Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Pilihan yang Arif

Seorang tua bernama Barman itu akhirnya bunuh diri. Barangkali inilah sebuah kesimpulan, atau barangkali betul-betul kenyataan, yang akhirnya didapat oleh seorang pembaca dari novel “Khotbah Di Atas Bukit”. Berawal dari keinginan beliau untuk mencari ketenangan hidup dalam menghabiskan masa-masa tuanya, Barman, seorang mantan diplomat yang telah berkunjung ke berbagai mana daerah di muka bumi ini, memutuskan untuk mengisi hari-hari usia senjanya dengan mendiamkan diri ke sebuah villa terpencil di daerah pebukitan, atau pegunungan. Ditemani Popi, seorang wanita muda yang cantik dan setia melayani, kepergian Barman ini diharapkan oleh keluarganya dapat memberikan ketenangan bagi sisa-sisa hidup yang akan dijalaninya. Betul. Barman ternyata sungguh merasa nyaman dengan hari-hari tanpa beban yang ia lalui di daerah sepi sunyi tersebut. Terutama berkat pelayanan wanita muda Popi yang selalu sigap menyediakan segala kebutuhannya. Hingga di suatu ketika. Di suatu hari yang tenang dan dengan hikmat dinikmati oleh Barman, muncullah si Tua Humam.
Singkat cerita, mereka berkenalan dan saling berkawan. Namun ternyata kemudian, perjumpaan yang tiada diduga ini akan membuat sebuah perubahan besar bagi detik-detik selanjutnya kehidupan Barman. Masa tua yang tenang tiada beban pikiran seperti yang semula direncanakan perlahan-lahan terlihat mulai hancur berantakan. Gara-garanya, Humam seorang bijak yang mengajari Barman untuk memaknai hidup, kehidupan. Perlahan, pikiran Barman mulai berfilsafat tentang arti kehidupan. Hingga kematian Humam. Barman menyebut orang tua tersebut sebagai makhluk suci manusia sejati. Barman terus berfilsafat, seperti diajarkan Humam: betapa hidup penuh kesia-siaan. Singkat cerita pula, Barman beroleh pengikut. Orang-orang yang mencari kebahagiaan, Barman hidup bersama mereka. Hingga ia membuat sebuah keputusan. Di keputusan inilah, hidup Barman berakhir. Setelah melantunkan sepenggal khotbah di atas bukit, ia ditemukan terkapar di sebuah jurang. Jurang akhir kehidupan, -nya.
Tapi benarkah Barman bunuh diri? Saya meragukannya. Memang, pikiran-pikiran Barman, tindak-tanduknya, bisa mengarahkan pembaca pada sebuah tafsir: Barman memutuskan bunuh diri. Namun kenyataannya, tak ada bukti kongkret yang betul-betul meyakinkan dalam teks cerita yang menceritakan proses Barman berbunuh diri tersebut. Satu-satunya bagian teks yang paling mendukung untuk tafsir bahwa Barman bunuh diri adalal ketika penceritaan tentang perkataannya bahwa hidup harus diakhiri dan kuda tunggangannya yang mulai bergerak pergi meninggalkan orang banyak di pucak bebukitan. Lalu, cerita langsung pada bagian: ditemukannya mayat Barman yang telah tergelatak tak bernafas dalam sebuah jurang. Mungkin memang betul ia sengaja bunuh diri. Namun sekarang saya akan mengandaikan sebuah lain kemungkinan. Jangan-jangan: Barman Tua dalam segala kepanikannya, dengan segala kekalutan pikirannya, bertindak asal memacu kudanya ke sembarang tempat. Tak sengaja, kuda tunggangannya terpeleset. Dan terlemparlah dua makhluk hidup ini ke dalam sebuah jurang yang menganga. Meninggal dunia. Mati.
Sebuah tafsiran yang mengada-ada? Mungkin ya. Tapi bukankah menganggap Barman sengaja membunuh dirinya, tanpa penulis novel sendiri dengan jelas menceritakannya, adalah juga mengada-adakan yang tidak ada? Sekarang mungkin kita akan bisa berbicara tentang argumentasi pendukung bagi setiap pendapat. Bagi sebagian pembaca, cerita penulis tentang tokoh Barman menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa Barman berpotensi bunuh diri. Namun yang berpotensi apakah selalu akan menjadi? Sekali lagi ingatlah, penulis novel tak pernah (atau mungkin sengaja) tak mendetailkan peristiwa (yang mungkin) bunuh dirinya Barman, dan kudanya (?). Hal ini menariknya juga terjadi pada pak Tua Penjaga Pasar, pengikut paling setia Barman. Mayatnya ditemukan di sungai, bersama segala kemurungannya sebelumnya atas kematian Barman, tanpa ada cerita kongkret tentang proses kematiannya, melemparkan dirikah, menyelamkah, atau tiba-tiba pingsankah?
Tentu, jika berbicara tentang potensi tadi lagi, pendapat bahwa Barman dan Pak Tua Penjaga Pasar sengaja bunuh diri adalah mungkin memang lebih kuat. Tapi tetap: tak pasti. Maka inilah dunia penafsiran. Yang mengayakan kesempitan cerita, yang juga bisa menyempitkan (bahasa keren-nya mereduksi) ketakberhinggaan dunia fiktif sebuah karya sastra. Makna semakin jauh dari tanda-tanda. Tanda semakin kabur dari yang mampu dilihat mata. Menggoyahkan ketetapan hati. Merusak keyakinan yang serba pasti. Namun membuat dunia sastra dan ilmu sastra selalu menggelora. Bergolak membara. Jadi, bunuh dirikah engkau wahai Barman? Ia tak menjawab, tak akan menjawab.
Analisis semiotik ditekan pada sejauh mana aktivitas tokoh-tokoh yang berperan dengan segala peristiwa yang mendukungnya dan pemaknaan tanda-tanda yang terdapat dalam novel Khutbah Di atas Bukit. tokohnya yang bernama Barman sangat menyukai hidup di pegunungan. Menghabiskan waktunya setelah menjadi pensiunan pegawai negeri. Di pegunungan itu hidup dengan bahagia meskipun sebenarnya dalam hubungan yang lebih khusus, Barman tak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan . Suasana dalam pegunungan terasa sangat bersih sehingga mendukung untuk mencari ketenangan pada masa hari-hari tuanya.
Novel Di atas Bukit ini, dalam setiap perilaku tokoh-tokohnya dan kejadian-kejadian yang ada dalam setiap peristiwa yang dirangkai syarat dengan aksi dan peristiwa, penuh dengan ketegangan serta kejutan. Sehingga novel ini menjadi novel yang enak dibaca. Disini diperlukan peran pembaca untuk mengungkapkan makna yang ada.
Kuntowijoyo dalam mengungkapkan pergolakan jiwa seorang pensiunan pegawai negeri mulai dari Dia menghabiskan waktu hidupnya bersama istri barunya dengan udara pegunungan yang bersih dan suasana yang tenang dari ganggguan cucu-cucunya. Barman bertemu dengan seseorang yang bernama Humam. Dia juga mempunyai keinginan yang sama yaitu ingin bebas hidup menyendiri meninggalkan keramaian . Dia tidak mau terikat oleh berbagai keinginan, termasuk juga hasratnya kepada perempuan.
Novel Khutbah Di atas Bukit dalam kacamata semiotic mempunyai tanggapan yang positif. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa, orang menjalani hidup itu tergantung pada diri masing-masing.
Jalan untuk menuju kepadaNya juga masing-masing. Maka, jadilah diri sendiri yang mengerti tentang segala perintah dan larangan agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar