"Mataku menatap biru di bawah situ. Laut. Laut yang mencium langit. Ataukah langit yang mencium laut? Tidak ada yang tahu. Aku hanya mendapati ketika mereka tengah berciuman. Biru. Laut biru berombak seakan seluruh tubuhnya ingin menggapai dan menyentuh. Langit dengan biru yang hampir sama seakan hendak jatuh dan menyerahkan diri ke dalam pelukan laut di bawah situ. Mereka serasa satu. Biru. Tidakkah kamu merasa ini haru ?"
“Hening. Angin memainkan pucuk-pucuk rambut kami. Jalanan aspal menurun ini sepi. Tembok bata pembatas di kiri dan kanan jalan buntu ini tidak menyimpan suara di balik sana. Hanya aku dan kamu yang cukup melankolis untuk duduk di sini, melihat ke bawah sana, dan mengiris sunyi dengan bertukar beberapa baris kata. Perahu layar bergerak semakin ke tengah.”
Dari kutipan diatas tergambar susaba yang damai yang terjalinantara biru langit da biru laut. Dan latar tempat dalam cerpen ini adalah jalan aspal yang terletak dipinggir laut. Berikut kutipnnya:
“Aku menunduk, memandang jalan aspal alas kita duduk. Saat aku kembali memandangmu, agaknya ada satu ?mengapa? yang meluncur keluar dari situ sebab matamu memandang ke arah atas melewati kepalaku. Dan dari situ aku mendapati hatimu berkata, ?ah, ayolah..? Satu gumpal udara jatuh terguling dari lubang hidungku. Tapi mata biruku kali ini terlalu keras kepala untuk berlalu.”
Cerpen ini menggunakan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu. Sedangkan sudut pandang cerpen ini menggunkan sudut pandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan emngganakn nam orang sebagi tokoh dalam cerpen ini berkut kutipannya:
“Kamu tidak mengenal kami, o Juliet!" Ujung bibirnya menaik, membentuk segaris senyum menghina. Tapi sebentar...kami? Aku memutar kepalaku ke arah yang berlawanan. Benar sekali, ada empat orang lagi berdiri di tembok pembatas sebelah kiri. Wajah-wajah yang sama menghinanya terpasang di atas tubuh-tubuh yang sama gempalnya. Ada apa ini? "Kamu tidak mengenal kami, tapi kamu akan mengenal dengan baik tangan dan kaki kami, Juliet manis, meski mungkin tak selembut perlakuan Romeo-mu!"
Tokoh Juliet dalamcerpen ini digambarkan sebagi seorang pria yang mengalaipenyimpangan sexual yaitu menyukai sesama jenis. Penulis pada tidak menyebutkan secara langsung bahwa Juliet seorang pria. Namun hal itu terbukti dari kutipan sebagai berikut :
"Julia bukan siapa-siapa. Hanya saja, kita bukan pasangan yang cocok di mata mereka. Membuatku tidak boleh terlihat terlalu bersamamu. Termasuk saat ini."
“ Kusadari itu ketika sebuah perkataan menggedor gendang telingaku tepat ketika pengelihatan dan kesadaran hendak terjerembab jatuh: wahai homo menjijikkan, ternistakanlah kaummu! Aku menutup mataku. Mataku biru. Dan basahnya haru.”
Tokoh Julia digambarkan sebagi tokoh yang setia karena ia tetap menunggu Romeo-nya datang. Berikut kutipannya:
“Pagi yang enggan. Tujuh belas menit aku berada di sini. Angin musim dingin menyelusup masuk pori-poriku bagai hantu. Laut di bawah situ telah berganti baju: abu-abu...dan sedikit bergemuruh. Mataku tetap biru, tidak abu-abu. Mungkin hatiku, entahlah, yang jelas dindingnya menggemakan satu gemuruh yang resah dan sayu. Kamu, di manakah?”
Selain itu Tokoh Julia begitu mencintai Romeonya. Halite terbukti walaupun ia disiksa ia tetap mengingat Romeonya. Berikut kutipannya:
“Suara-suara mereka mengepungku. Laut mengirimkan suara gemuruh, meronta-ronta, seperti aku. Tapi tangan-tangan itu terlalu kuat. Untuk kesekian kalinya tamparan dan kepalan mereka menyapa kulit wajahku. Kurasakan bibir dan hidungku berdarah. Pelipisku robek, darah mengaburkan pandangan. Satu teriakan terlepas dari mulutku ketika sebuah kaki menendang ulu hatiku keras-keras. Untuk sejenak udara tak hanya diisi gemuruh ombak, mengagetkan seekor burung gagak. Kesadaran beringsut ke ambang ada dan tidak. Di manakah kamu, kekasihku?”
Tema dari cerpen ini adalah cinta terlarang. Karena cinta sesame jenis dilarang oleh agama. Cinta antara Romeo dan Juliet dalam cerpen ini memang hamper sama dengan kisah Romeo dan Juliet pada umumnya. Karena orang tu Romeo tidak mengijinkan keduanya bersatu. Namun hal yang berbeda adalah kedua tokoh tersebut adalah pasangan sesama jenis. Dan diakhir cerita penulis menjelaskan bahwa keduanya tidak bisa bersatu seperti langit dan laut. Berkut kutipannya:
“Agaknya kesadaran dan penglihatan bersamaan mencapai pintu keluar, meninggalkan gema denyut jantung seorang diri; sedih. Perlahan aku membuka mata, dan kamu ada di sana. Kudapati kamu di langit putih pucat, memandangku sekilas lalu membuang muka. Ternyata aku terperdaya. Laut biru dan langit biru tidak akan bersatu, tidak pernah bersatu. Mereka hanya bertemu. Langit biru dan laut biru itu haru, karena mereka akan berpisah ketika langit putih pucat dan laut abu-abu”
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar