Wanita Indonesia
Layar Terkembang merupakan sebuah novel bernuansa roman karya Sutan Takdir Alisjahbana. Ceritanya melukiskan perjuangan wanita Indonesia beserta cita-citanya. Roman ini memperkenalkan masalah wanita Indonesia yang mulai merangkak pada pemikiran modern. Kaum wanita mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita, berwawasan luas, serta bercita-cita mandiri. Masalah lain yang dipersoalkan dalam roman ini, yaitu masalah kebudayaan barat dan timur. Juga termasuk masalah agama.
Kalau novel ini bermaksud mendidik pembaca agar menghormati kaum perempuan, maka inilah contoh soal tentang pendidikan yang memberikan ilusi karena tidak berdasarkan pada kenyataan dan hanya berdasarkan angan-angan pengarang yang tidak bisa dibenarkan dalam kehidupan manusia.
Sifat amtenar dalam novel Sutan Takdir Ali Syahbana (STA) baru muncul dalam novel Layar Terkembang karena lingkungan tempat cerita itu bermain adalah lingkungan amtenar. Tokoh utama cerita itu adalah sepasang gadis bersaudara bernama Tuti dan Maria, anak bekas wedana Banten, Raden Wiraatmaja, yang melewatkan masa pensiunnya di Jakarta. Maria adalah siswa HBS dan Tuti sudah bekerja dan aktif sebagai orang pergerakan yang turut memimpin organisasi perempuan bernama Puteri Sedar. Lingkungan pergaulan mereka adalah siswa dan guru-guru Belanda di satu pihak dan orang-orang pergerakan di lain pihak.
Maria jatuh cinta kepada Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran di Jakarta, yang sedang menyiapkan ujian doktoralnya. Ayah Yusuf adalah demang Munaf di Martapura di Sumatera Selatan. Maria, gadis santai yang agak manja, suka akan kembang dan tanam-tanaman, membaca buku-buku tentang cinta, dan gemar akan baju-baju bagus yang dipilih dengan selera tinggi. Tuti, kakaknya, tampil sebagai perempuan intelektual yang sibuk dengan buku-bukunya, tegas dalam sikap-sikapnya, dan terlibat aktif dalam pergerakan untuk memajukan kaum perempuan.
Yusuf memang jatuh cinta kepada Maria dan keduanya saling merindukan setiap saat. Meski demikian, dia sangat menghormati dan mengagumi pikiran dan pendirian Tuti, serta terkesan oleh sikapnya yang pasti dan penuh komitmen kepada cita-cita kaum perempuan.
“Setelah memperoleh restu dari kedua orang tuanya di Martapura, Yusuf menyusul Maria ke Bandung. Di sanalah, di sekitar air terjun Dago, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria. Dan perjalanan cinta antara Yusuf dan Maria pun bermula, serupa kapal dengan layar terkembang mengarungi samudera kehidupan. Dan Tuti yang kian sibuk dengan buku-bukunya, diam-diam mendamba kehangatan cinta seperti yang tengah dirasa Yusuf dan Maria.”
Munculnya Yusuf dalam kehidupan dua gadis bersaudara itu menimbulkan efek berbeda. Maria merasa menemukan lelaki idamannya, dan tanpa ragu bersedia menyerahkan diri sebagai istrinya, apabila pelajaran keduanya telah selesai. Tuti dalam pada itu tetap dengan kesibukan dan cita-citanya, tetapi pada waktu-waktu tertentu merasa terganggu juga oleh kemesraan yang diperlihatkan Maria dan Yusuf.
Betapa pun pengarang terlihat sangat mengunggulkan Tuti, pada akhir cerita ternyata Tuti dapat ditaklukkan oleh tuntutan cinta ketika Maria yang mengidap penyakit TBC yang tak dapat disembuhkan menyampaikan amanat kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya jangan mencari peruntungan pada orang lain, tetapi saling menerima sebagai pasangan yang saling mencintai.
Akhir cerita ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Kepada pembaca tidak dijelaskan bagaimana Tuti yang keras hati dapat dengan mudahnya menerima permintaan adiknya untuk menjadi calon istri Yusuf dan apakah Tuti yakin kalau setelah menikah nanti, Yusuf masih menghormati cita-cita dan perjuanganny a untuk kaum perempuan
“Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalu saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya beberapa dalam beberapa hari ini…. Inilah permintaan saya yang penghabisan, dan saya, saya tidak rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain.” Demikianlah pesan terakhir almarhum, Maria
.Hal ini perlu dipertanyakan karena masalah inilah yang menyebabkan Tuti telah menolak cinta dua laki-laki sebelumnya. Demikian pula Yusuf, apakah dia menerima Tuti karena menghormati permintaan Maria atau semata-mata karena merasa kasihan kepada Tuti? Ataukah sudah semenjak awal hatinya terbelah dua antara Maria dan Tuti meskipun hal ini tak terlihat dalam teks-teks novel ini?
Akhir cerita memang mengharukan, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak memperoleh jawabannya. Akibatnya, ketika layar itu terkembang, tidak jelas pula apakah yang terkembang adalah cinta antara laki-laki dan perempuan ataukah terkembang cita-cita tentang meningkatnya martabat kaum perempuan yang dengan gigih diperjuangkan Tuti sebelumnya.
Novel ini ditulis berdasarkan gagasan pengarang tentang Indonesia yang harus bangun dengan semangat orang-orang muda yang maju, yang banyak menimba ilmu pengetahuan di barat, yang intelektualistis, egoistis, materialistis, dan individualistis [Sapardi Djoko Damono, Penyair, kritikus sastra dan Guru Besar FIB UI]
Secara keseluruhan isi cerita ini sangatlah bagus. Alur yang ditulis sudah runtut dimulai dari pengenalan, klimaks, antiklimaks, hingga penyelesaian yang sangat dramatis. Novel ini bisa membawa para pembaca seolah-olah menjadi audiens dalam sebuah drama percintaan yang mengharukan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap insan pasti akan mempunyai pasangan hidup jika Sang Penguasa telah menakdirkannya yang mana ia akan menjadi pendamping hidup kita dikala kita suka maupun duka.
Novel ini merupakan novel penyemangat bagi perempuan. Karena ada suatu hal yang sangat mengherankan yaitu pada tahun 1936 saat pertama kali novel ini diterbitkan. Wanita Indonesia tidak munggkin untuk berorganisai bebas seperti Tuti. Wanita indonesia saat itu masih dalam kungkungan adat. Dan cenderung digambarkan melalui sosok Maria. Oleh karena itu STA membunuh karakter Maria. Sebagai simbol bahwa wanita indonesia harus bangkit. Seperti Tuti. Mau membela hak-hak perempuan.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar