Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Pandangan lain


“Serba indah dan berbahagialah masa kanak-kanak ketiga putera puteri raja itu di Widura kandang bersama Rarasati, bunga padang merdeka. Rarasati kelak dipersunting pahlawan Arjuna. Begitu juga Rara Ireng, yang setelah dewasa bernama Sumbadra. Narayana selaku raja Kresna negeri Dwarawati menjadi ahli siasat utama pandawa. Namun Kakrasana yang seta, yang bergelar raja Baladewa, memihak Kurawa. Demi kesetiaan kepada Herawati, istrinya, dan ayah mertua, raja Salya dari Mandukara yang merasa wajib berpihak kepada para Kurawa, agar kerajaan Ngastina jagan pecah.” [ hlm. VII]
Di awal cerita, sebelum kita memasuki bab pertama Burung-burung Manyar (BBM), kita disuguhi dengan sebuah cerita, Prawayang. Ada keterkaitan antara tokoh-tokoh yang ada dalam Prawayang dengan tokoh-tokoh dalam cerita itu. Tidak banyak karya-karya fiksi Indonesia yang mengadopsi dunia pewayangan dalam cerita-ceritanya. Ada kemiripan nama tokoh, tempat, dan jalan cerita antara Prawayang yang disuguhkan oleh Y.B Mangunwijaya dengan cerita Burung-burung Manyar. Berikut kutipannya:
“Serba indah dan berbahagialah masa kanak-kanak ketiga putera puteri raja itu di Widura kandang bersama Rarasati, bunga padang merdeka. Rarasati kelak dipersunting pahlawan Arjuna. Begitu juga Rara Ireng, yang setelah dewasa bernama Sumbadra. Narayana selaku raja Kresna negeri Dwarawati menjadi ahli siasat utama pandawa. Namun Kakrasana yang seta, yang bergelar raja Baladewa, memihak Kurawa. Demi kesetiaan kepada Herawati, istrinya, dan ayah mertua, raja Salya dari Mandukara yang merasa wajib berpihak kepada para Kurawa, agar kerajaan Ngastina jagan pecah.” [ hlm. VII]
Beberapa nama tokoh dalam cerita BBM mirip dengan nama-nama tokoh cerita wayang Mahabharata. Seperti nama Larasati sejajar dengan nama Rarasati atau Larasati dalam cerita wayang Mahabarata. Ayah Larasati dalam BBM bernama Antana, sedang dalam Mahabarata Ayah Rarasati bernama Raden Antagopa.
Begitu pula nama Setadewa, yang mempunyai keselarasan nama dan nasib dengan Baladewa, seorang tokoh dalam pewayangan Mahabharata yang dikenal sebagai tokoh yang tersingkir dari lingkungannya. Baladewa dan Setadewa keduanya adalah tokoh yang berani menanggapi sesuatu dengan spontan. Keduanya juga memiliki rasa keadilan dan keadilan yang tinggi, dan sama-sama tokoh yang terpelajar dan berani berbeda pendapat. Mereka sama-sama mangkir dari tanah kelahirannya demi orang yang dikasihi, jika Baladewa memihak Kurawa ketimbang Pandawa, Setadewa memihak Belanda ketimbang Indonesia. Baladewa lebih memihak Kurawa karena kecintaannya pada istri dan mertuanya, sedangkan Setadewa lebih memihak Belanda karena kecintaannya pada ibunya.
“Pokoknya Mami mendapat ultimatum Kepala Kenpetai yang berwenang atas nasib Papi. Mami boleh pilih: Papi mati atau Mami suka menjadi gundiknya. Mami memilih yang akhir. Dan Mami tidak mau segala kenyataan dirinya ditutup-tutupi. Satadewa anaknya, harus tahu segala-galanya beserta mengapanya.” [hlm. 42]
“Dan semakin bencilah seluruh jiwaku kepada segala yang berbau Jepang. Termasuk itu pengkhianat-penkhianat Soekarno-Hatta. Dan seluruh bangsa yang disebut Indonesia, yang membongkok-bongkok pada Jepang dan berteriak-teriak di alun-alun oleh hasutan Soekarno:”Inggris kita linggis! Amarika kita setrika! Dai Nippon, banzai!” Sejak itu, aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi: manjadi KNIL, membebaskan negeri yang indah ini dengan rakyatnya yang bodoh, pengecut tetapi baik hati itu.” [hlm. 42]
Suami Atik, Janakatamsi memiliki hubungan pertalian nama dengan Janaka alias Arjuna dalam dunia pewayangan. Keduanya memiliki sifat yang sama, pendiam, halus, dan cerdas. Yang membedakan keduanya adalah jumlah istri. sementara Arjuna alias Janaka beristri lebih dari satu orang, Janakatamsi hanya beristri satu orang, yaitu Larasati (Atik).
.Setadewa, merupakan seorang tokoh utama yang di awal diceritakan sebagai tokoh yang berandal dan pemberontak, akhirnya bisa menjadi sesosok tokoh yang mempunyai sifat rendah hati dan sangat manusiawi. Setadewa tak menafikan bahwa ia telah keliru menyamakan bangsa Indonesia dengan bangsa Jepang, dan akhirnya ia mengakui bangsa Indonesia sebagai ibu kandungnya. Untuk sampai pada titik itu, ia melewati dinamika psikologis yang pedih dan berat baginya. Inilah yang menjadikannya sebagai tokoh yang digambarkan dengan lengkap, seorang tokoh yang punya sifar-sifat manusia.
”Bersama anak sersan, kopral dan sepandri yang belum selalu hitam dan berkulit ternoda luka-luka di mana-mana, aku benar bisa mengalami firdaus: berenag di selokan tangsi ( telanjang bulat dong! Masakan pakai celana beludru dan topi matrus yang airnya lezat berwarna coklat)” [hlm. 4]
Ada pertalian cerita roman ini dengan kebiasaan yang dilakukan oleh burung manyar, sebagaimana tertulis dalam disertasi Atik yang berjudul Jati Diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar.
Manyar jantan bisa diumpamakan seperti Setadewa yang tidak terpilih. Kesedihan dan kegagalan yang dialami oleh manyar jantan setidaknya juga dialami oleh Setadewa ketika mengetahui bahwa Atik yang selama ini diidamkannya telah menjadi milik orang lain. Sebagaimana burung manyar jantan, ia tidak putus asa. Ia mencoba untuk bangkit lagi untuk membangun sarang yang menarik. Setadewa kemudian menjadi kakak angkat bagi Atik dan pada akhirnya merawat anak-anak Atik yang menjadi yatim piatu.
“Sahabat-sahabatku, khususnya John Brindely, tak henti menganjurkanku mengambil istri lagi. Ketiga anak-anak itulah yang membutuhkan seorang ibu. Kuakui, itu benar. Tatpi Bu Ananta sudah cukup jasanya, sebagai nenek sekaligus ibu bagi mereka. Kuakui, hanya sementara memang. Ataukah aku merasamasih belum beranu mengorbankan citra terakhir yang paling indah dari sejarah hidupku, citra Atik?” [hlm. 319]
Salah satu hal yang sangat menyentuh dalam roman ini adalah Setadewa yang sangat menjaga kesetiaan dan cintanya pada Atik. Puluhan tahun perpisahan, dan Atik yang telah menikah dengan Janakatamsi, tak membikin ia surut dalam memandang Atik sebagai kekasihnya. Demikian juga pada Atik. Ia masih mencintai Setadewa. Suami Atik, Janakatamsi, yang mengungkapkan hal itu kepada Setadewa. Janakatamsi sendiri tidak pernah merasa menikah dengan Atik, meski mereka telah punya tiga orang anak. Konflik-konflik jiwa semacam itu, sampai taraf tertentu, adalah sebuah tragedi. Meski saling mencintai, Setadewa dan Larasati tetap teguh dengan pilihan masing-masing, sembari tetap menghormati pilihan, meski dalam hati nurani mereka, keduanya ingin agar mereka bisa sejalan.
Tokoh utama, baik Atik maupun Teto, keduanya bukanlah tokoh statis, dalam arti lurus-lurus saja dari awal sampai akhir cerita. Berpuluh tahun setelah mereka berdua berpisah, baik Atik maupun Setadewa membuka mata untuk menerima masukan lain.
Menurut saya, Teto tetap sebagai pecundang. Apalagi Mangunwijaya dengan gamblang melukiskan hubungan Atik dan Jana yang kekal sampai “maut memisahkan mereka”. Pembaca kebanyakan mungkin akan lebih simpati kepada Teto, karena lebih manusiawi, ada sisi baik, ada sisi buruk.
Dalam roman ini kita juga dapat melihat bagaimana perilaku manusia Indonesia pada setiap kurun waktu. Ada yang membela Jepang, ada yang memilih merdeka seperti halnya yang diinginkan oleh Atik, atau ada juga yang membela Belanda dan menjadi serdadu Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
“Tetapi umumnya semua pelajar anti Belanda..kecuali aku. Barangkali ada lainnya juga yang seperti aku, tatapi pastilah ia cukup lihay untuk menyembunyikan persaannya. Seperti aku juga. Tatapi aku sungguh merasa, betapa sedihnya punya simpati yang jelas bukan simpati kawan.” [hlm. 32]

“Dan semakin bencilah seluruh jiwaku kepada segala yang berbau Jepang. Termasuk itu pengkhianat-penkhianat Soekarno-Hatta. Dan seluruh bangsa yang disebut Indonesia, yang membongkok-bongkok pada Jepang dan berteriak-teriak di alun-alun oleh hasutan Soekarno:”Inggris kita linggis! Amarika kita setrika! Dai Nippon, banzai!” Sejak itu, aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi: manjadi KNIL, membebaskan negeri yang indah ini dengan rakyatnya yang bodoh, pengecut tetapi baik hati itu.” [hlm. 42]
Y.B Mangunwijaya dengan novelnya ini menyampaikan masalah yang sangat kompleks. Karyanya melibatkan berbagai tokoh dengan karakter berbeda-beda. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam karya itu berasal dari berbagai kelas sosial yang tidak sama. Di dalamnya ada tokoh yang keturunan kaum bangsawan, ada tokoh yang berpendidikan, ada tokoh pembantu rumah tangga yang tak berpendidikan, ada juga tokoh yang mewakili masyarakat kelas bawah dan sebagainya. Oleh karena itu, maka digunakanlah lebih dari satu bahasa.
Tokoh Setadewa, yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda, misalnya, harus mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda, sedangkan tokoh Larasati harus mampu menggunakan istilah khusus bidang biologi. Penggunaan bahasa Belanda oleh Setadewa pada bagian pertama cerita dalam BBM itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Perbedaan penggunaan bahasa asing pada bagian pertama dan pada bagian ketiga merupakan penggunaan bahasa yang sudah diperhitungkan oleh penulis.
Ada tiga dimensi pelukisan eksistensial tokoh Aku (Setadewa) bisa dipandang sebagai suatu tawaran wacana bertalian dengan jati diri bangsa Indonesia, yakni: pertama, alam binatang, dalam cerita hal ini diwakili atau disimbolkan oleh burung manyar. Kedua, manusia sebagai tokoh, dalam hal ini diperankan oleh Setadewa dan Larasati. Dan ketiga, bangsa Indonesia, yaitu sebagai bangsa dengan tekanan pada kualitas hidup dan kualitas generasi yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar