Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Gugatan Saman

Gugatan Saman
Novel ini merupakan gugatan terhadap Tuhan yang ingin dilontarkan penulis melalui tokoh Wisanggeni atau Saman. Yang mungkin saja merupakan refleksi dari kegelisahan penulis mengenai pegangan hidup yang ia pakai. Yang selama ini ia bertanya-tanya adakah Tuhan sebenarnya?
“Dan ia amat sedih karena Tuhan rupanya tidak ada. Kristus tidak menebusnya sebab ia kini berada dalam jurang maut, sebuah lorong gelap yang sunyi mencekam, dan iadalam proses jatuh dalam sumur yang tak berdasar.” [Hlm. 102]
Jauh dari bayangan, saya bisa membaca teks sastra yang kenal pada Deni Manusia Ikan. Pada halaman 13 naskah (novel) Saman tertulis: manusia ikan - ia masih menyimpan komik itu hingga sekarang, meskipun tak berhasil memperoleh akhir ceritanya.'' Membaca kalimat itu saya merasa gembira yang aneh: Saman -- novel karya Ayu Utami pemenang pertama Sayembara Penulisan Roman.
Bahasa prosa Saman sungguh menyegarkan. Bahasa Indonesia dalam Saman tak tampil luhung dan angkuh. Kehebatan bahasa dalam Saman terletak pada kemampuannya untuk menampung wacana sosial-budaya-filsafat terkini serta dinamika kenyataan kontemporer, sambil tetap jernih dan mengalir lincah.
Memang, ada kata yang tak banyak diakrabi orang (seperti ''laut lapis lazuli'' atau ''selarit matahari'') atau nama-nama asing (seperti Seurat), tapi kehadiran mereka tak mengganggu, malah (walau mungkin tak dimengerti, tapi) menambah keindahan bunyi. Bersastra memang tak mesti berangker-angker.
Keistimewaan Saman memang kemampuannya untuk bercerita tanpa beban -- ia hanya asyik bercerita. Bahkan, ketika ada selipan- pemikiran diskursif, tentang Tuhan, agama, negara, hubungan antarmanusia (khususnya seks), ia tak terasa berkhutbah. Ia enteng saja merangkum ikon-ikon generasi Orde Baru (generasi yang terlahir dan besar selama Orde Baru, yang dibuai kelimpahan materi dan informasi dan dihegemoni Pembangunanisme) semenjak Deni manusia ikan, mie pangsit hingga internet, mencampurbaurkan dengan kisah-kisah injil, wacana diasforik (tanpa tapal batas), dan angst generasi X plus sebuah kisah magis yang amat kuat di bagian
“Lalu cinta menjadi sesuatu yang salah. Karena hubungan ini tidak tercakup dalam konsep perkawinan. Ia sering merasa berdosa pada istrinya, sehingga suatu hari saya merasa kesal sebab beberapa kali ia membatalkan janji karena rasa bersalahnya.” [Hlm. 26]
“Dan saya akan membalasnya dengan gemas sampai tak sanggup menahan lagi. Barang kali, kami melakukannya di taman ini, di sini di bangku sebelah gelandangan yang tidur nyenyak, di antara biji-biji kitiran yang diterbangkan angin. Kami melakukannya tanpa melepaskan seluruh pakaian, sebab hari ini masih terlalu dingin untuk talanjang. Setelah itu, mengulanginya di kamar hotel, tanpa berlekas-lekas, di mana kulit saya bisa menikmati kulitnya, dan kulitnya menikmati kulit saya.” [Hlm.30]
Di sisi lain, kesepian justru menegas. Kegairahan melanggar tabu, apalagi tabu terhadap Tuhan dan tabu seks, agaknya kini adalah jalan pintas untuk menghasilkan teks yang kuat dan menggoncang. Tapi, apa susahnya sih, di jaman sengkarut kini, untuk kehilangan kepercayaan pada yang sakral? Ketika Wisanggeni atau Saman mengalami betapa biadabnya pembangunanisme, kok enak amat ia begitu segeranya menyalah-nyalahkan Tuhan. Seakan tak ada upaya dari Saman, dan tokoh-tokoh lain, untuk berdialog tuntas dengan keimanan. Seakan Saman dimulai dengan apriori terhadap keimanan, meletakkan iman sejak awal dalam posisi lemah.
Saya tak hendak nyinyir. Tabu kadang memang perlu dilanggar. Saya amat menyukai pelanggaran tabu terhadap ''kesucian'' Negara dalam Saman -- khususnya karena belakangan ini kinerja Negara Orde Baru memang amat tak memuaskan. Saya cuma merasa tak sepenuhnya terwakili oleh Saman, khususnya pada bagian-bagian yang mendesakralkan Tuhan dan seks. Saya sering juga mendengar cerita (lisan) tentang orang-orang yang mengalami kekerasan Negara, kekerasan hidup, dan toh semakin santun pada Tuhan. Mereka bukannya tak pernah ragu atau gelisah. Tapi mereka selalu sungguh-gungguh mencoba memenangkan iman. Rasanya mereka pun menarik untuk diceritakan.
“Wis menoleh dengan dahi semakin berkerenyit dengan tegang ia mendengarkan lelaki tadi bercerita. Anson yakin bahwa pemerkosa itu adalah salah satu terror dari orang-orang yang hendak merebut lahan itu.” [Hlm. 88]
“Lalu mereka berbicara sigkat saja.” Kami menjalankan tugas dari Bapak Gubernur.” Salah satunya mengacungkan selembar kertas berkop pemda, tapi tidak menyerahkan kepanya Anson. “Menurut SK beliau tahun 1989, lokasi transmigrasi Sei Kumbang ini harus dijadikan perkebunan sawit.” [Hlm.90].
Nama Saman adalah bentuk pemberontalan yang ingin ditunjukan oleh penulis. Karena pengalaman hidup Wisanggeni yang tadinya taat terhadap agamanya. Menjadi sosok yang benci terhadap agama dan mengubah nama menjadi Saman. Saman sendiri merupakan nama yang dipakai oleh tokoh Komunis.
“Seorang perwira Puspen ABRI pernah menyebut namanya, Saman, pun sudah terasa kiri, seperti nom de guerre orang-orang komunis, terdiri dari dua suku kata: Lenin, Stalin, Hitler, Trotsky, Nyoto, Nyono, Aidit, (Saman)—saya selalu mengira orang Indonesia itu memakai nama pemberian orang tua.” [Hlm. 24]
Selain itu, novel ini memunculkan hubungan yang baik antar pemeluk agama. Hal itu tercermin dari kebaikan hati Wisanggeni yang rela menolong penduduk desa Sei Kumbang. Yang tidak ada hubungan saudara dan berbeda agama. Dan ia menolong mereka secara ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar