Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Orang Bernomor Punggung

Cerpen “Orang Bernomor Punggung” menceritakan ketidak tahuan yang berakhir fatal. Dan keikhalasan orang bernomorpunggunf tersebut. Tokoh laki-laki bernomor punggung memiliki sifat patuh dan tidakmau menyusahkan orang lain berikut kutipannya:
“Berbilang tahun ia tinggal di gubuk kecil batas antara kampung dan hutan. Ia sudah beristri pula. Ia persunting seorang gadis kampung. Untuk menghidupi keluarganya ia menjadi pembelah kayu. Tiga hari sekali ia akan mengangkut kayu di dalam hutan. Menumpuknya di dekat perigi yang digalinya sendiri. Seminggu lamanya ia akan membelah gelondongan itu menjadi kayu-kayu kecil, disatukannya dalam ikatan-ikatan kecil sepelukan besarnya. Ia tidak membawanya ke pasar. Tapi orang-orang akan datang ke tempatnya untuk membelinya sebagai kayu bakar.”
Selain itu ia juga memiliki sifat rajin bekerja. Karena ia tidakmau bergantung kepada orang lain. Ia menghidupi istrinya dari kayu bakar yang ia kumpulkan di hutan. Ia juga memiliki sifat yang baik karena suka menolong orang lain berikut kutipannya:
“Ia seorang yang lata. Keluarga si Bernomor Punggung nyaris tak memiliki persoalan tetek-bengek dengan para tetangga yang memang rumah mereka berjauhan. Bukan pula dia tak terlibat dengan pelbagai kegiatan di kampung. Banyak hal yang telah disumbangkannya kepada kampung. Awalnya orang kampung itu tak mengenal sumur. Karena kebiasaan mereka menciduk air yang melarung dari gunung membentuk batang sungai yang membelah kampung mereka. Jernih nian dan melimpah airnya. Tapi jika musim kemarau tiba batang sungai itu akan kering. Dan orang-orang kampung akan mengangkutnya naik-turun sepikulan bambu dari gunung yang berdepa-depa jauhnya. Diperkenalkannya sumur. Digalinya dalam-dalam tanah tandus itu sehingga air jernih menyembur. Diperkenalkannya pula timba dari pelepah pinang yang kedua sisinya dijahit dengan rotan.”
Penulis juga menambahkan watak penyayang pada tokoh laki-laki bernomor punggung. Ia begitu menyayani anak-anak berikut kutipannya:
“Kanak-kanak berkarib baik dengannya. Kadang, jika musim buah-buahan hutan ia akan membawa serta beranting-ranting buah bersama gelondongan kayu. Dibagikannya kepada para karib kecilnya. Pun kanak-kanak itu dibuatkannya mainan dari sisa belahan yang terlampau bagus kalau sekadar dijadikan kayu pembakar. Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.”
Ia juga sosok laki-laki yang ikhals terhadap nasib yang menimpanya. Walaupun itu berhubungan dengan nyawanya sendiri. Berikut kutipannya:
“Dan sungguh si Bernomor Punggung menerimanya dengan ikhlas. Ia tak mengerti kenapa ia harus dibakar. Sama seperti orang kampung tak mengerti kenapa ia tak terkena wabah, dan berajah 81. Dengan kapak di tangan, si Bernomor Punggung duduk di ruang tamu menunggu api yang berjilat-jilat membakar tubuhnya. Perihal rajah si Bernomor Punggung membawanya sampai ajal. Sampai daging tubuhnya berderik, tulang-tulangnya mengertap dipanggang api.”
Sedangkan masyarakat kampong cenderung percaya terhadap tahayul. Dan pengetahuan belum berkembang dengan baik saat itu berikut kutipannya:
"Ia kepergok Pook," kata sang penyembur sirih. Pook adalah roh pemilik hutan. Para wanita yang menyaksikan kejadian itu menyungkup bayi-bayi mereka di kebusungan dadanya, mengucapkan lafaz penolak-bala agar bayi-bayi mereka tak terkena. Dan mereka meninggalkan tempat di mana orang itu dilentangkan --pada sebuah balai dari bambu-- sambil menggiring kanak-kanak.”
Latar tempat secara tersirat banyak menggunakan kampung yang menjadi latardalam cerpen ini. Berikut kutipannya:
“Ia datang ke kampung itu tiba-tiba. Ia datang seperti wabah yang tak hendak kembali. Ia ditemukan oleh para pencari rotan tersungkur di antara pematang tinggi yang mengapit dua ngarai. Ia sepertinya habis menaiki ngarai yang memang curam itu dengan susah-payah." (halaman 14).
"Begitulah orang itu tidak pergi, tapi memilih membangun rumah di batas kampung dengan hutan. Ia membangun sebuah rumah kecil sendiri, dan menolak dengan halus ketika orang kampung ramai-ramai menawarkan tenaga mereka. Ia mengatakan bahwa selama ini orang kampung telah banyak menolongnya.” (halaman 16).
Sedangkan latar Susana penulis menggunakan banyak latar baik suasana menyerampan maupun menggembirakan. Berikut beberapa kutipan suasana:
“Dua puluh satu kali ia sudah memalingkan wajahnya ke belakang. 21 kali pula ia lihat ada barisan raya yang mengejarnya. Dalam lari, dalam dengus nafas yang memberat ia merasakan barisan raya itu kian merapat, tinggal setombak, lalu sedepa, dengan semena menyentakkan ujung bajunya. Merebahkannya. Meringkusnya.
Ia terus berlari. Lewat lubang telinganya yang menyesak ia dengar raung yang menghasut. Lewat pincing matanya ia lihat puluhan anak panah, bukan puluhan, ratusan anak panah menyongsongnya dari belakang. Juga beliung, kapak, dan tombak. Ia bungkukkan badannya serupa babi menyuruk, ia berlari sambil menyujudkan badannya. Menghindari segala serbuan.” (halaman 13).
“Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.” (halaman 18).
“Terdengar sayup isak istri si Bernomor Punggung dengan suluh di tangan yang urung dilemparkan. Seorang bocah memegang erat sebelah tangannya yang lain. Seorang bocah dengan manik mata memerah menyaksikan tumpukan api. Pun kanak-kanak lain dengan manik mata memerah menyaksikan liuk api.” (halaman 20).
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudulpandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan menggunakan nama orang. Berikut kutipannya:
"Terang saja punggungnya berjimat."
Ia Pook!"
"Siapkan pembakaran. Ia titisan wabah," perintah tetua kampung.
"Ia harus dibakar," seru yang lainnya”
Dan alur menggunakan alur maju karena secara keseluruhan seluruh kejadiannya berlangsung secara runtun dan tidak ada bagian yang mengenang masa lalu.
Tema yang diangkat dalam cerpen ini adalah ketidak tahuan. Yaitu ketidak tahuan penduduk kampung kalau penyakit yang mereka derita bukan bersal dari orang bernomor punggung. Dan hal mengapa orang bernomor punggung tidak tertular karena ia telah tertular terlebih dahulu dan ia telah kebal terhadap penyakit tersebut.
Cerpen ini terasa begitu kental nuansa aceh karena latar dan bahasa yang digunakan dalam cerpen ini begitu lekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar