Dayak dan Pendiriannya
Novel upacara mengisahkan kehidupan masyarakat dayak yang penuh dengan upacara-upacara. Sedangkan kehidupan sehari-hari hanya digambarkan sebagai secuil kehidupan tanpa upacara. Novel ini menggambarkan romantisme tokoh aku yang harus megalami kegetiran dalam percintaan. Saat ia ditinggal oleh kekasih tercintanya. Namun ia akhirnya menemukan tambatan hati pengganti kekasihna yaitu Ifing.
Novel ini menggambarkan keteguhan masyarakat dayak tentang keyakinannya. Yang sampai sekarang tidak tergoyahkan. Walaupun pendidikan mereka terbatas. Namun, keyakinannya tidak tergoyahkan oleh apapun. Dalam novel ini digambarkan Kristenisasi yang dilakukan oleh Tuan Smith secara halus. Dengan dalih melakukan penelitan. Berikut kutipannya:
“Sudah Kutunjukan kepada orang asing itu bahwa kita punya Tuhan.” Lajut paman Jomoq. “Sekali dengan punai. Dan sekali dengan rangkong. Orang asing itu menganguk kagum.”
“Apakah dengan banyak tuhan tak timbul persaingan di antara tuhan-tuhan itu? Tuan smith bertanya.
“Tentu saja tidak. Sebab mereka punya tempat, kedudukan, wibawa dan kekuasaan yang berbeda. Seperti misalnya hirarki pemerintah atau militer. Setiap eselon punya tugas dan kewahiban serta haknya masing-masing.”
Kehidupan orang dayak digambarkan secara jalas dan detail. Dan seolah-olah membawa pembaca ke dalam kemistisan dayak. Yang sampai saat ini belum banyak terkuak. Mereka tetap merawat alam. Dan alam pulalah yang merawat mereka.
“Lelaki-lelaki di daerah ini adalah lelaki perkasa. Mereka harus bertarung melawan alam. Perempuan-perempuan di daerah ini adalah perempuan perkasa. Mereka melahirkan anak-anak alam. Tetapi mereka ditantang alam.”
Selain itu kegetiran hidup ditunjukan dalam novel ini. Mengenai kedatangan orang asing yang banyak merepotkan penduduk di desa tokoh Aku. Yang seudah mengawini perempuan dayak dan meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil. Kelakuan orang asing juga tidak kalah buruknya. Karena mereka juga merusak hutan yang selama ini member I mereka makan.
“Tertinggallah anak-anak tanpa ayah. Tertinggallah istri-istri tanpa suami. Anak-anak tumbuh bagai pokok-pokok liar di hutaan. Tak tahu dari buah pohon yang mana.”
Hal di ataslah yang membuat alam murka. Dan membuat musim membawa kepedihan dihati masyarakat dayak. Namun kepribadian masyarakat dayak sangat mengesankan. Mereka mempersoalkan kehadiran orang-orang asing itu. Karena disamping meninggalkan istri-istri yang sedang hamil atau bayi-bayi yang baru lahir, orang-orang asing itu menggunduli hutan. Pohon-pohon besar ditebangi, lalu diluncurkan kesungai. Penebangan hutan itu mengancam kehidupan orang-orang pedalaman dalam beeladang.
“Nalin Taun ini harus!” kudengar ayah yang memutuskan kata itu. “Banyak kejadian menimpa desa kita, tetapi kita berdiam diri saja. Bukankah semua itu harus dibersihkan, agar desa kita bersih. Termasuk diri kita.”
“Termasuk orang asing itu,” paman Lengur menyambung. “Kita berdosa kepada dewata karena terlalu memberi hati.”
Selain itu rasa nasionalis penulis terwujud dalam lagu Indonesia Raya yang berkumandang di radio. Dan memberikan sebuah petuah kepada pembacaranya. Mengenai Negara Indonesia yang sedang kacau. Negara yang ingin berubah namun rakyatnta sendiri tidak ingin berubah. Rakyat yang bangga disaat negaranya sakit parah. Yang minim akan nilai-nilai budaya.
“Indonesia raya, merdeka!, merdeka! Tanahku, negeriku, yang kucinta. Indonesia raya, Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!”
“Sesaat lagu itu berhenti. Lalu terdengar suara lantang bagai merobek dunia. Radio tua itu terbatuk-batuk. Kugamit Ifing. Berdua kami memasang telinga. Tajam ujung kalimat pidato itu bagai slogan saja:
“ Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.”
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar