Menurut Remy Sylado bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat ironis. bangsa yang ingin mengembangkan bahasa dan kebudayaannya. Namun dalam mewujudkannya banyak menggunakan istilah asing contohnya pada slogan Save Our Nation. Hal itu merupakan slogan untuk membangun bangsa. Dengan meningkatkan rasa nasionalis kita. Namun menggunakan bahasa asing. Bukan bahasanya sendiri. Itu merupakan dua hal yang sangat kontras.
Selain itu, mental bangsa Indonesia adalah mental bunglon. Mental yang selalu meniru budaya yang masuk ke Indonsia dan menelannya mentah-mentah. Tanpa mencernanya terlebih dahulu. Terlebih lagi kebanyakan orang bangga dengan mental mereka. Yang mereka piker kalau sudah berbau luar negeri pasti patut untuk dibanggakan. Contohnya orang yang berpendidikan. Banyak menggunakan istilah asig. Dalam berbicara atau berpidato. Agar dianggap hebat.
Bagaimana nasib bangsa Indonesia di masa depan kelak. Bangsa yang generasi mudanya lebih memilih budaya barat. Dan pola pikirannya sudah berporos kearah benua eropa dan amerika. Yang terbiasa dengan budaya pop.
Siapa yang salah? Yang salah belum diketahui. Banyak pihak yang berperan dalam membentuk jati diri bangsa Indonsia. Yang tercermin dari generasi mudanya. Sastra merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki keadaan yang sudah salah kaprah ini. Melalui sastra bangsa didik menjadi bangsa yang beradap. Bangsa yang tidak meninggalkan nilai-nilai luhur kebudayaan yang mereka miliki. Bangsa yang melestarikan budayanya. Banga yang generasi mudanya tidak malu menunjukan kebudayaannya ke mata dunia.
Namun untuk sekarang sastra tidak bisa berbuat apa. Karena pemrintah tidak mendukung secara penuh. Pemerintah tidak memperhatikan sastra. Sastra dipandang sebelah mata. Yang terpenting menurut pemerintah adalah politik. Maka terciptalah masyarakat yang selalu demostrasi dalam menunt kebijakan yang dilakukan pemerintah. Rakyat yang hanya bisanya merongrong karena pemimpinnya selalu ingkar janji. Seharusnya tatanan seperti itu dapat dirubah melalui sastra. Rakyat dapat menyampaikan aspirasinya dengan karya sastra. Kalau seperti itu tidak ada kerusuhan yang terjadi.
Berkaca dari Negara maju contohnya Jepang. Di sana setiap orang memiliki intensitas baca yang sangat tinggi. Di sana sastra sangat dihargai. Sehingga kebudayaan mereka masih utuh sampai sekarang walaupun negaranya sudah sangat maju. bahasa Jepang samapai saat ini masih terjaga. Karena di Jepang segala bentuk tulisan baik novel, buku pelajaran, iklan ditulis dengan bahasa Jepang. Jadi kalau ingin mengetahui kebudayaan Jepang. Orang harus mempelajari bahasa Jepang terlebih dahulu. Tidak seperti di Indonesia yang mengedepankan bahasa asing. Contohnya pada swalayan atau mini market sering terdapat tulisan close garis bawah baru tutup. Sangat miris memang keadaan di Indonesia.
Tayangan di Indonesia juga turut andil dalam menyebarnya budaya pop di Indonesia. Tayangan di Indonesia banyak mengadopsi tayangan dari Amaerika cotohnya tayangan yang ada di stasiun TV suasta yaitu Global TV. Dan lebih parahnya yaitu Metro TV. Dalam meyampaikan berita menggunakan bahasa Inggris. Sebuah pertanyaan tercipta. Apakah bangsa Indonesia sudah bosan dengan bahasa dan budayanya sendiri? Orang asing saja cinta budaya Indonesia. Apakah mereka yang nantinya melestarikan budaya di Indonesia?
Remy Sylado mengatakan bahwa bangsa Indonesia itu sakit. Namun kita bangga dengan penyakit yang di idap bangsa ini. Belegug pisan! Jadi kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus bangkit untuk menyembuhkan bangsa ini. Bangsa yang membutuhkan obat secepatnya.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar