Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Mengungkap Sastra Rasial Nasionalis

Novel ini berkisah tentang awal mula kelahiran para inteletual pribumi yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengkontraskan kehidupan di Nederalnda dan hidia belanda.

Adalah seorang pemuda bernama Hijo, putra Raden Potronoyo, seorang pedagang, yang baru lulus HBS dan melanjutkan sekolah ingenieur di Delft belanda. sesampainya di amsterdam, Hijo mengalami hal luar biasa. sebagai warga pribumi, ia bisa memerintah orang-orang belanda dan diam-diam kesadaran nasionalismenya muncul.

"Sesudahnya Hijo dan leterarnya turun dari kapal, terus ke hotel, kedatangannya di situ Hijo dihormat betul oleh sekian budak hotel, sebab mereka memikirkannya,kalau ada orang yang baru datang dari tanah hindia, mesti banyak uang, lebih lebih kalau orang jawa.dari situ, Hijo tertawa dalam hati melihat keadaan ini, karena ia ingat nasib bangsanya yang ada di tanahnya sama dihina oleh bangsa belanda kebanyakan".[hal.58]

"Kalau negeri belanda dan orangnya cuma begini saja keadaannya,betul tidak seharusnya kita orang hindia mesti diperintah oleh orang belanda," begitu kata Hijo dalam hatinya.[hal.59]

Selama belajar di belanda,hijo tergoda oleh betje, putri induk semangnya, dan sempat hidup bergaya eropa.namun hal itu tak berlangsung lama.

"Saya mesti pulang ke jawa,"kata Hijo dalam hati waktu ia duduk dibawah pohon dan memperlihatkan lautan yang luas."Sebab kalau saya terus belajar di belanda sini, barangkalii tidak jarang kalau saya terus jadi orang belanda,karena saya tentu kawin dengan seorang nona belanda.Kalau saya meninggalkan sanak famili dan bangsaku...bah!Europeeschebeschaving! [hal.132]

Dibagian lain novel ini, Marco menggugat hubungan bagsa belanda dan jawa, dalam hal pekerjaan dan perkawinan, melalui dialog antara controleur walter dan regent jarak.

"Bercampuran bangsa itu bisa jadi baik, kalau bangsa satu dan lainnya sama derajatnya, sama kekuatannya, sama kepercayaannya, dan lain-lain.Kalau tidak begitu, saya kira susah sekali.Biasanya jadi baik itu perkara assosiate [persaudaraan].Lebih-lebih buat kita orang Bumiputera,itu susah sekali bisa melakukan assosiate dengan bangsa eropa memandang kita seperti budaknya.[hal.134-135]

Selain sebagai jurnalis, Marco adalah aktivis Sarekat Islam [SI].Karenanya bisa dimaklumi jika dalam novel ini digambarkan suasana kongres SI di Sriwedari, Solo,3 Maret 1913.[hal.150-165]

Di zaman kolonial,pemerintah menetapkan seluruh bacaan berbahasa melayu-tionghoa atau melayu rendah sebagai "bukan sastra" dan bahkan sebagai "bacaan yang merusak akhlak dan berbahaya"Termasuk disini karya Marco.tindakan pemerintah mendapat dukungan dari "penguasa sastra "sezaman, yaitu commissie voor de volkslectuur [komisi bacaan rakyat] yang kemudian menjadi Balai pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar