Pemanasan global (global worming) sebuah kata yang sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penduduk dunia. Termasuk saya yang sudah lama merasakan efek pemanasan global tersebut. Saya sering berangan-angan sampai kapankah bumi kita akan bertahan? Bumi kita mulai terbatuk-batuk dengan asap pabrik yang sekarang mulai menyelimuti langit kita. Apakah bumi kita dapat bertahan dari penyakit kronis yang menggerogoti seluruh organ dalamnya secara perlahan tatapi pasti layaknya virus HIV?
Kalau saja bumi kita dapat berbicara, dia pasti akan mencaci-maki kita. Bahkan dengan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Dan sampai akhirnya, ia tidak mau lagi menampung manusia untuk tinggal. Ia begitu merana. Ia hanya bisa meluapkan isi hatinya dengan memendam perasaannya dalam-dalam. Mungkin saja ia sering iri dengan teman sejawatnya yaitu planet-planet lainya. Mereka tidak memiliki beban untuk memberi kehidupan. Mereka dapat melenggang dengan santainya mengitari matahari. Tidak seperti bumi yang harus memikul beban berat di pundaknya.
Salama ini, hanya segelintir orang saja yang peduli terhadap lingkungan. Apakah kita tidak mempedulikan masa depan anak cucuku kita? Akankah gambaran bumi yang digambarkan dalam film animasi Wall-E yang begitu jelas dengan tumpukan sampah dan merana. Sampai-sampai tanamanpun takmau tumbuh. Oksigen lari entah kemana. Dan bumi tinggalkan begitu saja. Oleh manusia yang tidak tahu balas budi. Sampai kapankah kita tetap diam dengan keadaan seperti ini? Sudah hilangkah akal budi manusia di zaman yang sudah edan ini.
Hutan di Indonesia semakin menyusut. Sedangkan pembalakan liar semakin hari meningkat. Hutan di Indonesia yang dulunya mendapat julukan paru-paru dunia. Kini mulai terserang bronkhitis. Kuman-kuman jahanam mengerogoti sel-sel paru-paru dunia. Mereka hanya mereguk untungnya saja tanpa memikirkan efek jangka panjangnya.
Coba kita pikirkan, lubang ozon sudah terbuka begitu lebarnya. Dan alam sering menunjukan kemurkaannya kepada kita. Kapankah setiap orang di seluruh dunia sadar akan peduli lingkungan? Saya pikir hal itu sangat tipis kemungkinannya untuk terjadi. Terutama untuk bangsa Indonesia. Bangsa yang penduduknya bebal untuk peduli lingkungan. Menurut saya, setiap warganya sudah kebal terhadap banjir dan bencana alam yang menimpa. Dan hidung kita sudah berevolusi sehingga tahan terhadap berbagai macam bau sampah yang ada. Mata kita sudah tertutup katarak sehingga membiarkan kekayaan alam kita dikeruk dan dirusak oleh orang asing.
Musim di Indonesia sudah tidak menentu. Kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Sudah tidak dapat ditentukan seperti dulu. Semua serba tidak menentu, musim sudah linglung. Ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Akibat lapisan ozon terbuka yang semakin melebar. Alam begitu murka, sampai-sampai menunjukan kemurkaannnya dengan mendatangkan bencana di mana-mana. Tidak terkecuali Negara Indonesia.
Dari segi kesehatan berbagai macam penyakit aneh mulai bermunculan. Dan meneror setiap penduduk dunia. Virus-virus bermutasi akibat ulah kita yang menjalamah dunia mereka. Dan akibat sinar ultraviolet yang secara langsung menerobos pori-pori ozon yang sudah merapuh. Flu burung dan HIV, salah satu contoh nyata dari hasil mutasi tersebut. Ulah siapakah? Lagi-lagi ulah kita sendiri.
Angan-angan saya melambung lagi, andai saja seluruh penduduk dunia sadar dari mimpinya sekarang. Mungkin pencegahan terhadap pemanasan global dapat sedikit teratasi. Namun, kini kita tengah asyik terlelap dalam nina bobo teknologi yang semakin lama semakin mengila. Setiap Negara berlomba-lomba menciptakan alat mutahir yang dapat menghancurkan dunia sekalipun. Nuklir salah satu produk utamanya. Apakah pemikiran mereka sudah keblinger. Saya hanya tertawa sinis melihat keadaan yang semakin miris. Di sisi lain, negara kita hanya negara yang tunduk seperti kerbau. Negara yang tidak punya kekuatan. Ia hanya menarik nafas panjang. Melihat badannya dijadikan tempat sampah. Bagi teknologi asing yang sudah menjadi rongsokan. Ia hanya menjadi korban dari manusia yang semakin edan.
Awan hitam membumbung dilangit, kentut dari kijang dan bebek bermesin memenuhi setiap partikael udara yang ada di dunia. Ditambah lagi dengan cerutu pabrik yang tidak berhenti mengepul. Di Indonesia tidak ada syarat khusus untuk memiliki kendaraan tersebut. Jadi binatang dan banguan bermesin itu dapat tumbuh subur. Bagaikan cendawan di musim hujan. Hal itu dikarenakan pola pikir kita sudah keblinger. Kita lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum. Padahal dengan naik kendaraan umum kita tidak susah-susah dalam perjalanan. Kita hanya duduk manis untuk sampai tujuan. Sayangnya, hal itu tidak akan terjadi. Karena kurangnya fasilitas dan perhatian pemerintah untuk memanjakan rakyatnya. Selain itu, pemerintah juga kurang memperhatikan tata ruang kota. Sehingga asap dapat berkumpul dimana-mana tanpa di uraikan oleh tanaman. Dan pemerintah hanya memikirkan keuntungan dari investor yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Hal yang ironis terjadi di Negara kita tercinta. Yaitu pembalakan liar terus berjalan bergandengan tangan dengan angka polusi di Indonesia. Negara yang kecil dalam segala hal ini, turut andil terhadap pemanasan global yang melanda dunia. Dunia yang semakin tua.
Inti permasalahan dari pemanasan global adalah manusia itu sendiri. Saya beragnggapan bahwa kita selama ini takut dengan masalah yang kita buat sendiri. Takut yang sudah mengakar dalam hati manusia yang ada di bumi. Rasa takut untuk menyelesaikan permasalahan. Sampai akhirnya kita merasa terbiasa dengan rasa takut itu. Pemanasan global sudah tidak dapat dicegah lagi. Semua terlanjur terjadi. Yang dapat kita lakukan saat ini adalah merubah pola hidup kita. Kita harus peka terhadap lingkungan. Agar memperlambat laju kerusakan bumi akibat pemanasan global. Dan umur bumi kita dapat bertahan sampai anak cucu kita.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar