Sebuah kebingungan
Apa yang bisa diharapkan dari kehidupan yang serba kecukupan. Tidak ada. Semua hal tiba-tiba begitu mengikat. Begitulah kira-kira keadaan tokoh kita, bekas pelukis yang berhenti menjadi pelukis sejak isterinya meninggal di sebuah pantai, ketika lelaki masih aktif melukis dan tiba-tiba menjadi orang terhormat di kotanya. Ketika itu tokoh kita menjadi asing dengan dirinya sendiri. Tak pernah lagi melukis, kecuali menyebarkan kartu nama ke sana-sini.
Saat itu isterinya, yang ditemukannya saat tokoh kita ingin bunuh diri dan lari dari segala keberuntungan yang menimpanya, justru mulai tak mau di kenali. Sang isteri tak mau disentuh, ditegur, dilihat. Isterinya melakukan protes total dari kehidupan rumah tangga mereka. Mengurung diri dalam kamar. Si suami, alias pelukis kita, menjadi bingung oleh sikap isterinya. Sampai akhirnya, si isteri mengalah pada suaminya yang terus menerus merajuk supaya dikenali lagi. Saat itu juga isterinya mengingatkan bahwa takdir seorang pelukis adalah melukis, bukannya sibuk menyebarkan kartu nama. Begitulah akhirnya, kedua mempelai memilih hidup jauh dari keramaian, jauh dari rumah dinas walikota yang dihibahkan kepada mereka sebagai tanda jasa. Mereka pun memilih hidup di pantai yang sepi, tapi lebih inspiratif, membebaskan sekaligus mendekatkan mereka pada diri masing-masing.
Karya Iwan Simatupang yang ditulis awal '60-an ini memberi tawaran lain, semacam oase di tengah gurun mesin uang kehidupan kota besar. Untuk kaum muda sekalipun, Ziarah begitu menarik ketika mulai membaca dari baris pertamanya sebagai berikut..
”Juga pagi itu,dia bangun dengan rasa yang sama. Bahwa dia bakal bertemu dengan isterinya di salah satu tikungan. Entah, tikungan yang mana.”
Penggunaan tokoh kita itu khas Iwan yang brillian. Penyebutan ini bukannya tanpa kesengajaan.Tujuan Iwan adalah mengajak kita (pembaca) terlibat langsung dengan peristiwa, pikiran, perasaan, ucapan dan perbuatan tokoh-tokohnya, terutama tokoh kita. Alur flashback dan lurus digunakan bergantian. Tokoh-tokohnya sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar soal hidup yang dikemas dengan cara mudah dicerna, menggelitik dan cerdas. Pada akhir novel ini pembaca digelitik buat meneruskan sendiri perjalanan yang diharapkannya bakal terjadi pada tokoh kita. Satu hal yang pasti, mereka yang sudah baca Ziarah tentu mengharapkan tokoh macam Iwan Simatupang masih bisa berkarya lebih banyak lagi.
Novel ini banyak mengajarkan kita tentang kehidupan, bagaimana kita memandang seseorang, dari keadaannya, kehidupan, tingkah laku hingga ucapannya, hikmah yang saya dapat dari novel ini yakni bahwasanya mengajarkan agar kita selalu bersikap bahwa harta bukanlah segala-galanya, kesedihan juga tidak harus selalu ditangisi terus-menerus, hidup dengan kesederhanaan jiwa, jangan suka menambah penderitaan orang lain walau dia tak menunjukkan deritanya itu, jangan hanya memikirkan gengsi diri, jangan semena-mena menyalahkan seseorang dan masih banyak lagi yang lainnya karena, novel ini memang sarat dengan hikmah yang sangat berarti bagi kehidupan kita.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar