Novel Siti Nurbaya sebenarnya ingin mengkritisi keadaan bangsa indonesia yang sudah kehilangan jati dirinya. Yang pada saat itu orang-orang di indonesia berpenampilan layaknya bangsa Belanda.
Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang bekancing ujungnya. Sepatunya sepatu hitam yang tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutra hitam.......
Jika dipandangdari jauh, tentulah akan disagka, anak muda ini seorang anak belanda, yang hendak pulang dari sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa. [ halaman 9].
Dari cara didik yang demikian lah rasa cinta tanah air sulit untuk dikembangkan. Karena segala sesuatu yang ada semuanya berporos ke Belanda. Hal itulah, yang coba di ungkapkan oleh Marah Rusli. Sehingga muncul sebuah teori bahwa Sansulbahri sebagai pecundang dan Datuk Maringgih sebagai pahlawan. Hal tersebut dapat dibuktokan.
Samsulbahri menjadi pecundang dan penghianat. Di saat Samsulbahri memutuskan Untuk menjadi Lenan Belanda. Dari pola didik yang sedari kecil berporos ke Belanda mengakibatkan Samsul menjadi penjajah di negrinya sendiri.
Setelah masuklah kapal yang membawa Letnan Mas (Samsulbahri) ke pelabuhan Teluk Bayur, turunlah sekalian bala tentara itu ke darat, lalu langsung berjalan ke kota Padang, di sana gemaparlah isi kota, melihat bala tentara sekalian banyak; datang cukup dengan alat senjata fan meriam[halaman 256].
Sedangkan Datuk Maringgih yang selama ini dipandang sebagai orang yang jahat dapat dikatakan pahlawan tatkala ia membakar semangat rakyat Padang. Dan mempersatuakan rakyat dengan pidato hasutannya. Yang membuat rakyat padang berani melawan Belanda.
Bukankah pepatah kita telah menunjukan betapa tamak dan lobaya bangsa Belanda? Bukankah telah dikatakan: seperti Belanda menita tanah, diberi sejengkal, mau sedepa. Peraturan yang serupa in, dalam jajahan bangsa lain seperti bangsa Ingris, tak ada. Hamba sendiri sudah pergi le Singapura ....
Setelah selesai Datuk Maringgih berkata-kata, berdirilah pula seorang haji, katanya.”Pada pikiran hamba benarlah kata engkau Datuk itu, karena hamba telah pergi ke Mekah, Madinah, Jedah, tetapi disana pun tak ada hamaba dapat aturan sebagai ini. [ halaman 251]
Dengan demikian, gemparlah seluruh padang Hulu padang Hilir. Di mana-mana kedengaranrusuh orang melawan, sebagai meraka telah mupakat lebih dulu sama-sama hendak berontak. [ halaman 255]
Dengan hasutan Datuk seluruh rakyat dapat erstu melwan Belanda. Menurut saya novel ini sebenarnya ingin mengobarkan semangat juang rakyat indonesia. Namun dengan cara yang halus. Karena pada saat itu para penulis tidak dengan leluasa menuliskan novel yang betemakan perjuangan. Karena pemereintah pasti akan mencekalnya. Sehingga Marah Rusli menuliskan Novel Siti Nurbaya dengan percintaan sebagai bumbu dalan novel ini. Dan mengobarkah semangat juang dengan alat Datuk Maringgih. Yang dipandang kebanyakan orang sebagai tokoh yang jahat.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar