dulu berkembang di tanah Jawa sejak dulu. Ada yang menyatakan bahwa tembang ini diciptakan oleh wali songo. Untuk memudahkan dalam menyebarkan agama islam kala itu. Temabang ini terkesan sangat sederhana namun sarat akan makna. Tembang ini sering dipakai masyrakat jawa. Dari mulai ritual ke agamaan sampai ritual kejawen. Tembang ini mengandung banyak misteri. Yang belum terkuak sampai saat ini.. Berikut ini adalah lirik tembang lir-ilir berserta terjemahannya:
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang yang sarat yang makna ini akan saya jabarkan setiap baris dari tembang tersebut. Berikut penjabarannya:
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa yaitu Ruh dari kesadaran Pikiran. Terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak.Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Yaitu: (dua kalimat) syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa. Namun, bagi cah angon yang taat, perintah Allah untuk memanjat blimbing tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. Pada zaman WaliSongo dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan iman Islam oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
Lagu lir-ilir terbukti bahwa tembang ini bukan tembang mainan bisa tembang yang mengungatkan manusia saat itu bahwa manusia sepantasnya kembali keajaean yang benar. Yaitu ajaran islam. Ajaran yang arif. Mungkin berabad-abad yang lalu lagu ini digunakan dalam menyebarkan agama islam ditanah Jawa. Yang samapai sekarang masih saya rasakan


Tembang Lir-ilir merupakan lagu yang tidak diketahui umurnya ini sudah dari sejak dulu berkembang di tanah Jawa sejak dulu. Ada yang menyatakan bahwa tembang ini diciptakan oleh wali songo. Untuk memudahkan dalam menyebarkan agama islam kala itu. Temabang ini terkesan sangat sederhana namun sarat akan makna. Tembang ini sering dipakai masyrakat jawa. Dari mulai ritual ke agamaan sampai ritual kejawen. Tembang ini mengandung banyak misteri. Yang belum terkuak sampai saat ini.. Berikut ini adalah lirik tembang lir-ilir berserta terjemahannya:
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang yang sarat yang makna ini akan saya jabarkan setiap baris dari tembang tersebut. Berikut penjabarannya:
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa yaitu Ruh dari kesadaran Pikiran. Terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak.Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Yaitu: (dua kalimat) syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa. Namun, bagi cah angon yang taat, perintah Allah untuk memanjat blimbing tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. Pada zaman WaliSongo dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan iman Islam oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
Lagu lir-ilir terbukti bahwa tembang ini bukan tembang mainan bisa tembang yang mengungatkan manusia saat itu bahwa manusia sepantasnya kembali keajaean yang benar. Yaitu ajaran islam. Ajaran yang arif. Mungkin berabad-abad yang lalu lagu ini digunakan dalam menyebarkan agama islam ditanah Jawa. Yang samapai sekarang masih saya rasakan

Begalan

Upacara pernikahan dalam adat Jawa memiliki banyak keragaman. Selain dengan tata cara Yogyakarta dan Solo yang paling terkenal, di Banyumas, Jawa Tengah, ada satu tradisi dalam pesta pernikahan yang hampir punah yaitu Begalan. Dalam arti Banyumasan, Begalan adalah seni tutur tradisional yang digunakan sebagai sarana upacara pernikahan. Sementara dalam bahasa Indonesia, istilah begalan berarti perampokan.
Sehingga, dalam penggambaran ceritanya, begalan merupakan upaya untuk merampas barang bawaan milik calon pengantin laki-laki. Dalam adat Jawa, calon pengantin laki-laki memang diharuskan membawa barang bawaan berupa peralatan rumah tangga yang disebut 'gawan'. Gawan inilah yang dirampas oleh perampok dalam perjalanan.
Barang bawaan yang diperbutkan adalah Ian, Ilir, Kukusan, kekeb, pedaringan, layah atau ciri, muthu, irus, siwur, pala gumantung, pala pendem, padi, bers kuning, sabetan uang logam, dan wangkring. Setiap barang bawaan memiliki makna tersebndiri yaitu:
a. Ian
Ian adalah alas untuk mendinginkan nasi (angi) terbuat dari bambu berbentuk bujur sangkar. Di dalam begalan alat ini menggambarkan jagad gumelar (makro kosmos) yang memiliki padon papat (empat arah mata angin) yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Manusia yang diberi karunia cipta, rasa, dan karsa harus mampu memelihara jagad gumelar, yaitu alam semesta beserta isinya agar kehidupan di dunia dapat lestari, aman, tenteram dan damai. Bagi masyarakat Banyumas alam semesta merupakan bagian dari kuasa Gusti kang asipat tan kena kinayangapa (tidak dapat digambarkan) yang memiliki kuasa anglimputi alam sakalir (meliputi dunia seisinya). Memelihara dunia dan seisinya merupakan salah satu manifestasi dari rasa tunduk dan patuh terhadap Sang Penguasa Alam.Pemeliharaan jagad gumelar (makro kosmos) juga harus diimbangi dengan pemeliharaan jagad gumulung (mikro kosmos) yaitu batining manungsa (batin manusia). Memelihara jagad gumulung tidak berbeda dengan memelihara jagad gumelar. Apabila batin manusia tidak dipelihara niscaya akan menjadi rusak yang pada akhirnya akan berdampak pada kerusakan dunia. Cara merawat jagad gumulung adalah dengan merawat sedulur tuwa sedulur nom (saudara tua dan saudara muda) yang senantiasa sejalan seiring dengan setiap diri manusia, yaitu kakang kawah adhi ari-ari. Yang dimaksud dengan kakang kawah adalah air ketuban, sedangkan adhi ari-ari adalah plasenta.
b. Ilir
Ilir adalah alat dapur semacam kipas untuk mendinginkan nasi (angi). Alat ini merupakan simbolisasi dari susuhing angin (sarang angin atau sumber angun). Dalam hidup manusia angin memiliki manfaat yang sangat penting. Tanpa angin niscaya tidak mungkin ada kehidupan di dunia ini. Dalam diri manusia untuk dapat hidup di dunia fana sampai dengan menyatu kembali dengan Gusti ada tiga hal penting, yaitu napas, nupus dan tanapas yang tidak lain merupakan bagian dari kodrat Illahi.
c. Kukusan
Kukusan adalah wadah untuk menanak nasi yang berbentuk kerucut. Pada bagian pangkal terdiri atas empat pojok dan bagian ujung (pucuk) satu pokok. Ini melambangkan kadang papat lima pancer (saudara empat lima pusat). Yang dimaksud dengan kadang papat adalah nafsu empat macam yaitu amarah, luamah, supiah, dan mutmainah. Keempat nafsu itu apabila tidak dikendalikan akan dapat merusak tatanan kehidupan dunia. Pengendalinya tidak lain adalah hati nurani yang disebut dengan istilah pancer. Dalam falsafah Jawa keberadaan manusia diibaratkan kreta jaran sakusire. Jasad manusia diibaratkan kereta. Nafsu manusia diibaratkan empat kuda dengan warna merah (amarah), hitam (luamah), kuning (sufiah), dan putih (mutmainah).
d. Kekeb
Bagi masyarakat di wilayah sebaran budaya Banyumas, kekeb adalah sejenis alat dapur berupa tembikar yang digunakan sebagai alat penutup pada saat menanak nasi. Alat ini menggambarkan bahwa dalam hidup bersuami istri masing-masing harus mampu menutup aib pasangannya. Istri harus mampu menutupi aib suami, demikian pula suami harus mampu menutupi aib istri. Hal senada diungkapkan pula oleh Sidam (wawancara:12-10-2001) bahwa kata “kekeb” diambil “keb”-nya yang berarti baik suami maupun istri harus mampu ngrungkebi (menerima dengan tulus) kelebihan dan kekurangan pasangannya. Apapun adanya apabila sudah menjadi suami atau istri maka harus dikukup diraup (disadari sebagai milik dengan penuh tulus dan ikhlas).
e. Pedaringan
Pedaringan adalah alat untuk menyimpan beras yang terbuat dari tembikar. Alat ini mengandung ajaran bahwa wanita sebagai istri harus mampu menjadi pedaringan, yaitu mampu menjadi tempat menyimpan segala macam rejeki yang diperoleh suami. Artinya istri harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar dapat menyimpan penghasilan suami dan mampu nanjakna (membelanjakan) untuk hal-hal positif dan berguna bagi kebutuhan rumah tangga dengan penuh kontrol; tidak terkesan boros. Dalam pandangan masyarakat Banyumas, istri yang berlaku boros sering diibaratkan dengan ungkapan kaya pedaringan bolong (seperti pedaringan bocor) yang berarti wanita yang boros, tidak dapat menyimpan harta benda atau rejeki yang diperoleh suami. Istri yang boros tidak dapat menjadi tempat bersemayam rejeki dari suaminya, karena seberapapun penghasilan yang didapatkan akan “bocor” (habis) untuk hal-hal yang kurang perlu.
f. Layah atau cirri
Layah atau ciri adalah wadah untuk menggerus sambal. Ini memiliki ajaran bahwa seorang yang sudah berkeluarga harus mampu menjadi wadah bagi datangnya berbagai macam omongan orang baik perkataan yang bersifat baik maupun buruk mengenai pasangannya, seperti halnya layah yang mampu mewadahi berbagai macam rasa; ada pedas, asin, manis, dan lain-lain. Apabila mampu mewadahi maka percampuran berbagai macam rasa itu justru akan menjadi rasa yang enak.
g. Muthu
Muthu adalah alat yang lazim digunakan sebagai penggerus untuk membuat sambal. Alat ini terbuat dari batu sehingga mampu memecah beraneka bahan makanan yang keras-keras. Dalam begalan alat ini memiliki makna bahwa seseorang yang menjalani hidup berumah tangga harus senantiasa mampu memecahkan segala macam persoalan yang menghadang. Sekeras atau sebesar apapun permasalahan yang menimpa, maka ia harus mampu memecahkannya sehingga akan terselesaikan dan menjadi kenikmatan hidup tersendiri.
h. Irus
Irus yaitu gayung kecil untuk memasak. Ini menggambarkan bahwa orang yang hidup berumah tangga harus mampu mengolah rasa seperti rasa cinta, bahagia, menderita, sedih, dan lain-lain. Semua rasa itu merupakan sandanganing urip (pakaian dalam hidup) yang senantiasa menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang yang berkeluarga harus senantiasa mersdi (berupaya) agar berbagai macam rasa itu dapat menjadi pelajaran untuk tumbuhnya kedewasaan dalam sikap, tutur kata dan perbuatan.
i. Siwur
Siwur atau gayung) memiliki makna bahwa dalam hidup berkeluarga maupun hidup bermasyarakat orang tidak ngawur. Dalam setiap sesi kehidupan selalu ada aturan main (rule of the game) yang harus dipatuhi agar mampu hidup berdampingan dengan orang lain di lingkungannya. Orang harus tepa slira atau nepak awak (bercermin pada diri sendiri), apabila dicubit merasa sakit maka hendaknya jangan mencubit, kalau difitnah merasa sakit hati maka janganlah memfitnah orang lain, dan seterusnya.
j. Pala gumantung
Pala gumantung atau buah-buahan yang tergantung memiliki makna agar dalam hidup di lingkungan sosial jangan menggantungkan nasib kepada orang lain. Tuhan telah memberi karunia akal dan pikiran adalah untuk berupaya atau ikhtiar dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Oleh karena itu setiap orang harus rela dan mau bekerja keras membanting tulang demi tercukupinya beraneka macam kebutuhan hidup.

k. Pala kependhem
Pala kapendhem atau umbi-imbian yang terpendam di dalam tanah memiliki makna bahwa dalam hidup seseorang harus mampu memendam dalam-dalam rasa sakit hati kepada orang lain di lingkungannya. Rasa dendam tidak akan ada gunanya. Hal terbaik adalah saling memaafkan segala kesalahan atau kekhilafan orang lain kepada dirinya sehingga dapat hidup rukun, tenteram dan damai.
l. Padi
Padi adalah penjelmaan Dewi Sri, yaitu dewi kemakmuran. Agar hidup manusia mencapai kemakmuran maka setiap orang harus mampu ngreksa (merawat) Dewi Sri dalam arti harus bersedia mengolah lahan pertanian hingga dapat menghasilkan bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Secara filsafati padi memiliki sifat semakin tua semakin merunduk. Sama halnya dengan manusia, sudah semestinya semakin tua semakin mengolah batin untuk menundukkan diri terhadap Sang Pencipta dan memiliki sifat rendah hati terhadap sesama hidup.
m. Beras kuning
Beras kuning adalah beras dicampur dengan air perasan kunyit. Ini menggambarkan kemakmuran yang diharapkan dapat dicapai melalui hidup berumah tangga.
n. Sambetan
Sambetan adalah ramuan tradisional yang berguna untuk pengusir roh jahat. Manusia dalam hidupnya jangan sampai dirasuki roh jahat yang dapat mencelakakan baik secara lahir maupun secara batin. Celaka secara lahir bisa dalam bentuk penyakit fisik yang mengakibatkan seseorang tidak dapat mengerjakan tugas dan fungsinya dalam keluarga maupun masyarakat. Adapun sakit secara batin berupa penyakit psikologis yang mengakibatkan ia tidak mampu berbuat kebajikan yang merupakan jalan menuju kehidupan abadi (urip sampurna).
o. Uang logam (koin)
Uang logam menggambarkan rejeki yang harus dicari oleh setiap orang dalam hidup berumah tangga. Hidup itu masih ada tiga hal yang harus disiasati, yaitu ketrampilan, harta benda dan kepandaian. Oleh karena itu setiap manusia harus mencari sebanyak-banyaknya ketiga hal tersebut dengan tidak meninggalkan tujuan utama dalam hidup di dunia.
p. Wangkring
Wangkring adalah alat pemikul yang terbuat dari jenis bambu tali. Ini adalah ajar bagi laki-laki yang dalam membina rumah tangga harus mampu bersikap dan berbuat seperti sifat bambu tali. Bambu ini apabila dibuat menjadi tali sangat kuat, tidak mudah putus. Demikian pula bila dibuat menjadi pikulan (alat pemikul) sangat lentur sehingga tidak mudah patah. Dalam kehidupan orang Banyumas ada ungkapan lemesa kaya tali kakua kaya pikulan yang berarti bahwa seorang pria dalam membina rumah tangga harus mampu bersikap toleran terhadap segala keadaan. Dengan demikian tidak akan sampai terjadi terputusnya hubungan antara suami dan istri
Keseluruhan makna simbolis yang terkandung di dalam pertunjukan begalan di atas pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga macam ajaran dan pepali (larangan) yang diarahkan pada kehidupan yang lebih baik bahkan lebih sempurna yang meliputi: (1) hidup berumah tangga, (2) untuk penetrasi dalam kehidupan sosial, dan (3) pemahaman adanya Tuhan.
Dalam rangka hidup berumah tangga, baik suami maupun istri sebagai generasi muda yang diharapkan dapat hidup aman, tenteram dan bahagia, dibekali sangu (bekal) oleh generasi tua. Dalam pandangan generasi muda dikenal ungkapan belilu tau pinter urung nglakoni (bodoh tapi pernah mengalami, pintar belum melakukan) yang berarti sepandai-pandai generasi muda masih harus tetap mendapat bekal dari generasi muda yang sudah lebih kenyang pengalaman dengan harapan dalam perjalanan hidupnya jangan sampai terhempas ke jalan yang salah. Adapun bekal tersebut antara lain:
1. Suami maupun istri harus mampu menutup aib pasangannya.
2. Istri harus mampu menjadi pedaringan, yaitu mampu menjadi tempat bersemayamnya segala macam rejeki yang diperoleh suami
3. Mampu menjadi wadah bagi datangnya berbagai macam omongan orang baik perkataan yang bersifat baik maupun buruk mengenai pasangannya.
4. Mampu memecahkan segala macam persoalan yang menghadang.
5. Mampu mengolah berbagai macam rasa (cinta, bahagia, menderita, sedih, dan lain-lain) sebagai sandanganing urip (pakaian dalam hidup) yang senantiasa menimpa setiap orang.
6. Mencari sumber penghidupan untuk kemakmuran hidup berumah tangga.
7. Mampu bersikap toleran terhadap segala keadaan agar tidak sampai terjadi terputusnya hubungan antara suami dan istri. Dalam rangka hidup bermasyarakat di lingkungan sosial, kedua mempelai diberi sangu (bekal) sebagai berikut:
1. Dalam hidup berkeluarga maupun bermasyarakat orang tidak boleh ngawur. Dalam setiap sesi kehidupan selalu ada aturan main (rule of the game) yang harus dipatuhi agar mampu hidup berdampingan dengan orang lain di lingkungannya. Orang harus tepa slira atau nepak awak (bercermin pada diri sendiri).
2. Dalam hidup dalam lingkungan sosial orang jangan menggantungkan nasib kepada orang lain.
3. Dalam hidup orang harus mampu memendam dalam-dalam rasa sakit hati kepada orang lain di lingkungannya. Rasa dendam tidak akan ada gunanya. Hal terbaik adalah saling memaafkan segala kesalahan atau kekhilafan orang lain kepada dirinya sehingga dapat hidup rukun, tenteram dan damai.
4. Untuk mencapai kemakmuran hidup setiap orang harus mampu ngreksa (merawat) Dewi Sri dalam arti harus bersedia mengolah lahan pertanian hingga dapat menghasilkan bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Secara filsafati padi memiliki sifat semakin tua semakin merunduk. Sama halnya dengan manusia, sudah semestinya semakin tua semakin mengolah batin untuk menundukkan diri terhadap Sang Pencipta dan memiliki sifat rendah hati terhadap sesama hidup.
5. Orang harus mampu mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Ajaran ketiga adalah tentang pemahaman adanya Tuhan dan alam semesta (ontologi), kedua mempelai diberi sangu sebagai berikut:
1. Jagad gumelar (makro kosmos) yang memiliki padon papat (empat arah mata angin) yaitu timur, barat, utara, dan selatan yang digambarkan melalui ian. Pemeliharaan jagad gumelar (makro kosmos) juga harus diimbangi dengan pemeliharaan jagad gumulung (mikro kosmos) yaitu batining manungsa (batin manusia).
2. Susuhing angin (sarang angin atau sumber angun) yang merupakan ajaran tentang kekuatan alam yang dapat menghidupi manusia yang mengimbas pada tiga hal penting, yaitu napas, nupus dan tanapas yang tidak lain merupakan bagian dari kodrat Illahi.
3. Kadang papat lima pancer yang merupakan nafsu empat macam yaitu amarah, luamah, supiah, dan mutmainah.
4. Adanya kekuatan roh jahat yang memungkinkan menjadi gangguan dalam kehidupan yang dapat mengakibatkan celaka lahir dan batin.
Tradisi yang digelar sebelum acara pokok penanaman pengantin ini dimulai dengan berjalannya calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan. Di tengah jalan, dihadang oleh begal atau rampok dan meminta seluruh barang bawaannya. Tetapi, sang pembawa barang tidak bersedia karena barang-barang itu akan digunakan untuk modal hidup rumah tangga baru.
Sang pembawa menjelaskan kepada perampok barang-barang apa saja yang dibawa. Sambil diselingi humor Banyumasan, sang pembawa menjelaskan juga makna yang terkandung dalam tiap barang bawaan. Misalnya gayung diartikan agar sang calon istri bisa menampung dan berhemat atau kipas yang berarti alat untuk menciptakan suasana sejuk dalam rumah tangga yaitu kesabaran.
Usai menjelaskan kepada perampok, sang pembawa kemudian memukul kendi berisi uang recehan hingga pecah. Uang dan barang bawaan yang itu akhirnya menjadi rebutan pengunjung. Mereka meyakini, kalau barang hasil rebutan itu bisa mendatangkan berkah bagi yang mendapatkannya.

Amanat Adipati Arya Wirasaba

Disebuah desa yang subur, hiduplah seorang gadis remaja yang bernama Nyi Sukesi. Ia gadis yang baik hati dan soleh. Ia adalah putri seorang ponggawa kesultanan pajang bernama Arya Wirasaba. Karena kesetiaannya kepada kerajaan Pajang maka Sultan Hadiwijaya memberinya wilayah yang subur menjadi keadipatian dan Arya Wirasaba dilantik menjadi adipati.
Suatu saat Adipati Wirasaba memperkenalkan istri dan putrinya kepada Demang Jogareka. Di sana Nyi Sukesi diperkenalkan dengan seorang pemuda tampan, yang usianya lima atau enam tahun dari dirinya. Namanya Demas Winangun, putra tunggal Demang Togareka.
Beberapa hari setelah kunjungan itu, keluarga Demang Togareka datang ke rumah Adipati. Mereka bermaksud untuk mendekatkan hubungan Demang Winangun dengan Nyi Sukesi. Dan adipati menyetujui perjodohan itu.
Pada suatu malam Nyi Sukesi mendengar percakapan orang tuanya bahwa ia akan segera menikah. Betapa sedih hatinya mendengar keputusan itu. Ibunya sebenarnya tidak setuju namun keputusan sang adipati tidak dapat diganggu gugat.
Akhirnya Nyi Sukesi menikah dengan Denmas Winangun dengan terpaksa. Ia tetap tidak mencintai suaminya sampai ia boyong ke togareka. Ia tidak memperlakukan suaminya dengan baik. Dan ia tidak mau untuk melayani suaminya yang ia pikir hanya bagaimana caranya ia melarikan diri dari sana.
Pada suatu malam, ia memberanikan diri untuk melarikan diri. Ia berhasil melarikan diri dengan naik kuda.
Sesampainya di rumah ia bertemu dengan ibunya. Ia menceritakan semua kejadian yang ia alami. Ketika ia sedang bercerita tidak sengaja ayahnya mendengar. Adipati wirasaba marah besar mendengar cerita putrinya lalu ia memaki putrinya itu. Akhirnya Nyi Sukesi angkat bicara. Ia mengatakannya “apabila ayah menginginkan kekuasaan yang lebih tinggi mengapa ayah tidak menyerahkan aku ke kerajaan pajang disana aku bisamenjadi abdi dalem sukur-sukur nantinya aku bisa menjadi selir. “Mendengar perkataan putrinya ia terdiam. Lalu ia berkata “benar juga ya”. Istrinya hanya terdiam cemas memikirkan bagaimana bisamenantunya mengetahui hal itu.
Pagi-pagi benar Adipati dan Nyi Sukesi pergi ke kerajaan Adipati Wirasaba membayangkan apa yang akan ia peroleh jika putrinya menjadi abdi dalem, apalagi bila putrinya menjadi selir maka ia akan dipandang semakin terhormat. Ia hanya tesenyum-senyum disepanjang perjalanan.
Di kerajaan pajang mereka langsung menemui Sultan, Adipati Wirasaba memberitahukan maksud kedatangan ia dengan putrinya. Ia mengatakan bahwa ia ingin menyerahkan putrinya untuk menjadi abdi dalem. Adipati berani mengatakan hal tersebut karena ia mengetahu bahwa putrinya masih suci sesuai yang dikatakan putrinya. Sultan Hadiwijaya melihat kepada Nyi Sukesi. Lalu ia menyetujui permintaan adipati. Walaupun dihatinya bertanya-tanya mengapa adipati wirasaba mendadakan menyerahkan putrinya.
Setelah itu, adipati segera meninggalkan kerajaan dengan gembera. Karena kuda yang ditungganginya pada saat berangkat terlalu lelah maka ia mengganti kuda di istal kerajaan. Di sana hanya tersisa satu kuda yang kurang disukai punggawa yaitu kuda dawuk abang. Karena kuda itu terlalu binal dan larinya terlalu cepat. Namun adipati memilih kuda itu karena ia ingin segera sampai di rumah.
Di kediaman Adipati Wirasaba, Denmas Winangun dan Demang Togareka datang kesana. Disana mereka hanya disambut oleh istri adipati saja. Mereka menanyakan apakah Nyi Sukesi datang ke sini dan dimana Adipati Wirasaba sekarang. Dengan terbata-bata istri adipati menjawab bahwa Adipati Wirasaba dan Nyi Sukesi pergi ke kerajaan pajang untuk menyerahkan Nyi Sukesi menjadi abdi dalem.
Mendengar berita itu mereka segera menuju istana. Di sana mereka menyampaikan bahwa Nyi Sukesi putri Adipati Wirasaba yang baru diantarakan untuk menjadi abdi dalem adalah istri dari Denmas Winangun. Mendengar berita itu Sultan Hadiwijaya sangat marah. Ia merasa terhina lalu ia mengutus Sobala untuk membunuh Adipati. Semua hanya terdiam tanpa ada yang berani menentang keputusan itu. Berangkatlah Sobala menyusul adipati.
Dalam perjalanan menuju ke rumah, kuda yang ditunggangi Adipati Wirasaba kelelahan. Ia berhenti di sebuah desa. Ia mengenal pamong desa tersebut. Desa tersebut tidak biasanya sepi. Ia menuju rumah yang bentuknya paling berbeda yaitu “Balai Malang” setelah mengikat kudanya di pekarangan rumah. Ia mengetuk pintu rumah tersebut. Pemilik rumah tersebut heran melihat kedatangan adipati lalu dipersilahkannya masuk. Ia menceritakan bahwa hari Sabtu pahing adalah hari pantangan untuk berpergian di desa kami. Dan adipati mengelak dengan mengatakan bahwa ia bukan orang desa tersebut.
Sementara itu dikerajaan pajang, setelah suasana lebih tenang permaisuri memberi nasihat kepada Sultan. Kalau keputusan sultan tidak terburu-buru mengapa sultan tidak mendengarkan penjelasan dari adipati wirasaba terlebih dahulu. Kemudian sultan merenung ia segera mengutus Wimarmo untuk membatalkan tugas Sobala. Maka berangkatlah Wimarmo dengan cepat.
Di kediaman pamong desa Adipati Wirasaba diberi jamuan berupa minuman segar dan goreng daging angsa. Ia menyantap jamuan tersebut dengan lahap sambil berbaring meluruskan pinggang, atau dengan sikap “geluk geger”. Tiba-tiba kuda Dawuk Abang meringik. Ada sosok bayangan di depan itu yang adipati kenal. “Oh kamu Sobala? Kata Adipati. Sobala hanya terdiam sambil mencabut keris. “Maafkan saya adipati saya hanya melaksanakan tugas.”Sambil menusukkan keris ke tubuh Adipati Wirasaba “Jangan” Kata seseorang yang berada di didepan pintu. “Apa maksudmu Wimarmo kata Sobala. “Sultan Hadiwijaya menyuruhku untuk membatalkan tugasmu, Kata Wimarmo, “apa” Sobala kaget.
“sudahlah ini mungkin sudah menjadi takdirku” kata adipati. Lalu ia mengatakan ke dua orang tersebut agar pesan yang diucapkan adipati wirasaba disampaikan kepada keluarga, sahabat, kerabat serta keturunan adipati wirasaba. Pesan itu berbunyi “Janganlah melakukan perjalanan pada hari sabtu pahing lalu bila melakukan perjalanan. Janganlah singgah di rumah yang berbentuk “Balai Malang”. Dan ……….. bila memakan goreng daging angsa, janganlah sambil berbaring dengan sikap “Ngeluk geger”. Bila pesanku dilanggar, niscaya kan mengalami nasib seperti ku ini ……..!”
Sobala dan Wimarmo berpandangan, lalu keduanya berjanji akan menyampaikan hal tersebut. Adipati Wirasaba tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya. Sejak saat itu banyak warga Banyumas mempercayai pesan tersebut