Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara

Cerpen “Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara” mengisahkan pengalaman tokoh Aku yang bertemu dengan seorang wanita yang setiap hari menunggu seseorang sampai ia dianggap gila. Dalam cerpen ini tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik. Karena ia tidak pernah mengganggu wanita tersebut walaupun temam-temannya mengejek dan melempari batu kepada wanita itu. Berikut kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kini menjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
Dari kutaipan di atas tokoh aku memiliki dudi yang baik. Ia tidak pernah menggangu wanita yang diagap gila oleh teman-temannya. Tokoh Aku juga tokoh yang penurut karena ia selalu mendengarkan apa yang dikatakan ibunya. Dan ia selalu menurutinya. Berikut kutipannya:
“Ibu berkomentar marah mendengar ceritaku.” Coba bayangkan juga bahwa dia tidak menunggu siapa-siapa, tak punya saudara, dan hannya sekedar duduk di taman. Apakah kamu tahu, dia sudah makan pagi segala? Ia juga manusia cah bagus, yang bisa merasakan sakit.” (halaman 43).
“Roti ia terima. Aku kaget, sadar atas keberanianku mendekat padanya, dimana tangan kami bahkan sampai bersinggungan ketika dia memerima roti.” (halaman 44)
Tokoh aku menurut pada ibunya dengan memeberikan sarapan roti kepada wanita tersebut. Tokoh Aku juga memiliki karakter bahasa yang keras seperti yang ia warisi dari ibunya. Berikut kutipannya:
“Kata-kata ibu memang keras, meski aku tahu dan makin sadar kini, bahwa hatinya lembut. Bahkan dalam beberapa hal, bahasa itulah yang aku warisi darinya,” (halaman 44)
Karakter tokoh Aku adalah orang yang sangat menghargai wanita. Dan ia juga sangat membenci orang yang memanfaatkan titik lemah orang lain. Seperti yang dilakukan maling yang memperkosa wanita yang dianggap gila itu hingga ia hamil. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Tokoh aku merupakan pribadi yang luhur dan taat kepada agama. Berikut kutipannya:
“ketika ada wanita cantik dengan pikiran kosong, dengan hati kosong,mereka curi dannikmati beramai-ramai apel yang mereka bawa. “Ya Tuhan yang kudus, biarlah aku berpuasa seumur hidup tiak akan makan apel curian.” (halam 45).
Wanita yang menunggu ditaman yang dikatakan gila oleh orang-orang memiliki sosokyang cantik sesuai dengan kutipan berikut:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu penulis juga banyak memaparkan mengenai bentuk fisik wanita tersebut. Berikut kutipannya:
“Wanita itu pun, pasti ada darah Balandanya. Sosoknya tinggi ramping, dengan bentuk kaki yang sama sekali berbeda dari wanita-wanita tanpa darah campuran sama sekali. Lebih-lebih mereka yang kami sebut sebagai “Ngablak”.” (halaman 43).
Tokoh wanita tersebut adalah tokoh yang tegar. Ia tetap menunggu seseorang yang sekarang entah ada dimana. Sampai-sampai semua orang menganggapnya gila. Berikut kutipannya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu sampai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggukan tokoh Aku sebagai karakter utama. Berikut beberapa kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kinimenjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Latar tempat dalam cerpen ini adalah Salatiga. Berikut kutipannya:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu untuk memperjelas bahwa cerita ini memeang terjadi di Salatiga penulis menambahkan aksen jawa pada perkataan ibu tokoh Aku. Berikut kutipannya:
“Jangan, jangan sakiti dia cah bagus. Ia sudah terpanggang panas dan tertusuk dingin, dan tak mengganggu siapa-siapa.” (halaman 41).
“Pada saat cuaca agak buruk menyelimuti kota dilereng gunung merbabu ini, ia mengenakan sweater untuk menahan udara dingin. Dikota ini, cuaca memang tidak menentu. Pada sore hari, kabut kadang bergerak menuruni gunung, membuat bunga-bunga seperti merunduk kedinginan.” (halaman 42)
Darikutipan di atas terpancar suasana yang begitu dingin untuk mendukung rasa ketegaran yang dimiliki oleh tokoh wanita yang dianggap gila itu. Ia tetap menunggu seseorang walaupun keadaan begitu didingin.sedangkan untuk menyakinkan pembaca bahwa wanita yang mngkin gila itu penulis menambahkan sebuah tulisan yang sedikit menggunakan bahasa Belanda yang ditulis wanita itu. Berikut kutipannya:
“Dear Don Van Reunekers,
Kalau Ik (dia memebahaskan dirinya Ik-Bre) tiba-tiba tak mendengar suara kamu, Ik artikan kamu tentulah sedang keluar kota untuk semantara waktu saja, sebentar saja, soalnya Ik takut kamu menghilang dari udara. Ik sealalu takut kamu hilang. Ik berpikir kamu lebih baik pergi dan berlibur bersama Sandra (entah siapa Sandra-Bre).” (halaman 46).
Dari nama seorang laki-laki yang dibicarakan wanita itu saja sudah menggunakan Bahasa belanda. Dan dalam cerita ini penulis tidak member tahu suapakan Don Van Runekers dan mengapa tokoh wanita itu menunggu sampai ia kehilangan pikirannya.
Sedangkan alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur campuran. Karena pada awal cerita penulis menceritakan pengalaman tokoh Aku dan diakhir cerita kembali pada keadaan tokoh Aku yang sekarang. Berikut kutipannya:
“Aku merinding. Itulah ucapan ibu yang bisa aku ingat ,ketika di masa kecil aku bercerita kepadanya, bahwa teman-teman di sekolah selalu menggodanya tatkala kamu semua melewati taman.” (halaman 41)
“Taman kota itu pun sudah berubah menjadi department store dan super market.” (halaman 47).
Permalasahan yang menjadi tema dalam cerpen ini adalah kesetiaan dari wanita yang menunggu seseorang sampai menjadi gila. Dan wanita itu tetap menunggu walaupun mendapat banyak rintangan. Berikut kutipanya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu samapai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Selain itu cerpen ini juga mengagas mengenai rasa hormat kepada wanita. Sesuai dengan karakter Aku dalam cerpen ini yang begitu menghormati wanita. Baik itu ibunya, istrinya maupun wanita yang dianggap oleh orang-orang gila.dan cerpen ini mengecam perbutan yang melecehkan wanita. Dari segi kekurangan wanita. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar