Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Senyum Karyamin

Tokoh Karyamin dalan Cerpen “Senyum Karyamin” digamabarkan sebagai orang desa yang miskin. Ia bekerja sebagaipenambang batu di sungai. Penulis mengambarkan karakter Karyamin sebagai seseorang laki-laki yang pantang menyerah ia berusaha terus menerus walaupun ia jatuh samp[ai beberapa kali.berikut kutipannya:
“Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya.”(halaman 1)
Dari kutipan diatas Karyamin pantang menyerah untuk mengankat batu ke atas walaupun ia sudah jatuh dua kali pada pagi itu. Terlebih lagi ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Karyamin digambarkan juga sebagai seorang suami yang bertanggung jawab ia berusaha menafkahi keluarganya. Ia adalah orang miskin yang bodoh. Yang sudah ditipu tengkulak yang membawa batunya. Penulis melukiskan Karyamin sebagai orang desa yang identik dengan kebodohan, kemiskinan dan bersahaja. Penulis menggambarkan kemiskinan tersebut dengan Karyamin yang terbelit oleh banyak utang. Selaina itu ia sendiri tidak mampu untuk mengisiperutnya sendiri. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Karakter tiadak mau merepotkan orang lain ditambahkan penulis sebagai sifat Karyamin. Sebagai mana orang desa yang tahu diri. Karyamin adalah orang yang sabar ia mengahadapi cobaan hanya dengan tersenyum. Karena ia tidak tahu lag harus berbuat apa dengan kesulitan yang ia alami. Penulis menggambarkan senyuman Karyamin sebagai suatu kemenangan atas segala kesuliatan yang menimpa Karyamin. Karyamin juga sangat mencintai istrinya dan ia tidak mau membuat istrinya bersedih atas apa yang menimpanya. Ia tidak mau menambah penderitaan yang sedang dialami istrinya.
Dalam cerpen ini latar alam merupankan hal yang sangat menonjol dalam cerpan ini. Seperti cerpen-cerpennya yang lain Ahmad Tohari sangat kuat dalam menggambarkan latar alam. Lataralam di cerpen ini adalah sebuah kali yang masih asri dan masih dapait diambil batunya. Tidak seperi kali-kali yang ada di kota-kota besar yang kalinya sudah tidak dapat diharapkan lagi karena berwara hitam dan bau. Berikut kutipan latar alam carai cerpen “Seyum Karyamin”:
“Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karuyamin menagkap sesuatu yang bergerak padasebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh si paruh udang.punggugnya biru erngkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah sanga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Degan mangsa diparuhnya mangsa diparuhnya burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap dibalik gerumbul pandan.” (halaman 5)
Penulis benar-benar dengan sangan sangat detail menggambarkan suasana alam yang ada didaerah tersebut. Baik dari kebiasaan burung si paruh udang yang lengkap dengan morfologi burung tersebut. Yang kini sudah jarang ditemui di kota. Penulis juga menggambarkan pedesaan sebag dunia yang jujur dan masih erat sekali rasa saling menolong. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Dari kutipan di atas penulis berusaha melukiskan rasa saling menolong maih sangat lekat di pedesaan. Tidak seperti di kota yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Selain itu penulis benar-benar dengan jelas mengetahui bagai mana cara menganakat batu. Dari tempat yang miring.hal itu menambah kesan benar-benar seperti nyata.
Cerpen “Senyum Karyamin” menggunakan sudut pandang ketiga penulis serba tahu. Karena penulis menggukan Karyamin sebag pelaku utama dan menggukana kata ganti orang ketiga. Penulis juga menggukan gaya bahasa yang sederhana di samaping itu ia juga banyak menggukan majas. Berikut kutipannya:
“Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.” (halaman1)
“lambungnya yang kempongberguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya”(halaman 6)
Sedangkan alur penulismenggukan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu Karyamin. Dan setiap kejadian berlangsung secara runtun.
Agaknya, judul itu sendiri dapat menyuratkan makna yang ingin diangkat dalam cerpen-cerpen di dalamnya. Senyum—untuk kepahitan hidup yang sering mendera Karyamin (wakil dari orang-orang desa yang miskin, yang pinggiran, dan juga yang tersingkir dari masyarakat desa) tanpa mengetahui jalan keluar darinya, dari kepahitan itu. Senyum sebagai lambang dari usaha menerima nasib, bahkan menertawainya, karena apa boleh buat. Dan dalam hampir 13 cerpen, “senyum” itu ada.

1 komentar:

  1. Mas, aku minta link posting senyum karyamin... ya
    bwt situs q:
    kedairomanindonesia.blogspot.com

    BalasHapus