Struktur novel’’Atheis’’ yang sangat komplek. Novel ini pengungkapan cerita menggunakan teknik berlapis. Dimana pengenalan tokoh utamanya ( Hasan ) melalui tokoh yang lain. Tokoh-tokoh dalam novel Etheis antara lain Hasan, kartini, Rusli, Anwar, Raden Wiradikarta ( Ayah Hasan ) , Haji Dahlan ( Guru Hasan), Fatimah.
Achdiat mengawali ceritanya dari bagian akhir. Hal ini memberikan kesan kepada kita bahwa Achdiat tidak mau tokoh utamanya diketahui pembaca. Perhatikan petikan berikut
‘’seponyongan Kartini keluar dari sebuah kamar dalam kantor Ken peite. Mata kabur terpancang dalam muka yang pucat. Selopnya terseret-seret di atas lantai gedung yang seram itu. Tangan kirinya berpegang lemah pada pundak Rusli yang membimbingnya, sedang saya memegang tangan kanannya.
Perempuan malang itu amat lemah dan lesu nampaknya, seolah-olah hanya seonggok daging layaknya yang tak berhayat diseret-seret di atas lantai…’’
Dari kutipan di atas kita tidak tau siapa Kartini, siapa Rusli, dan siapa saya. Begitulah cara Achdiat dalam mengulas para tokohnya untuk mewakili bentuk jiwa masing-masing pelakunya.
Teknik pelapisan yang disajikan oleh Achdiat dalam novel’’Atheis’’ adalah bentuk pengenalan pelaku utama Hasan oleh tokoh lain yaitu tokoh saya.. Perhatikan contoh kutipan berikut ini
‘’Ia bernama Hasan…( tapi baiklah saya ceritakan sekarang saja, bahwa itu sebetulnya itu bukan nama sebenarnya, dan juga orang-orang yang bersangkutan dengan dia, yang nanti akan ternyata kepada kita dari sebuah naskah yang diberikan kepada saya, bukanlah Kartini, Rusli, Anwar dan lain-lain melainkan mereka mempunyai nama yang lain sekali. Tapi biasa saja di dalam suatu cerita Dichtungund Wahrheit seperti yang dibikin Hasan itu, nama-nama sebenarnya diganti dengan nama lain).’’
Dari kutipan di atas membuktikan bahwa sebenarnya tokoh utama[ Hasan] diperkenalkan kepada para pembaca melalui tokoh saya, yang tiada lain sang pengarang sendiri. Bentuk pelapisan ini yang membuat kita berpikir lebih dalam, mengapa harus demikian ? Achdiat sendiri pun tidak tahu, menciptakan Hasan dalam Atheis secara tersembunyi ternyata melahirkan Hasan pula di era milenium ini. Hasan di era milenium juga demikian. Mereka tidak tahu dari mana, kapan, dan bagaimana Hasan datang. Alur cerita Atheislah yang membawa kita ke alam Atheis lama menjadi alam Atheis yang canggih. Inilah yang melahirkan manusia-manusia dari berbagai tipe.
Hasan adalah salah satu tokoh novel Atheis dilahirkan dari keluarga Raden Wiradikarta . Ayah Hasan seorang pensiunan matri guru (Kepala SD).Hasan dilahirkan dari keluarga yang alim. Sejak kecil ia dididik dalam pendidikan Islam. Di sekolahnya, Hasan juga sempat disebut-sebut sebagai Kyai. Namun anehnya, Hasan tak pernah mau menerimanya
Dengan berbekal kemampuan agama yang serba sedikit Hasan mencoba keluar dari kungkungan keluarga. Setelah beranjak dewasa ia harus mengenal dunia luar. Dunia yang jelas-jelas berbeda dari lingkungan awal (linkungan keluarga yang fanatis islamis) Perkenalan Hasan dengan Anwar dan Rusli melalui Kartini, membawa pengaruh bagi dirinya. Ia mulai mengenal ajaran-ajaran yang menurutnya sangat berbeda bahkan perbedaannya 180o. Hal ini berarti Hasan harus mau dan mampu menerima ajaran-ajara yang diperoleh melalui Anwar sang Anarkis dan Rusli yang Marxisme. Dua aliran inilah yang membentuk jiwa Hasan semakin tak menentu. Ia sering melamun, berdiam diri, dan memikirkan serta membanding-bandingkan ajaran yang lama (islam) dengan ajran baru(Anarkis dan (Marxisme). Hal ini dapat kita lihat pada kutipan brikut:
‘’Sekarang saya sudah dewasa,’’kataku,’’ sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya, juga dalam pendirian saya terhadap agama.’’
Dan entalah, walaupun saya masih sangsi akan kebenaran teori-teorinya . Rusli dan Anwar tentang’’ketuhana bikinan manusia’’ itu namun dalam reaksi terhadap desakan-desakan ayah yang seperti biasa memuji aliran tarikat dan mistik pada umumnya, maka kutumpahkan segala teori Rusli dan Anwar itu. Seolah-olah sudah menjadi atheis pula. Atheis mutlak seperti kedua temanku.’’
Agaknya, tak ada pukulan yang lebih hebat bagi ayah daripada ucapan-ucapan itu.
Sekarang terasa benar olehku, betapa kejamnya perkataanku itu terhadap ayah dan ibu yang selama itu selalu megah akan diriku sebagai anaknya yang ‘’alim’’ dan ‘’saleh’’
.
Ini jelaslah bahwa Hasan telah memiliki ajaran yang baru dan belum mendalam. Berbekal ajaran baru, ia mulai melawan pada kedua orang tua dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan yang dinilai sangat kejam. Perlakuan ini berlangsung dan berlanjut hingga dirinya menentukan pilihan pasangan hidupnya yaitu dengan Kartini.
Dalam novel Atheis, tokoh Hasan merupakan tipe manusia yang bersikap tidak punya pendirian, ia selalu bimbang, ragu tidak mudah percaya, cepat marah dan pencemburu. Hal ini tunjukan pada kutipan berikut :
‘’Ejekan Kartini biasanya disertai dengan tertawa kecil yang mencetus dari
mulutnya seperti anak kuda yang meringkik. Dan entahlah, tak tahan lagi aku,
kalau aku mendengar ringkikan kuda seperti itu. Sampai-sampai aku lupa. Kutempaleng Kartini sehingga ia menjerit’’…
‘’Besar kecurigaanku, bahwa orang itu tak lain tak bukan adalah Anwar sendiri. Dengan hilangnya kepercayaan dan timbulnya kecurigaan antara kami, maka api neraka sudah sampai kepada puncaknya.’’
Manusia seperti Hasan mudah dijadikan peluru yang setiap saat untuk ditembakkan kepada sasaran. Tokoh Hasan bersikap selalu mencurigai oang lain, tidak percaya, juga selalu mementingkan dirinya sendiri. Oleh karena itu Hasan sekarang ini diperbanyak jumlahnya. Kemampuan para Hasan pun ditingkatkan. Kesemuannya dengan tujuan untuk mempermudah sekelompok sekelompok dapat menggunakan sewaktu-waktu.
Dari pendapat Hamzah jelas bahwa seseorang yang dalam kondisi tidak stabil lebih mudah dipengaruhi daripada orang yang sudah mantap. Oleh karena sekelompok orang yang menginginkan kehancuran bangsa kita, banyak menciptakan Hasan dengan tujuan untuk mempermudah jalannya
Jiwa Hasan.yang demikian merupakan bentuk perlawanan dirinya dengan orang di luar dari dirinya. Nilai-nilai yang terkandung adalah sikap tak menghormati kepada kedua orang tua.Hasan belum menyadari segala kekurangannya dari apa yang ia dapatkan setelah perkenalan dengan Rusli dan Anwar. Kita lihat petikan berikut ini :
‘’Baru sekali ini aku bertengkar dengan orang tua. Dan alangkah hebatnya pertengkaran itu pertengkaran paham, pertengkaran pendirian, pertengkaran kepercayaan.
Tapi ah, mengapa aku tidak bersandiwara saja ? mengapa aku harus berterang-terangan memperlihatkan sikapku yang telah berubah itu terhadap agama ? karena Anwar tidak setuju dengan sikap sandiwara itu. Dengan ‘’ huichelarij’’seperti katanya.’’
Bila dilihat dari sikap Hasan, maka dapat dikatakan sebagai sikap pemberontakan. Karena menganggap paham, pendirian dan kepercayaan yang ia ketahui adalh benar adanya. Sehingga segala sesuatu yang ia lakukan pun merupakan pencerminan dari kebenaran yang dimiliki. Sikap-sikap Hasan seperti itu mulai muncul di era mileniumsekarang ini. Sikap-sikap tersebut ditampilkan dalam bentuk tindak kekerasan Sehingga semakin jelas bahwa Hasan di era orde lama hanya satu dalam novel Atheis, sedangkan di era milenium bukan hanya satu melainkan ribuan bahkan jutaan dan siap menerkam manusia yang menghalangi langkah-langkahnya.
Sikap itu diaktualisasikan dalam bentuk yang lebih brutal tanpa melihat dan memikirkan siapa yang menjadi korbannya. Seperti peristiwa yang melanda belakangan ini di Indonesia, sangat meresahkan kita semua.. Pengeboman . pembantaian, pertikaian, aksi-aksi, demonstrasi semuanya sudah direkayasa oleh sekelompok manusia untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Perbuatan yang bersifat anarki dan maxisme mulai nampak ditahun perubahan milenium. Manusia bukan lagi sesuatu yang harus dihormati lebih dari seluruh mahluk lainnya di dunia. Namun manusia dibuat seperti kelinci percobaan bagi orang-orang yang hanya untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Harga manusia tidak lebih tinggi dari sebuah sendok garpu. Menurutnya rasa kurang percaya pada orang lain, saling mencurigai mulai bermunculan.
Berdasarkan kenyataan yang ada sekarang ini jelaslah, bahwa ada kelompok yang sengaja membentuk tokoh Hasan dalam novel Atheis di era milenium. Sehinga dengan banyaknya Hasan akan lebih mudah untuk dipecundangi dan dijadikan alat untuk menuju sukses melicinkan jalannya. Namun dalam novel Athes tokoh Hasan akhirnya pergi meninggalkan teman-temannya. Ia mati mengenaskan, tidak diceritakan oleh Achdiat bagaimana dan siapa yang menolongnya, perhatikan kutipan berikut ini :
‘’Tiba-tiba… tar tar tar aduh
Hasan jatuh tersungkur. Darah menyerobot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandikan darah. Kemudian dengan bibir melepas kata ‘’Allahu Akbar’’, tak bergerak lagi….
‘’Mata-mata ya Mata-mata Orang jahat bekeru
Dengan demikian harapan kita tokoh Hasan di era milenium akan mati dengan senjatanya sendiri. Namun semua ini tergantung dari diri kita, apakah kita mau dijadikan Hasan-hasan berikutnya? Tentu kita jawab tidak, karena kita punya sikap sendiriyang lebih baik. Kita masih tetap berpegang teguh pada iman dan ajaran agama yang kita anut. Semoga Tuhan selalu melindungi kita, bangsa dan negara tercinta ini.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar