Custom Search
Tampilkan postingan dengan label Resensi Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2009

Senyum Karyamin

Tokoh Karyamin dalan Cerpen “Senyum Karyamin” digamabarkan sebagai orang desa yang miskin. Ia bekerja sebagaipenambang batu di sungai. Penulis mengambarkan karakter Karyamin sebagai seseorang laki-laki yang pantang menyerah ia berusaha terus menerus walaupun ia jatuh samp[ai beberapa kali.berikut kutipannya:
“Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya.”(halaman 1)
Dari kutipan diatas Karyamin pantang menyerah untuk mengankat batu ke atas walaupun ia sudah jatuh dua kali pada pagi itu. Terlebih lagi ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Karyamin digambarkan juga sebagai seorang suami yang bertanggung jawab ia berusaha menafkahi keluarganya. Ia adalah orang miskin yang bodoh. Yang sudah ditipu tengkulak yang membawa batunya. Penulis melukiskan Karyamin sebagai orang desa yang identik dengan kebodohan, kemiskinan dan bersahaja. Penulis menggambarkan kemiskinan tersebut dengan Karyamin yang terbelit oleh banyak utang. Selaina itu ia sendiri tidak mampu untuk mengisiperutnya sendiri. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Karakter tiadak mau merepotkan orang lain ditambahkan penulis sebagai sifat Karyamin. Sebagai mana orang desa yang tahu diri. Karyamin adalah orang yang sabar ia mengahadapi cobaan hanya dengan tersenyum. Karena ia tidak tahu lag harus berbuat apa dengan kesulitan yang ia alami. Penulis menggambarkan senyuman Karyamin sebagai suatu kemenangan atas segala kesuliatan yang menimpa Karyamin. Karyamin juga sangat mencintai istrinya dan ia tidak mau membuat istrinya bersedih atas apa yang menimpanya. Ia tidak mau menambah penderitaan yang sedang dialami istrinya.
Dalam cerpen ini latar alam merupankan hal yang sangat menonjol dalam cerpan ini. Seperti cerpen-cerpennya yang lain Ahmad Tohari sangat kuat dalam menggambarkan latar alam. Lataralam di cerpen ini adalah sebuah kali yang masih asri dan masih dapait diambil batunya. Tidak seperi kali-kali yang ada di kota-kota besar yang kalinya sudah tidak dapat diharapkan lagi karena berwara hitam dan bau. Berikut kutipan latar alam carai cerpen “Seyum Karyamin”:
“Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karuyamin menagkap sesuatu yang bergerak padasebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh si paruh udang.punggugnya biru erngkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah sanga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Degan mangsa diparuhnya mangsa diparuhnya burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap dibalik gerumbul pandan.” (halaman 5)
Penulis benar-benar dengan sangan sangat detail menggambarkan suasana alam yang ada didaerah tersebut. Baik dari kebiasaan burung si paruh udang yang lengkap dengan morfologi burung tersebut. Yang kini sudah jarang ditemui di kota. Penulis juga menggambarkan pedesaan sebag dunia yang jujur dan masih erat sekali rasa saling menolong. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Dari kutipan di atas penulis berusaha melukiskan rasa saling menolong maih sangat lekat di pedesaan. Tidak seperti di kota yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Selain itu penulis benar-benar dengan jelas mengetahui bagai mana cara menganakat batu. Dari tempat yang miring.hal itu menambah kesan benar-benar seperti nyata.
Cerpen “Senyum Karyamin” menggunakan sudut pandang ketiga penulis serba tahu. Karena penulis menggukan Karyamin sebag pelaku utama dan menggukana kata ganti orang ketiga. Penulis juga menggukan gaya bahasa yang sederhana di samaping itu ia juga banyak menggukan majas. Berikut kutipannya:
“Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.” (halaman1)
“lambungnya yang kempongberguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya”(halaman 6)
Sedangkan alur penulismenggukan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu Karyamin. Dan setiap kejadian berlangsung secara runtun.
Agaknya, judul itu sendiri dapat menyuratkan makna yang ingin diangkat dalam cerpen-cerpen di dalamnya. Senyum—untuk kepahitan hidup yang sering mendera Karyamin (wakil dari orang-orang desa yang miskin, yang pinggiran, dan juga yang tersingkir dari masyarakat desa) tanpa mengetahui jalan keluar darinya, dari kepahitan itu. Senyum sebagai lambang dari usaha menerima nasib, bahkan menertawainya, karena apa boleh buat. Dan dalam hampir 13 cerpen, “senyum” itu ada.

Laut Biru Abu

"Mataku menatap biru di bawah situ. Laut. Laut yang mencium langit. Ataukah langit yang mencium laut? Tidak ada yang tahu. Aku hanya mendapati ketika mereka tengah berciuman. Biru. Laut biru berombak seakan seluruh tubuhnya ingin menggapai dan menyentuh. Langit dengan biru yang hampir sama seakan hendak jatuh dan menyerahkan diri ke dalam pelukan laut di bawah situ. Mereka serasa satu. Biru. Tidakkah kamu merasa ini haru ?"
“Hening. Angin memainkan pucuk-pucuk rambut kami. Jalanan aspal menurun ini sepi. Tembok bata pembatas di kiri dan kanan jalan buntu ini tidak menyimpan suara di balik sana. Hanya aku dan kamu yang cukup melankolis untuk duduk di sini, melihat ke bawah sana, dan mengiris sunyi dengan bertukar beberapa baris kata. Perahu layar bergerak semakin ke tengah.”
Dari kutipan diatas tergambar susaba yang damai yang terjalinantara biru langit da biru laut. Dan latar tempat dalam cerpen ini adalah jalan aspal yang terletak dipinggir laut. Berikut kutipnnya:
“Aku menunduk, memandang jalan aspal alas kita duduk. Saat aku kembali memandangmu, agaknya ada satu ?mengapa? yang meluncur keluar dari situ sebab matamu memandang ke arah atas melewati kepalaku. Dan dari situ aku mendapati hatimu berkata, ?ah, ayolah..? Satu gumpal udara jatuh terguling dari lubang hidungku. Tapi mata biruku kali ini terlalu keras kepala untuk berlalu.”
Cerpen ini menggunakan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu. Sedangkan sudut pandang cerpen ini menggunkan sudut pandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan emngganakn nam orang sebagi tokoh dalam cerpen ini berkut kutipannya:
“Kamu tidak mengenal kami, o Juliet!" Ujung bibirnya menaik, membentuk segaris senyum menghina. Tapi sebentar...kami? Aku memutar kepalaku ke arah yang berlawanan. Benar sekali, ada empat orang lagi berdiri di tembok pembatas sebelah kiri. Wajah-wajah yang sama menghinanya terpasang di atas tubuh-tubuh yang sama gempalnya. Ada apa ini? "Kamu tidak mengenal kami, tapi kamu akan mengenal dengan baik tangan dan kaki kami, Juliet manis, meski mungkin tak selembut perlakuan Romeo-mu!"
Tokoh Juliet dalamcerpen ini digambarkan sebagi seorang pria yang mengalaipenyimpangan sexual yaitu menyukai sesama jenis. Penulis pada tidak menyebutkan secara langsung bahwa Juliet seorang pria. Namun hal itu terbukti dari kutipan sebagai berikut :
"Julia bukan siapa-siapa. Hanya saja, kita bukan pasangan yang cocok di mata mereka. Membuatku tidak boleh terlihat terlalu bersamamu. Termasuk saat ini."
“ Kusadari itu ketika sebuah perkataan menggedor gendang telingaku tepat ketika pengelihatan dan kesadaran hendak terjerembab jatuh: wahai homo menjijikkan, ternistakanlah kaummu! Aku menutup mataku. Mataku biru. Dan basahnya haru.”
Tokoh Julia digambarkan sebagi tokoh yang setia karena ia tetap menunggu Romeo-nya datang. Berikut kutipannya:
“Pagi yang enggan. Tujuh belas menit aku berada di sini. Angin musim dingin menyelusup masuk pori-poriku bagai hantu. Laut di bawah situ telah berganti baju: abu-abu...dan sedikit bergemuruh. Mataku tetap biru, tidak abu-abu. Mungkin hatiku, entahlah, yang jelas dindingnya menggemakan satu gemuruh yang resah dan sayu. Kamu, di manakah?”
Selain itu Tokoh Julia begitu mencintai Romeonya. Halite terbukti walaupun ia disiksa ia tetap mengingat Romeonya. Berikut kutipannya:
“Suara-suara mereka mengepungku. Laut mengirimkan suara gemuruh, meronta-ronta, seperti aku. Tapi tangan-tangan itu terlalu kuat. Untuk kesekian kalinya tamparan dan kepalan mereka menyapa kulit wajahku. Kurasakan bibir dan hidungku berdarah. Pelipisku robek, darah mengaburkan pandangan. Satu teriakan terlepas dari mulutku ketika sebuah kaki menendang ulu hatiku keras-keras. Untuk sejenak udara tak hanya diisi gemuruh ombak, mengagetkan seekor burung gagak. Kesadaran beringsut ke ambang ada dan tidak. Di manakah kamu, kekasihku?”
Tema dari cerpen ini adalah cinta terlarang. Karena cinta sesame jenis dilarang oleh agama. Cinta antara Romeo dan Juliet dalam cerpen ini memang hamper sama dengan kisah Romeo dan Juliet pada umumnya. Karena orang tu Romeo tidak mengijinkan keduanya bersatu. Namun hal yang berbeda adalah kedua tokoh tersebut adalah pasangan sesama jenis. Dan diakhir cerita penulis menjelaskan bahwa keduanya tidak bisa bersatu seperti langit dan laut. Berkut kutipannya:
“Agaknya kesadaran dan penglihatan bersamaan mencapai pintu keluar, meninggalkan gema denyut jantung seorang diri; sedih. Perlahan aku membuka mata, dan kamu ada di sana. Kudapati kamu di langit putih pucat, memandangku sekilas lalu membuang muka. Ternyata aku terperdaya. Laut biru dan langit biru tidak akan bersatu, tidak pernah bersatu. Mereka hanya bertemu. Langit biru dan laut biru itu haru, karena mereka akan berpisah ketika langit putih pucat dan laut abu-abu”

Orang Bernomor Punggung

Cerpen “Orang Bernomor Punggung” menceritakan ketidak tahuan yang berakhir fatal. Dan keikhalasan orang bernomorpunggunf tersebut. Tokoh laki-laki bernomor punggung memiliki sifat patuh dan tidakmau menyusahkan orang lain berikut kutipannya:
“Berbilang tahun ia tinggal di gubuk kecil batas antara kampung dan hutan. Ia sudah beristri pula. Ia persunting seorang gadis kampung. Untuk menghidupi keluarganya ia menjadi pembelah kayu. Tiga hari sekali ia akan mengangkut kayu di dalam hutan. Menumpuknya di dekat perigi yang digalinya sendiri. Seminggu lamanya ia akan membelah gelondongan itu menjadi kayu-kayu kecil, disatukannya dalam ikatan-ikatan kecil sepelukan besarnya. Ia tidak membawanya ke pasar. Tapi orang-orang akan datang ke tempatnya untuk membelinya sebagai kayu bakar.”
Selain itu ia juga memiliki sifat rajin bekerja. Karena ia tidakmau bergantung kepada orang lain. Ia menghidupi istrinya dari kayu bakar yang ia kumpulkan di hutan. Ia juga memiliki sifat yang baik karena suka menolong orang lain berikut kutipannya:
“Ia seorang yang lata. Keluarga si Bernomor Punggung nyaris tak memiliki persoalan tetek-bengek dengan para tetangga yang memang rumah mereka berjauhan. Bukan pula dia tak terlibat dengan pelbagai kegiatan di kampung. Banyak hal yang telah disumbangkannya kepada kampung. Awalnya orang kampung itu tak mengenal sumur. Karena kebiasaan mereka menciduk air yang melarung dari gunung membentuk batang sungai yang membelah kampung mereka. Jernih nian dan melimpah airnya. Tapi jika musim kemarau tiba batang sungai itu akan kering. Dan orang-orang kampung akan mengangkutnya naik-turun sepikulan bambu dari gunung yang berdepa-depa jauhnya. Diperkenalkannya sumur. Digalinya dalam-dalam tanah tandus itu sehingga air jernih menyembur. Diperkenalkannya pula timba dari pelepah pinang yang kedua sisinya dijahit dengan rotan.”
Penulis juga menambahkan watak penyayang pada tokoh laki-laki bernomor punggung. Ia begitu menyayani anak-anak berikut kutipannya:
“Kanak-kanak berkarib baik dengannya. Kadang, jika musim buah-buahan hutan ia akan membawa serta beranting-ranting buah bersama gelondongan kayu. Dibagikannya kepada para karib kecilnya. Pun kanak-kanak itu dibuatkannya mainan dari sisa belahan yang terlampau bagus kalau sekadar dijadikan kayu pembakar. Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.”
Ia juga sosok laki-laki yang ikhals terhadap nasib yang menimpanya. Walaupun itu berhubungan dengan nyawanya sendiri. Berikut kutipannya:
“Dan sungguh si Bernomor Punggung menerimanya dengan ikhlas. Ia tak mengerti kenapa ia harus dibakar. Sama seperti orang kampung tak mengerti kenapa ia tak terkena wabah, dan berajah 81. Dengan kapak di tangan, si Bernomor Punggung duduk di ruang tamu menunggu api yang berjilat-jilat membakar tubuhnya. Perihal rajah si Bernomor Punggung membawanya sampai ajal. Sampai daging tubuhnya berderik, tulang-tulangnya mengertap dipanggang api.”
Sedangkan masyarakat kampong cenderung percaya terhadap tahayul. Dan pengetahuan belum berkembang dengan baik saat itu berikut kutipannya:
"Ia kepergok Pook," kata sang penyembur sirih. Pook adalah roh pemilik hutan. Para wanita yang menyaksikan kejadian itu menyungkup bayi-bayi mereka di kebusungan dadanya, mengucapkan lafaz penolak-bala agar bayi-bayi mereka tak terkena. Dan mereka meninggalkan tempat di mana orang itu dilentangkan --pada sebuah balai dari bambu-- sambil menggiring kanak-kanak.”
Latar tempat secara tersirat banyak menggunakan kampung yang menjadi latardalam cerpen ini. Berikut kutipannya:
“Ia datang ke kampung itu tiba-tiba. Ia datang seperti wabah yang tak hendak kembali. Ia ditemukan oleh para pencari rotan tersungkur di antara pematang tinggi yang mengapit dua ngarai. Ia sepertinya habis menaiki ngarai yang memang curam itu dengan susah-payah." (halaman 14).
"Begitulah orang itu tidak pergi, tapi memilih membangun rumah di batas kampung dengan hutan. Ia membangun sebuah rumah kecil sendiri, dan menolak dengan halus ketika orang kampung ramai-ramai menawarkan tenaga mereka. Ia mengatakan bahwa selama ini orang kampung telah banyak menolongnya.” (halaman 16).
Sedangkan latar Susana penulis menggunakan banyak latar baik suasana menyerampan maupun menggembirakan. Berikut beberapa kutipan suasana:
“Dua puluh satu kali ia sudah memalingkan wajahnya ke belakang. 21 kali pula ia lihat ada barisan raya yang mengejarnya. Dalam lari, dalam dengus nafas yang memberat ia merasakan barisan raya itu kian merapat, tinggal setombak, lalu sedepa, dengan semena menyentakkan ujung bajunya. Merebahkannya. Meringkusnya.
Ia terus berlari. Lewat lubang telinganya yang menyesak ia dengar raung yang menghasut. Lewat pincing matanya ia lihat puluhan anak panah, bukan puluhan, ratusan anak panah menyongsongnya dari belakang. Juga beliung, kapak, dan tombak. Ia bungkukkan badannya serupa babi menyuruk, ia berlari sambil menyujudkan badannya. Menghindari segala serbuan.” (halaman 13).
“Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.” (halaman 18).
“Terdengar sayup isak istri si Bernomor Punggung dengan suluh di tangan yang urung dilemparkan. Seorang bocah memegang erat sebelah tangannya yang lain. Seorang bocah dengan manik mata memerah menyaksikan tumpukan api. Pun kanak-kanak lain dengan manik mata memerah menyaksikan liuk api.” (halaman 20).
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudulpandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan menggunakan nama orang. Berikut kutipannya:
"Terang saja punggungnya berjimat."
Ia Pook!"
"Siapkan pembakaran. Ia titisan wabah," perintah tetua kampung.
"Ia harus dibakar," seru yang lainnya”
Dan alur menggunakan alur maju karena secara keseluruhan seluruh kejadiannya berlangsung secara runtun dan tidak ada bagian yang mengenang masa lalu.
Tema yang diangkat dalam cerpen ini adalah ketidak tahuan. Yaitu ketidak tahuan penduduk kampung kalau penyakit yang mereka derita bukan bersal dari orang bernomor punggung. Dan hal mengapa orang bernomor punggung tidak tertular karena ia telah tertular terlebih dahulu dan ia telah kebal terhadap penyakit tersebut.
Cerpen ini terasa begitu kental nuansa aceh karena latar dan bahasa yang digunakan dalam cerpen ini begitu lekat.

Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara

Cerpen “Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara” mengisahkan pengalaman tokoh Aku yang bertemu dengan seorang wanita yang setiap hari menunggu seseorang sampai ia dianggap gila. Dalam cerpen ini tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik. Karena ia tidak pernah mengganggu wanita tersebut walaupun temam-temannya mengejek dan melempari batu kepada wanita itu. Berikut kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kini menjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
Dari kutaipan di atas tokoh aku memiliki dudi yang baik. Ia tidak pernah menggangu wanita yang diagap gila oleh teman-temannya. Tokoh Aku juga tokoh yang penurut karena ia selalu mendengarkan apa yang dikatakan ibunya. Dan ia selalu menurutinya. Berikut kutipannya:
“Ibu berkomentar marah mendengar ceritaku.” Coba bayangkan juga bahwa dia tidak menunggu siapa-siapa, tak punya saudara, dan hannya sekedar duduk di taman. Apakah kamu tahu, dia sudah makan pagi segala? Ia juga manusia cah bagus, yang bisa merasakan sakit.” (halaman 43).
“Roti ia terima. Aku kaget, sadar atas keberanianku mendekat padanya, dimana tangan kami bahkan sampai bersinggungan ketika dia memerima roti.” (halaman 44)
Tokoh aku menurut pada ibunya dengan memeberikan sarapan roti kepada wanita tersebut. Tokoh Aku juga memiliki karakter bahasa yang keras seperti yang ia warisi dari ibunya. Berikut kutipannya:
“Kata-kata ibu memang keras, meski aku tahu dan makin sadar kini, bahwa hatinya lembut. Bahkan dalam beberapa hal, bahasa itulah yang aku warisi darinya,” (halaman 44)
Karakter tokoh Aku adalah orang yang sangat menghargai wanita. Dan ia juga sangat membenci orang yang memanfaatkan titik lemah orang lain. Seperti yang dilakukan maling yang memperkosa wanita yang dianggap gila itu hingga ia hamil. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Tokoh aku merupakan pribadi yang luhur dan taat kepada agama. Berikut kutipannya:
“ketika ada wanita cantik dengan pikiran kosong, dengan hati kosong,mereka curi dannikmati beramai-ramai apel yang mereka bawa. “Ya Tuhan yang kudus, biarlah aku berpuasa seumur hidup tiak akan makan apel curian.” (halam 45).
Wanita yang menunggu ditaman yang dikatakan gila oleh orang-orang memiliki sosokyang cantik sesuai dengan kutipan berikut:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu penulis juga banyak memaparkan mengenai bentuk fisik wanita tersebut. Berikut kutipannya:
“Wanita itu pun, pasti ada darah Balandanya. Sosoknya tinggi ramping, dengan bentuk kaki yang sama sekali berbeda dari wanita-wanita tanpa darah campuran sama sekali. Lebih-lebih mereka yang kami sebut sebagai “Ngablak”.” (halaman 43).
Tokoh wanita tersebut adalah tokoh yang tegar. Ia tetap menunggu seseorang yang sekarang entah ada dimana. Sampai-sampai semua orang menganggapnya gila. Berikut kutipannya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu sampai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggukan tokoh Aku sebagai karakter utama. Berikut beberapa kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kinimenjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Latar tempat dalam cerpen ini adalah Salatiga. Berikut kutipannya:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu untuk memperjelas bahwa cerita ini memeang terjadi di Salatiga penulis menambahkan aksen jawa pada perkataan ibu tokoh Aku. Berikut kutipannya:
“Jangan, jangan sakiti dia cah bagus. Ia sudah terpanggang panas dan tertusuk dingin, dan tak mengganggu siapa-siapa.” (halaman 41).
“Pada saat cuaca agak buruk menyelimuti kota dilereng gunung merbabu ini, ia mengenakan sweater untuk menahan udara dingin. Dikota ini, cuaca memang tidak menentu. Pada sore hari, kabut kadang bergerak menuruni gunung, membuat bunga-bunga seperti merunduk kedinginan.” (halaman 42)
Darikutipan di atas terpancar suasana yang begitu dingin untuk mendukung rasa ketegaran yang dimiliki oleh tokoh wanita yang dianggap gila itu. Ia tetap menunggu seseorang walaupun keadaan begitu didingin.sedangkan untuk menyakinkan pembaca bahwa wanita yang mngkin gila itu penulis menambahkan sebuah tulisan yang sedikit menggunakan bahasa Belanda yang ditulis wanita itu. Berikut kutipannya:
“Dear Don Van Reunekers,
Kalau Ik (dia memebahaskan dirinya Ik-Bre) tiba-tiba tak mendengar suara kamu, Ik artikan kamu tentulah sedang keluar kota untuk semantara waktu saja, sebentar saja, soalnya Ik takut kamu menghilang dari udara. Ik sealalu takut kamu hilang. Ik berpikir kamu lebih baik pergi dan berlibur bersama Sandra (entah siapa Sandra-Bre).” (halaman 46).
Dari nama seorang laki-laki yang dibicarakan wanita itu saja sudah menggunakan Bahasa belanda. Dan dalam cerita ini penulis tidak member tahu suapakan Don Van Runekers dan mengapa tokoh wanita itu menunggu sampai ia kehilangan pikirannya.
Sedangkan alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur campuran. Karena pada awal cerita penulis menceritakan pengalaman tokoh Aku dan diakhir cerita kembali pada keadaan tokoh Aku yang sekarang. Berikut kutipannya:
“Aku merinding. Itulah ucapan ibu yang bisa aku ingat ,ketika di masa kecil aku bercerita kepadanya, bahwa teman-teman di sekolah selalu menggodanya tatkala kamu semua melewati taman.” (halaman 41)
“Taman kota itu pun sudah berubah menjadi department store dan super market.” (halaman 47).
Permalasahan yang menjadi tema dalam cerpen ini adalah kesetiaan dari wanita yang menunggu seseorang sampai menjadi gila. Dan wanita itu tetap menunggu walaupun mendapat banyak rintangan. Berikut kutipanya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu samapai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Selain itu cerpen ini juga mengagas mengenai rasa hormat kepada wanita. Sesuai dengan karakter Aku dalam cerpen ini yang begitu menghormati wanita. Baik itu ibunya, istrinya maupun wanita yang dianggap oleh orang-orang gila.dan cerpen ini mengecam perbutan yang melecehkan wanita. Dari segi kekurangan wanita. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).

Bibir dalam Pispot

Cerita “Pistot” menceritakan tentang pengalaman Tokoh Aku. Pengalaman tersebut terjadi saat Tokoh Aku berada di pasar. Tokoh Aku di gambarkan oleh penulis dengan karakter yang jujur ia menunjukan siapa yang menjadi penjambret di pasar tersebut. Dan ia mau dijadikan sebagai saksi dan mengatakan yang sebenarnya. Selain itu Tokoh Aku juga digambaerkan sebagai tokoh yag pemberami dan cerdas. Karena ia berani dan berhasil merayu tersangka untuk meminum obat pencahar. Yang sebelumnya tersangka tersebut menolak untuk meminumnya. Berikut kutipannya:
“sekarang Cuma kita berdua saja di ruang ini. Ada suatu hal yang ingin kukatakan kepada mu.” Aku mulai meyakinkannya. “ kalau dalam waktu dekat kau tidak mengeluarkan kalung itu, mereka akan mengoperasimu!” aku bergeser mendekat kepadanya.”
Dari kutipan di atas tokoh aku memiliki siasat yang cerdas untuk membujuk Tersangka. Agar meminum obat pencahar dengan cara menakut-nakuti tersangka. Selain itu, Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik dan bertanggaung jawab. Ia merasa bersalah atas penderitaan yang diterima oleh Tokoh Tersangka. Setelah ia dinyakatan tidak bersalah. Ia berusaha meminta maaf kepada Tokoh Tersangka atas apa yang menimpanya. Ia memberikan uang kepada tokoh tersangka. Dan mengantarnya pulang. Berikut kutipannya;
“aku raba uang disakuku. Aku beri dia uang untuk menebus rasa berdosa pada diriku. Lelaki itu berlinang air matamenerimanya.”
“Kemudian kami sama diam di dalam perjaanan itu. Kemudian dia minta diturunkan di gang tempat tinggalnya. Aku menolongnya samapai keluar. Aku menyalamnya.”
Tokoh Aku benar-benar sangat menyesal karena ia telah membuat Tokoh Tersangka menjadi babak belur dan terlhat lemas karena terlalu banyak membuang air besar akibat obat pencahar.
Tokoh Tersangka digambarkan penulis sebagai penjambret yang licik. Karena setelah ketahuan ia menelan barang bukti apa yang dijambretnya. Berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang terges.”
Dari kutipan di atas Tokoh Tersangka dapat berpikir cepat untuk menghilangkan barang bukti. Namun, ia tetap dapat dikelabui oleh Tokoh Aku sehingga ia mau menelan obat pencahar. Tetapi kelicikan itu dikeluarkan lagi oleh penulis melalui penuturan Tokoh Tersangka yang mengaku telah menelan kembali. Berikut kutupannya:
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.”
Dari pengakuan di atas Tokoh Tersangka mengakui perbuatannya. Dan ia menyesal melakukan perbuatan itu. Ia malah meminta kepada Tokoh Aku untuk dihukum. Dan ia menjelaskan mengapa ia meakukan perbuatan itu. Berikut kutipannya:
“Bapak orang baik. Hukumlah saya.” Dia raba uang yang telah saya beri itu di dalam saku bajunya. Dia mungkin hendak mengembalikannya.”
Cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggunkan kata ganti aku. Tokoh Aku dalam cerpen ini adalah mewakili penulis karena cerpan ini terinspirasi dari pengalan penulis seperti yang dituturkannya pada proses lahirnya cerpen.
Cerpen ini menggunakan alur campuran karena terdapat bagian mengulang kejadian yang sudah terjadi berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang tergesa.”
Cerpen ini menggunakan latar tempat yaitu pasar dan kantor polisi. Sedangkan latar suasana sangat mempengaruhi jalan cerita cerpen ini karena penulis serusaha mengambarkan apa yang dirasakannya pada saat mengalami pengalaman itu. Yaitu membuat pembaca bergidik. Berikut beberapa kurtipan mengenai suasana:
“kamu beri kepada temanmu?”
“tidak.”
“dia tidak bisa berkata lain selain: tidak!” mereka mulai tidak sabar.” Siksa!” (halaman 13)
“cukup! Itu sudah cukup!” bentak kepala pemeriksa “ (halaman 14)
Dari gambaran di atas terlukis suasana tegang yang menimpa Tokoh Tersangka. Selain itu penulis menggambarkan apa yang ia lihat dan membuat pembaca bergidig.
“Belum keluar! Baru biji-biji kedele rupanya dia makan tempe!”
Dia keluar membawa pispot dan seorang menyambutnya dan membersihkannya di lubang pispot.” (halaman 18)
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.” (halaman 21)
Cerpen ini membahas tentang kebaikan hati dari Tokoh Aku. Ia berusaha menolong seseorang yang tidak ia kenal. Dan ia tetap menolong orang yang dia ketahui telan menjambret kalung seorang wanita.