Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Amanat Adipati Arya Wirasaba

Disebuah desa yang subur, hiduplah seorang gadis remaja yang bernama Nyi Sukesi. Ia gadis yang baik hati dan soleh. Ia adalah putri seorang ponggawa kesultanan pajang bernama Arya Wirasaba. Karena kesetiaannya kepada kerajaan Pajang maka Sultan Hadiwijaya memberinya wilayah yang subur menjadi keadipatian dan Arya Wirasaba dilantik menjadi adipati.
Suatu saat Adipati Wirasaba memperkenalkan istri dan putrinya kepada Demang Jogareka. Di sana Nyi Sukesi diperkenalkan dengan seorang pemuda tampan, yang usianya lima atau enam tahun dari dirinya. Namanya Demas Winangun, putra tunggal Demang Togareka.
Beberapa hari setelah kunjungan itu, keluarga Demang Togareka datang ke rumah Adipati. Mereka bermaksud untuk mendekatkan hubungan Demang Winangun dengan Nyi Sukesi. Dan adipati menyetujui perjodohan itu.
Pada suatu malam Nyi Sukesi mendengar percakapan orang tuanya bahwa ia akan segera menikah. Betapa sedih hatinya mendengar keputusan itu. Ibunya sebenarnya tidak setuju namun keputusan sang adipati tidak dapat diganggu gugat.
Akhirnya Nyi Sukesi menikah dengan Denmas Winangun dengan terpaksa. Ia tetap tidak mencintai suaminya sampai ia boyong ke togareka. Ia tidak memperlakukan suaminya dengan baik. Dan ia tidak mau untuk melayani suaminya yang ia pikir hanya bagaimana caranya ia melarikan diri dari sana.
Pada suatu malam, ia memberanikan diri untuk melarikan diri. Ia berhasil melarikan diri dengan naik kuda.
Sesampainya di rumah ia bertemu dengan ibunya. Ia menceritakan semua kejadian yang ia alami. Ketika ia sedang bercerita tidak sengaja ayahnya mendengar. Adipati wirasaba marah besar mendengar cerita putrinya lalu ia memaki putrinya itu. Akhirnya Nyi Sukesi angkat bicara. Ia mengatakannya “apabila ayah menginginkan kekuasaan yang lebih tinggi mengapa ayah tidak menyerahkan aku ke kerajaan pajang disana aku bisamenjadi abdi dalem sukur-sukur nantinya aku bisa menjadi selir. “Mendengar perkataan putrinya ia terdiam. Lalu ia berkata “benar juga ya”. Istrinya hanya terdiam cemas memikirkan bagaimana bisamenantunya mengetahui hal itu.
Pagi-pagi benar Adipati dan Nyi Sukesi pergi ke kerajaan Adipati Wirasaba membayangkan apa yang akan ia peroleh jika putrinya menjadi abdi dalem, apalagi bila putrinya menjadi selir maka ia akan dipandang semakin terhormat. Ia hanya tesenyum-senyum disepanjang perjalanan.
Di kerajaan pajang mereka langsung menemui Sultan, Adipati Wirasaba memberitahukan maksud kedatangan ia dengan putrinya. Ia mengatakan bahwa ia ingin menyerahkan putrinya untuk menjadi abdi dalem. Adipati berani mengatakan hal tersebut karena ia mengetahu bahwa putrinya masih suci sesuai yang dikatakan putrinya. Sultan Hadiwijaya melihat kepada Nyi Sukesi. Lalu ia menyetujui permintaan adipati. Walaupun dihatinya bertanya-tanya mengapa adipati wirasaba mendadakan menyerahkan putrinya.
Setelah itu, adipati segera meninggalkan kerajaan dengan gembera. Karena kuda yang ditungganginya pada saat berangkat terlalu lelah maka ia mengganti kuda di istal kerajaan. Di sana hanya tersisa satu kuda yang kurang disukai punggawa yaitu kuda dawuk abang. Karena kuda itu terlalu binal dan larinya terlalu cepat. Namun adipati memilih kuda itu karena ia ingin segera sampai di rumah.
Di kediaman Adipati Wirasaba, Denmas Winangun dan Demang Togareka datang kesana. Disana mereka hanya disambut oleh istri adipati saja. Mereka menanyakan apakah Nyi Sukesi datang ke sini dan dimana Adipati Wirasaba sekarang. Dengan terbata-bata istri adipati menjawab bahwa Adipati Wirasaba dan Nyi Sukesi pergi ke kerajaan pajang untuk menyerahkan Nyi Sukesi menjadi abdi dalem.
Mendengar berita itu mereka segera menuju istana. Di sana mereka menyampaikan bahwa Nyi Sukesi putri Adipati Wirasaba yang baru diantarakan untuk menjadi abdi dalem adalah istri dari Denmas Winangun. Mendengar berita itu Sultan Hadiwijaya sangat marah. Ia merasa terhina lalu ia mengutus Sobala untuk membunuh Adipati. Semua hanya terdiam tanpa ada yang berani menentang keputusan itu. Berangkatlah Sobala menyusul adipati.
Dalam perjalanan menuju ke rumah, kuda yang ditunggangi Adipati Wirasaba kelelahan. Ia berhenti di sebuah desa. Ia mengenal pamong desa tersebut. Desa tersebut tidak biasanya sepi. Ia menuju rumah yang bentuknya paling berbeda yaitu “Balai Malang” setelah mengikat kudanya di pekarangan rumah. Ia mengetuk pintu rumah tersebut. Pemilik rumah tersebut heran melihat kedatangan adipati lalu dipersilahkannya masuk. Ia menceritakan bahwa hari Sabtu pahing adalah hari pantangan untuk berpergian di desa kami. Dan adipati mengelak dengan mengatakan bahwa ia bukan orang desa tersebut.
Sementara itu dikerajaan pajang, setelah suasana lebih tenang permaisuri memberi nasihat kepada Sultan. Kalau keputusan sultan tidak terburu-buru mengapa sultan tidak mendengarkan penjelasan dari adipati wirasaba terlebih dahulu. Kemudian sultan merenung ia segera mengutus Wimarmo untuk membatalkan tugas Sobala. Maka berangkatlah Wimarmo dengan cepat.
Di kediaman pamong desa Adipati Wirasaba diberi jamuan berupa minuman segar dan goreng daging angsa. Ia menyantap jamuan tersebut dengan lahap sambil berbaring meluruskan pinggang, atau dengan sikap “geluk geger”. Tiba-tiba kuda Dawuk Abang meringik. Ada sosok bayangan di depan itu yang adipati kenal. “Oh kamu Sobala? Kata Adipati. Sobala hanya terdiam sambil mencabut keris. “Maafkan saya adipati saya hanya melaksanakan tugas.”Sambil menusukkan keris ke tubuh Adipati Wirasaba “Jangan” Kata seseorang yang berada di didepan pintu. “Apa maksudmu Wimarmo kata Sobala. “Sultan Hadiwijaya menyuruhku untuk membatalkan tugasmu, Kata Wimarmo, “apa” Sobala kaget.
“sudahlah ini mungkin sudah menjadi takdirku” kata adipati. Lalu ia mengatakan ke dua orang tersebut agar pesan yang diucapkan adipati wirasaba disampaikan kepada keluarga, sahabat, kerabat serta keturunan adipati wirasaba. Pesan itu berbunyi “Janganlah melakukan perjalanan pada hari sabtu pahing lalu bila melakukan perjalanan. Janganlah singgah di rumah yang berbentuk “Balai Malang”. Dan ……….. bila memakan goreng daging angsa, janganlah sambil berbaring dengan sikap “Ngeluk geger”. Bila pesanku dilanggar, niscaya kan mengalami nasib seperti ku ini ……..!”
Sobala dan Wimarmo berpandangan, lalu keduanya berjanji akan menyampaikan hal tersebut. Adipati Wirasaba tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya. Sejak saat itu banyak warga Banyumas mempercayai pesan tersebut

1 komentar:

  1. Bagus nih tulisannya, tapi dapet darimana (asal-usul) cerita seperti ini, karena menurutku ada penulisan kata yang salah yaitu Demang Jogareka dan Demang Togareka setauku adalah Toyareka

    Nama-namanya juga baru pernah saya dengar, karena sebelumnya hanya tau orang tuanya saja.

    BalasHapus