Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Bibir dalam Pispot

Cerita “Pistot” menceritakan tentang pengalaman Tokoh Aku. Pengalaman tersebut terjadi saat Tokoh Aku berada di pasar. Tokoh Aku di gambarkan oleh penulis dengan karakter yang jujur ia menunjukan siapa yang menjadi penjambret di pasar tersebut. Dan ia mau dijadikan sebagai saksi dan mengatakan yang sebenarnya. Selain itu Tokoh Aku juga digambaerkan sebagai tokoh yag pemberami dan cerdas. Karena ia berani dan berhasil merayu tersangka untuk meminum obat pencahar. Yang sebelumnya tersangka tersebut menolak untuk meminumnya. Berikut kutipannya:
“sekarang Cuma kita berdua saja di ruang ini. Ada suatu hal yang ingin kukatakan kepada mu.” Aku mulai meyakinkannya. “ kalau dalam waktu dekat kau tidak mengeluarkan kalung itu, mereka akan mengoperasimu!” aku bergeser mendekat kepadanya.”
Dari kutipan di atas tokoh aku memiliki siasat yang cerdas untuk membujuk Tersangka. Agar meminum obat pencahar dengan cara menakut-nakuti tersangka. Selain itu, Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik dan bertanggaung jawab. Ia merasa bersalah atas penderitaan yang diterima oleh Tokoh Tersangka. Setelah ia dinyakatan tidak bersalah. Ia berusaha meminta maaf kepada Tokoh Tersangka atas apa yang menimpanya. Ia memberikan uang kepada tokoh tersangka. Dan mengantarnya pulang. Berikut kutipannya;
“aku raba uang disakuku. Aku beri dia uang untuk menebus rasa berdosa pada diriku. Lelaki itu berlinang air matamenerimanya.”
“Kemudian kami sama diam di dalam perjaanan itu. Kemudian dia minta diturunkan di gang tempat tinggalnya. Aku menolongnya samapai keluar. Aku menyalamnya.”
Tokoh Aku benar-benar sangat menyesal karena ia telah membuat Tokoh Tersangka menjadi babak belur dan terlhat lemas karena terlalu banyak membuang air besar akibat obat pencahar.
Tokoh Tersangka digambarkan penulis sebagai penjambret yang licik. Karena setelah ketahuan ia menelan barang bukti apa yang dijambretnya. Berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang terges.”
Dari kutipan di atas Tokoh Tersangka dapat berpikir cepat untuk menghilangkan barang bukti. Namun, ia tetap dapat dikelabui oleh Tokoh Aku sehingga ia mau menelan obat pencahar. Tetapi kelicikan itu dikeluarkan lagi oleh penulis melalui penuturan Tokoh Tersangka yang mengaku telah menelan kembali. Berikut kutupannya:
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.”
Dari pengakuan di atas Tokoh Tersangka mengakui perbuatannya. Dan ia menyesal melakukan perbuatan itu. Ia malah meminta kepada Tokoh Aku untuk dihukum. Dan ia menjelaskan mengapa ia meakukan perbuatan itu. Berikut kutipannya:
“Bapak orang baik. Hukumlah saya.” Dia raba uang yang telah saya beri itu di dalam saku bajunya. Dia mungkin hendak mengembalikannya.”
Cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggunkan kata ganti aku. Tokoh Aku dalam cerpen ini adalah mewakili penulis karena cerpan ini terinspirasi dari pengalan penulis seperti yang dituturkannya pada proses lahirnya cerpen.
Cerpen ini menggunakan alur campuran karena terdapat bagian mengulang kejadian yang sudah terjadi berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang tergesa.”
Cerpen ini menggunakan latar tempat yaitu pasar dan kantor polisi. Sedangkan latar suasana sangat mempengaruhi jalan cerita cerpen ini karena penulis serusaha mengambarkan apa yang dirasakannya pada saat mengalami pengalaman itu. Yaitu membuat pembaca bergidik. Berikut beberapa kurtipan mengenai suasana:
“kamu beri kepada temanmu?”
“tidak.”
“dia tidak bisa berkata lain selain: tidak!” mereka mulai tidak sabar.” Siksa!” (halaman 13)
“cukup! Itu sudah cukup!” bentak kepala pemeriksa “ (halaman 14)
Dari gambaran di atas terlukis suasana tegang yang menimpa Tokoh Tersangka. Selain itu penulis menggambarkan apa yang ia lihat dan membuat pembaca bergidig.
“Belum keluar! Baru biji-biji kedele rupanya dia makan tempe!”
Dia keluar membawa pispot dan seorang menyambutnya dan membersihkannya di lubang pispot.” (halaman 18)
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.” (halaman 21)
Cerpen ini membahas tentang kebaikan hati dari Tokoh Aku. Ia berusaha menolong seseorang yang tidak ia kenal. Dan ia tetap menolong orang yang dia ketahui telan menjambret kalung seorang wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar