Roman yang menjadi pembuka dari trilogi roman keluarga ini adalah roman yang indah dan mempesona. Pramodya berhasil membongkar dan menunjukkan kontradiksi negative praktik feodalisme Jawa yang tidak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan. Tentu saja, roman ini berhasil menusuk feodalisme Jawa tepat di jantungnya.
Struktur naratif Gadis Pantai bukan tergolong “Cerita Berangkai”, karena dalam novel karya Pramoedya tersebut hanya satu narator saja. Dengan demikian hanya ada satu otoritas di dalamnya yang dapat menentukan keberadaan dan kebenaran dari tokoh-tokoh, keadaan, dan peristiwa di dalam cerita. Cara narator dalam menyampaikan cerita tersebut, pembaca dapat mendasarkan diri dalam menentuan apa yang ingin disampaikan oleh novel yang dibacanya, sehingga pembaca bisa memberikan komentar-komentar dan penilaian-penilaian terhadap novel tersebut.
Cerita Gadis Pantai diawali dengan gambaran tentang sosok Gadis Pantai yang keseharian hidupnya diisi dengan derai ombak dan pemandangan perahu-perahu di laut yang berangkat di pagi buta dan pulang di kala hari mulai senja. Gadis Pantai digambarkan sebagai seorang gadis belia yang baru berusia 14 tahun. Karena naratornya adalah “orang yang mahatahu” yang dapat bergerak bebas dari cerita, ia dapat menempatkan diri dekat atau pun jauh dari objek yang digambarkannya itu. Dengan kemungkinan yang fleksibel itulah ia melukiskan sosok Gadis Pantai. Seperti yang terungkap dalam kutipan berikut, menurut narator, dengan tubuh yang dimiliki Gadis Pantai, ia layak menjadi bunga desa.
“ Empat belas tahun umurnya pada waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia kembang kampung nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang.”(Pramoedya, 2007:11)
Kemudian cerita bergeser, Gadis Pantai dinikahkan dengan seorang Bendoro, Pembesar Jawa (priyayi) yang bekerja di kantor administrasi Belanda, seorang pria yang belum pernah ia kenali dan bahkan ia pun belum pernah bertatap wajah dengan Bendoro tersebut. Ia dinikahkan hanya dengan sebilah keris sebagai perwakilan dari sang Bendoro. Pernikahan yang dianggap dapat mengkangkat derajatnya yang berasal dari kampung nelayan yang miskin.
“Sst. Jangan nangis. Jangan nangis. Hari ini kau menjadi istri pembesar …. Stt. Jangan nangis. Mulai hari ini kau tinggal di gedung besar nak. Tidak lagi di gubuk. Kau tak lagi buang air di pantai. Kau tak lagi menjahit layar dan jala, tapi sutera, nak. Sst, ssst. Jangan nangis… Sst. Jangan nangis, nak. Hari ini kau jadi istri orang kaya.”
(Pramoedya, 2007:12)
Sisi religi juga digambarkan oleh narator. Bagaimana agama dijadikan panutan. Bagaimana agama begitu asing ditelinga, dimata bahkan dihati rakyat jelata. Hanya orang-orang yang memiliki darah biru saja yang berhak untuk mempelajari agama. Orang yang memiliki pengetahuan agama lebih tinggi derajatnya, mereka disebut priyayi.
“ Bujang itu kemudian mengajarinya mengambil air wudu. ‘Air suci selelum sembahyang, Mas Nganten.’ ‘apakah mandi dengan air sebanyak itu kurang bersih?’ tanyanya. ‘Selamanya memang begini, Mas Nganten.’ Untuk pertama kali dalam hidupnya Gadis Pantai bersuci diri dengan air wudu dan dengan sendirinya bersiap untuk bersembahyang.”(Pramoedya, 2007:34)
Cerita pun berlanjut, narator membuka tabir diantara Bendoro dan rakyat dari kampung nelayan yang miskin. Narator memberikan kritikan terhadap kesenjangan yang terjadi diantara mereka. Kritikan terhadap anggapan bahwa orang priyayi adalah orang-orang suci yang dekat dengan Tuhan, sedangkan orang miskin adalah orang-orang hina yang dikutuk-Nya. Narator juga menggambarkan perbedaan dalam strata sosial, terutama dalam pangan dan makan. Perbedaan yang sangat mencolok sekali. Orang yang berderajat tinggi seperti Bendoro mengikuti pola makan orang Eropa. Cara makan pun mereka meniru gaya Eropa yang mereka anggap sebagai manusia berderajat tinggi. Terlihat sekali kesenjangan diantara orang yang berderajat dengan orang rendahan. Menggunakan sedok-garpu bahkan duduk dimeja makan sebagai tanda mereka adalah orang berkelas. Sungguh, budaya Eropa sudah merangsek masuk ke dalam jiwa masing-masing orang Jawa yang berderajat. Orang rendahan, jangankan roti ataupun bubur havermouth, bisa melihat nasi saja ibaratkan melihat segepok emas. Tak luput pula narator mulai menceritakan perwatakan dari pada sang Bendoro.
“Tak perlulah kalau kau tak suka. Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. sepuluh tahun yang lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rejeki mereka tidak lancar, mereka miskin.”(Pramoedya, 2007:41)
“kau tinggalkan rumah ini! Bawa seluruh perhiasan dan pakaian. Semua yang telah kuberikan kepadamu. Bapakmu sudah kuberikan uang kerugian, cukup buat membeli dua perahu sekaligus dengan segala perlengkapannya. Kau sendiri, ini…,” Bendoro mengulurkan kantong berat berisikan mata uang… pesangon. “Carilah suami yang baik, dan lupakan segala dari gedung ini. Lupakan aku, ngerti?”(pramoedya, 2007:257)
Dengan peralihan posisi dan jarak di atas, narator dapat memperlihatkan kepada pihak mana, kepada tokoh-tokoh yang mana, ia berpihak, berseimpati dan kepada pihak mana, tokoh-tokoh yang mana ia bersikap anti pati. Dalam novel ini jelas, narator berpihak dan bersimpati kepada Gadis Pantai. Selain itu juga narator menunjukkan simpatinya kepada orang tua Gadis Pantai, si Dul, kusir dokar sewaan (man), penduduk kampung nelayan yang miskin dan juga seorang bujang wanita yang membantu Gadis Pantai ketika mengawali kehidupannya sebagai Mas Nganten. Perasaan anti pati narator ditunjukkan terutama kepada Bendoro, para bagus, mandor, kompeni, Bendoro Demak, Mardikun (mak Pin), dan Mardinah. Bendoro adalah seorang priyayi yang bekerja kepada Belanda. Ia sangat kaya raya dan memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi, sudah berhaji dua kali. Bendoro dikatakan masih bujang karena belum menikahi perempuan yang sederajat dengannya, walaupun toh ia telah menikah berkali-kali dengan para perempuan yang disebut Mas Nganten (perempuan yang dijadikan gundik, perempuan yang melayani kebutuhan seks para pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sederajat dengannya), seperti halnya Gadis Pantai. Bendoro dengan seenaknya mencampakkan para Mas Nganten tersebut setelah mereka memberikan satu anak kepadanya, merenggut paksa dan memisahkan anak dari ibunya; yang kemudian ia memutuskan untuk menikahi perempuan yang lain lagi. Kehidupan rakyat dalam cengkraman feodalisme Jawa, sehingga merelakan anak gadis mereka yang masih belia dinikahi oleh Bendoro dengan maksud agar dapat menaikkan derajatnya. Sikap dan pandangan feodalisme Jawa yang berakar kuat disanubari Bendoro, dan para Bendoro lainnya, sehingga bersikap seenak perutnya sendiri. Mereka mempunyai hak untuk menindas, menginjak dan meremehkan harkat dan martabat rakyat jelata.
Novel ini nantinya akan menceritakan kehidupan Gadis Pantai ketika ia menjadi Mas Nganten dan hingga akhirnya dicampakkan begitu saja oleh Bendoro setelah ia melahirkan seorang bayi perempuan, kerangka sikap narator diatas sekaligus kerangka sikapnya terhadap feodalisme Jawa yang tergambar pada sosok Bendoro. Sangat jelas sekali, narator berpihak kepada Gadis Pantai sebagai rakyat kecil yang merangkak diantara feodalisme Jawa. Kepasrahan rakyat bawah dalam menerima nasibnya sebagai kutukan Tuhan.
Novel ini dibuka dengan suasana pantai, tempat dimana Gadis Pantai itu tinggal. Kehidupan yang ia rasa “luar biasa”. Angin dan air laut, deru ombak, perahu-perahu, ikan dan jala-jala yang selalu menghiasi kehidupannya sehari-hari. Hingga suatu ketika, kebahagiaan yang ia rasakan sebagai Gadis Pantai sirna.
“ Hari demi hari batinnya diisi dengan derai ombak dengan pandangannya oleh perahu-perahu yang berangkat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, berlabuh di muara, menurunkan ikan tangkapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka. Ia telah meninggalkan abad Sembilan belas, memasuki abad duapuluh. Angin yang bersuling di puncak pohon-pohon cemara tidak membuat pertumbuhannya lebih baik. Ia tetap kecil mungil bermata jeli. Dan tidak diketahuinya – di antara derai ombak abadi suling angin dan datang-perginya perahu, seseorang telah mencatatnya dalam hatinya.”(Pramoedya, 2007:11)
Bendoro, yang merupakan seorang feudal Jawa yang bekerja pada Belanda, sangatkah kaya raya. Oleh karena itu ia sangat disegani rakyatnya, terutama masyarakat pesisir pantai. Rumah yang berbeda dengan rumah-rumah kebanyakan orang Jawa, rumah ini kental sekali dengan nuansa Eropa sebagai tanda bahwa ia adalah orang yang berderajat.
“ Bujang itu pergi masuk ke dalam pintu yang menganga dari pagar tembok agak rendah. Barang ke mana mata ditujukan, bila tak keatas, yang nampak hanya warna putih kapur tembok. Sedangkan di samping kanan irirngan pengantin, di gedung utama, membumbung lantai setinggi pinggang, kemudian sebuah pendopo dengan tiga baris tiang putih. Gadis Pantai takkan bisa memeluknya, bapak pun barangkali juga tidak. Tiang-tiang itu lebih besar dari pelukan tangan manusia. Setiap baris terdiri atas enam tiang. Burung gereja kecil-kecil beterbangan bermain-main di antara burung walet. Dan gagak pada pohon-pohon beringin tak henti-hentinya bergaok menyeramkan.”(Pramoedya, 2007:17)
Dengan kata lain, dalam novel ini rumah dipandang sebagai lambang identitas seseorang yang menjadi pemiliknya. Kemegahan dan kemewahan tempat rumah dan segala isi yang ada di dalam rumah Bendoro tersebut menunjukkan kejelasan identitas dan sekaligus status sosialnya. Sebaliknya, kondisi rumah di perkampungan nelayan yang miskin sangat memperjelas status sosialnya. Yang mana memandang nasi itu barang yang mewah, melihat nasi ibarat melihat segenggam emas. Dan bahkan memiliki sebuah cermin yang bagus dan besar pun tak lebih berarti dari pada memakan sekarung jagung. Nasi menjadi barang yang mewah, melebihi cermin yang indah, dan tentu saja, emas menjadi barang yang tak akan pernah termimpikan sebelumnya. Peruntungan dan nasib, dimana ia dilahirkan, di lingkungan priyayi ataukah di antara peluh rakyat miskin, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka (bagi yang terlahir sebagai rakyat jelata) merasa menjadi manusia yang dikutuk Tuhan. Dan di dalam novel ini hanya ditunjukkan 2 model rumah yang bertolak belakang, yaitu rumah Bendoro dan rumah-rumah milik rakyat kampung nelayan.
Kepulangan Gadis Pantai ke kampung halamannya di pesisir pantai, setelah dua tahun ia berada dalam gedung besar milik Bendoro, membuatnya merasa asing. Karena, selama dua tahun itu lah ia terkurung dengan berbagai aturan ini-itu, begini-begitu, sedangkan di kampung nelayan ia merasa bebas dari segala norma dan aturan yang mengikatnya disana.
Sejak semula novel ini menggambarkan betapa hebatnya feodalisme Jawa pada masa itu. Dan juga menggambarkan bagaimana masyarakat setempat berlomba untuk menikahkan anak gadisnya dengan para pembesar Jawa (Bendoro) dengan maksud untuk menaikkan derajat, menjadi orang yang berderajat dan mendapatkan prestisi di kalangannya. Selain itu juga, novel ini juga menggambarkan usaha-usaha masyarakat setempat (terutama kalangan Bendoro atau priyayi) untuk menjadi sama dengan Belanda. Dari makanan yang para priyayi makan, dari perangkat makan (seperti sendok-garpu, pisau makan, serta piring yang digunakan), kebiasaan dan simbol-simbol budaya yang ke-belanda-belandaan, hingga sampai kemampuan dalam berbahasa Belanda.
Hal ini dapat kita lihat dari kutipan sebagai berikut.
“Seperempat jam kemudian terdengar suara Bendoro Guru berbicara dengan bahasa yang mereka tak kenal dan suara Agus Rahmat menjawab dalam bahasa yang mereka pu tidak kenal.
“Betapa hebatnya Bendoro mengajar putera-puteranya,” kepala kampung berbisik. “Sekecil itu sudah bisa bicara bahasa Belanda. Satu kata pun kita tak paham. Anakmu nanti,” kepala kampung menghadapkan mukanya kepada Gadis Pantai, “juga bakal diajarkan seperti itu.” Gadis Pantai Kecut, wajahnya meraih tangan emak dan menggenggamnya erat-erat.”(Pramoedya, 2007:20)
“… Roti hangat yang masih mengepul yang dikirimkan tadi dari bengkel roti, telah tersayat-sayat di atas meja. Botol-botol selai, serbuk coklat, gula-kembang, perasan air jeruk, krupuk udang, dan bubur havermouth, telah terderet diatas meja. Kopi mengepul-ngepul dari cangkir porselen buatan Jepang. Sendok-garpu, pisau, semua dari perak putih mengkilat berderet-deret memusingkan kepala Gadis Pantai. Sebuah tempat buah dari perak begitu menyilaukan matanya. Otaknya terpilin-pilin dan ia lapar. apia pa guna alat sebanyak itu dan serba mengkilat?”
“…. Gadis pantai menggigil. Ia tak tahu yang bernama coklat, gula-kembang, dan mana pula selai.”(Pramoedya, 2007:42)
Dari kutipan diatas dapat dilihat dengan jelas, betapa kemampuan berbahasa Belanda itu menjadi sesuatu yang sangat mewah. Keinginan mereka selain mendapatkan prestisi masyarakat dan juga menaikkan derajatnya, mengawinkan anaknya dengan Bendoro adalah salah satu tujuan agar kelak anak yang dilahirkan oleh anaknya (cucu) dapat hidup dan dibesarkan di lingkungan priyayi sehingga anak tersebut dapat menjadi seorang pembesar pula.
Selain itu juga, pola makan ala Eropa dengan mengkonsumsi roti dan bubur gandum sebagai sarapan paginya, memberikan nilai-nilai sosial tersendiri bagi feodal Jawa. Pada masa itu, beras nasi menjadi barang yang mewah, apa lagi roti. Tak seorangpun dapat mencicipi roti dan bubur gandum terkeculai jika ia seorang priyayi, orang berdarah biru (ningrat), orang Belanda, orang yang menjadi kaki tangan Belanda, dan juga orang yang menjadi Mas Nganten bagi Bendoro. Mereka (khususnya orang kalangan atas/priyayi) berusaha menyetarakan diri dengan Belanda, setidaknya dalam pola makan tidaklah akan merugi karena mereka akan diihat sebagai mahluk bermartabat karena bisa makan seperti orang Belanda, dan menggunakan sendok-garpu seperti apa yang orang Belanda gunakan untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Pola pikir dan bahkan bentuk fisik pun tergambar dalam novel ini. Betapa sungguh berbedanya tubuh seorang priyayi dengan rakyat jelata. Sehingga terlihat sekalimana ia yang seorang priyayi dan mana pula ia seorang dari kalangan bawah. Orang yang langsat adalah orang yang mulia, sedangan orang yang tubuhnya terkelantang sinar matahari adalah hina. Seperti kutipan berikut.
“Waktu Bendoro terlelap tidur, dengan kepala pada lengannya, ia mencoba mengamati wajahnya. Begitu langsat, pikirnya. Orang mulia, pikirnya, tak perlu terkelantang di terik matahari. Betapa lunak kulitnya dan selalu tersapu selapis ringan lemak muda! Ia ingin rasai dengan tangannya betapa lunak kulitnya, seperti ia mengemasi si adik kecil dulu. Ia tak berani. Ia tergeletak diam-diam di situ tanpa berani bergerak, sampai jago-jago di belakang kamarnya mulai berkokok. Jam tiga. Dengan sigap Bendoro bangun. Dan dengan sendirinya ia pun ikut serta bangkit.”(Pramoedya, 2007:33)
Pentingnya gaya hidup atau penampilan dalam novel ini tidak hanya terdapat dalam persoalan hubungan rasial antara priyayi dengan rakyat biasa, melainkan juga dalam persoalan hubungan sosial antar anggota masyarakat setempat itu sendiri. Gaya hidup adalah indicator penting dari status sosial seseorang dan gaya hidup itu pula lah yang menempatkan Bendoro ke dalam golongan masyarakat dengan status sosial yang tinggi. Sedangkan, Gadis Pantai, walaupun ia telah dinikahi oleh Bendoro dan tinggal di gedungnya, namun tetap saja ia dianggap sebagai perempuan kelas rendah, sehingga membuatnya terjepit dalam status sosial yang telah membiarkan ia lahir dan besar di dalamnya. Kekuatan tangan-tangan feudal Jawa yang tak kan mampu terlawan bagi tangan-tangan semacam Gadis Pantai, kepala kampung atau bahkan bapaknya sendiri.
Novel ini setidaknya ada empat tokoh perempuan yang ada di dalamnya, yaitu Gadis Pantai, emak, bujang wanita, Mardinah dan Mas Ayu (Bendoro wanita yang akan dinikahi Bendoro). Gadis Pantai adalah gadis belia yang sangat lugu, tentu saja karena ia baru berusia 14 tahun kala itu, sebelum ia dinikahi Bendoro. Ia berasal dari kalangan rakyat bawah, penduduk kampung nelayan yang miskin, ia pun buta akan ilmu pengetahuan dan tata karma. Sedangkan Bendoro adalah priyayi yang terhormat yang memiliki pengetahuan agama yang luas. Kontras sekali dengan Mardinah. Seorang tokoh antagonis di dalam novel ini. Ia tiba-tiba dihadirkan oleh narator sebagai seorang janda, yang pernah menjadi Mas Nganten. Ia lahir di kota Semarang, ia sangat muda dan karena ia mampu membaca ia jauh lebih cerdas dari pada Gadis Pantai. Mardinah pun tahu benar bagaimana seharusnya menjadi Mas Ngaten yang baik dan benar. Karena merasa lebih pintar, dan lebih terhormat, Mardinah begitu meremehkan Gadis Pantai. Karena ia menganggap ia lebih berderajat karena ia lahir di kota sedangkan Gadis Pantai lahir di perkampungan nelayan yang miskin; Mardinah mampu membaca dan menulis, sedangkan Gadis Pantai hanya mampu membaca Al Quran saja. Ambisinya yang ingin membinasakan Gadis Pantai adalah hanya semata-mata karena ia di janjikan untuk dijadikan istri kelima bagi Bendoro Demak jika ia berhasil menyingkirkan Gadis Pantai dan menikahkan putri Bendoro Demak dengan Bendoro (priyayi yang menikahi Gadis Pantai).
Emak adalah ibu dari Gadis Pantai yang mengharapkan anaknya mendapat penghidupan dan derajat yang lebih baik. Bujang perempuan adalah pelayan Gadis Pantai ketika ia masih mengawali kehidupannya sebagai Mas Nganten. Sedangkan Mas Ayu adalah seorang perempuan berderajat yang akan dinikahi oleh Bendoro.
Hal yang sangat mencolok dalam novel ini adalah terpisahnya ibu dan anak secara paksa, dan diceraikannya seorang Mas Nganten setelah ia melahirkan anak bagi Bendoro. Dalam masyarakat feodal nampak sekali perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. Berapa besarnya keinginan rakyat feodal untuk mendapatkan anak laki-laki. Hal ini dikarenakan mereka mengharapkan adanya penerus bagi mereka. Dalam masyarakat ini anak perempuan hanya dianggap sebagai pengganggu saja dan tidak dapat dibanggakan. Perempuan dianggap sebagai tempat pelepasan birahi dan melahirkan anak saja. Apa lagi jika perempuan itu berasal dari rakyat rendahan. Selain itu pula, bagi seorang perempuan yang menjadi Mas Nganten akan diceraikan begitu saja oleh Bendoro setelah ia memberikan seorang anak kepada Bendoronya.
Seperti halnya apa yang dialami Gadis Pantai dalam novel ini. Setelah masuk tahun ketiga dari pernikahannya, dan setelah ia melahirkan seorang anak yang ternyata perempuan. Betapa murkanya sang Bendoro dan selang beberapa bulan setelah melahirkan, Gadis Pantai pun diceraikannya. Seperti kutipan berikut.
“Jadi sudah lahir dia. Aku dengar perempuan bayimu, benar?” “Sahaya, Bendoro.” “Jadi cuma perempuan?” “Seribu ampun, Bendoro.” Bendoro membalikkan badan, keluar kamar sambil menutup pintu kembali. Gadis Pantai memiringkan badan, di peluknya bayinya dan diciuminya rambutnya…”(Pramoedya, 2007: 253)
“Anak ini, tuanku, bagaimana nasib anak ini?” Gadis Pantai memekik rintihan. “Anak itu? Apa guna kau pikirkan? Banyak orang bisa urus dia. Jangan pikirkan si bayi.” “Mestikah sahaya pergi tanpa anak sendiri? Tak boleh balik ke kota untuk melihatnya?” “ Lupakan bayimu. Anggap dirimu tak pernah punya anak.” Gadis Pantai tersedan-sedan. “Sahaya harus berangkat Bendoro, tanpa anak sahaya sendiri?” “Aku bilang kau tak punya anak. Kau belum pernah punya anak.” “Sahaya Bendoro.” “Pergilah.” “Tanpa anak ini perhiasan dan uang tanpa artinya, Bendoro.” “Kau boleh berikan pada si bayi.” Baik bapak maupun Gadis Pantai terdiam kehabisan kata. Dan bendoro menggoyang-goyangkan kursinya.”(Pramoedya, 2007:258)
Gadis Pantai, seorang gadis dari kalangan rakyat rendahan, ia belum mengenal cinta dan dicintai, dan ia pun belum banyak tahu tentang kehidupan dan bahkan pengetahuan tentang etika dan tata karma rakyat feodal. Dalam usia yang sangat belia ia menjadi Mas Nganten. Kebahagiaan baginya adalah, masa-masa ketika ia masih hidup di pesisir pantai, dikampung nelayan yang kumuh dan miskin, bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya; bermain, bercengrama dan tertawa lepas bersama teman-temannya diatara bulir-bulir pasir hangat yang menjadi alas kakinya dan deburan ombak sebagai dendangan yang selalu mengiringi langkahnya. Semua terenggut ketika ia menjadi istri seorang Bendoro, yang walaupun dalam kehidupan priyayi ia mendapatkan cukup makan, pakaian yang bagus dan perhiasan yang indah, namun sesingkat waktu ia dicampakkan begitu saja, anaknya terenggut paksa dari pelukkannya. Ia pun kembali menapaki hidupnya semula, sebagai Gadis Panta dari golongan bawah.
menurutku resensimu ini kurang kena, maksudnya tidak mendalam pembahasannya tentang Pramoedya. di dalam keluarga Pram, beliau tidak menggunakan tutur2 jawa untuk anaknya, dan sangat paham historis jawa. kalau saja kau bongkar antara hubungan karya dengan penulisnya, resensi ini akn lebih menarik dan mantap untuk dijadikan bahan diskusi di Komsas Langkah (ah, macam betul aja pun).
BalasHapusdan, struktural naratif yang kau sebut seperti apa? kenapa tidak ada penjelasannya, jadi seolah-olah berbau 'klise' doanx, tawarkan kepada pembaca mengenai hipotesa itu.
-fredy pengembara-
fredywp.blogspot.com