Kabar mengenai gerbang Universitas Padjadjaran (Unpad) digusur memang banar. Dan sudah terlaksana. Namun, tidak sepenuhnya benar. Walaupun digusur untuk pembangunan jalan dari arah Pangkalan Damri (Pangdam) sampai ke gerbang Unpad. Tetapi, gerbang tersebut tetap fungsi seperti biasa. Berkat penggusuran tersebut gerbang Unpad menjadi terkesan lebih luas. Itu kalau dilihat dari sisi positifnya. Kalau dari sisi negatifnya pemandangan yang kurang mengenakkan tercipata.. Debu-debu beterbangan dimana-mana. Membuat sesak nafas setiap orang yang lewat.
Gerbang utama Unpad merukan suatu hal yang sangat penting. Bagi Unpad sendiri dan mahasiswanya. Karena sebuah gerbang merupakan tempat pertama kali orang menginjakan kakinya ketika ia tiba. Dan orang akan menilai bangunan dari gerbangnya. Karena gerbang merupakan cerminan dari sebuah bangunan. Bagaimana Unpad dapat mendidik mahasiswanya. Untuk merawat gerbangnya sendiri tidak bisa.
Dan gerbang merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai fakultas untuk bercengkrama. Namun, gerbang Unpad yang dulunya sudah kacau kini bertambah kacau. Ditambah lagi dengan adanya alat berat dan truk yang lalu lalang keluar masuk proyek tersebut membuat pemandangan semakin kurang mengenakkan. Dan kesan yang saya tangkap adalah Unpad seakan digusur secara perlahan olh pemerintah.
Usut punya usut jalan yang sedang dibangun di gerbang Unpad tersebut akan dibangun sampai Cikuda. Untuk menanggulangi kemacetan yang sering terjadi di gerbang Unpad dan sekitarnya. Mungkin saja ini menrupakan jalan terakhir yang diambil oleh pemerintah untuk menaggulangi kemacetan di Jatinagor. Karena melihat pembangunan jalan yang pertama dari Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) sampai Universitas Winaya Mukti (UNWIM) berjalan lancar dan hasilnya cukup memuaskan. Maka pemerintah melanjutkan proyek pembangunan jalan tersebut.
Kita mengulang kembali ke beberapa bulan yang lalu. Saat jembatan penyebrangan masih berdiri kokoh. Jembatan penyebrangan ini merupakan salah satu jalan alternatif yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi kemacetan. Jatinangor merupakan kota kecamatan yang kecil dengan jalan yang kecil pula. Walaupun kecil, Jatinangor memiliki dua universities dan dua institit pendidika. Ditambah lagi dengan jalan yang kecil tersebut merupakan jalan antar provinsi. Hal itu menyebabkan volume kendaraan yang melewati jalan tersebut sangatlah banyak. Dan tidak kalah repotnya yaitu supir angkot yang sering membandel untuk mangkal digerbang Unpad. Jadi tidak dapat disangkal lagi kemacetan kerap sekali terjadi.
Mahasiswa Unpad termasuk saya turut andil dalm hal kemacetan. Karena kami lebih sering menyebrang jalan tanpa menggunakan jembatan penyebrangan. Menurut pengalaman saya, selama ini baru dua kali menggunakan jembatan penyebrangan. Karena kurang efektif dan memakan waktu. Selain itu, polisi yang sedang bertugas sering membantu mahasiswa menyebrang jalan. Sehingga kemacetan panjang sering tercipta. Ironosnya jembatan penyebrangan yang sudah terbengkalai tersebut berubah fungsi menjadi papan iklan. Sampai akhirnya jembatan tersebut dirobohkan akibat pelebaran jalan. Berakhir sudah riwayat jemabatan penyebrangan yang malang.
Kembali ke permasalahan awal pembangunan jalan ini tidak selamanya lancar. Saya mendapatkan informasi dari sebuah majalah yang diterbitkan oleh mahasiswa jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Unpad. Kalau pembangunan jalan tersebut kekurangan dana. Dana yang seharusnya empat belas milyar tersebut. Ternyata hanya cair tujuh milyar. Jadi jalan tersebut tidak selesai pada waktu yang dijanjikan. Hal itu menyebabkan pemandangan yang kurang memanjakan mata dan paru-paru kita akan bertambah lama. Selain itu, permasalahan timbul. Dari pihak Unpad kurang berkenan untuk mengizinkan Balai Padjadjaran yang baru selesai dibangun. Akan digusur untuk dijadikan jalan. Dan serentetan malasah yang lain muncul seiring dengan berjalannya waktu. Dan pastinya tidak ada pembangunan yang dalam pengerjaannya selalu lancar. Batu sandungan tentunya selalu ada untuk meramaikan setiap pembangunan.
Saya setuju dengan pembangunan jalan tersebut. Karena menurut perkiraan saya jalan tersebut nantinya sangat berguna dalam mengatasi ke macetan yang sering terjadi di Jatingor khususnya digerbang Unpad. Alasan lain adalah tempat kos saya tidak terkena gusur.. Namun, hal tersebut hanya gurauan belaka. Sebagian mahasiawa nantinya akan terkena imbasnya. Yaitu mahasiswa yang kos di gang mawar atau lebih tepatnya tempat kos yang berdiri di atas tanah Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Dari gerbang sampai Cikuda akan digusur untuk dibangun jalan. Jadi, mahasiswa yang tempat kosnya digusur harus menerima dengan ikhlas atau bahasa jawanya legowo. Tetapi, dengan catatan. Gerbang unpad kembali ditata dengan rapi dan tidak ada tindakan kekerasan dalam proses penggusuran.
Dalam pikiran saya bagaimana jadinyan halaman depan Unpad akan langsung berhadapan dengan jalan raya. Kelak jalan tersebut dilewati bus antarprovinsi. Pasti akan menambah carut-marut gerbang Unpad. Saya mulai bertanya-tanya bagai manakah nasib pedagang yang berjualan digerbang Unpad? Nasib pedagang kaki lima yang berjualan di gerbang Unpad harus diperjuangkan. Karena mereka selama ini sangat berjasa dalam mengisi bahan bakar bagi mahasiswa. Untuk menghadapi aktifitas yang sangat merusa tenaga. Dan tentunya dengan harga terjangkau oleh kantong mahasiswa. Walaupun tempatnya tidak begitu higienis. Dan pikian yang terdapat dalam otak saya adalah Apakah pemerintah akan memberikan lahan baru untuk berjualan? Mungkin saja masih tetap berjualan disitu. Atau digusur oleh Satuan Patroli Pamong Praja (Satpol PP) seperti yang diberitakan di layar kaca. Nasib pedagang kaki lima ang berjualan di gerbang Unpad harus diperjuangkan. Karena mereka selama ini sangat berjasa dalam mengisi bahan bakar bagi mahasiswa. Untuk menghadapi aktifitas yang sangat merusa tenaga. Dan tentunya dengan harga terjangkau oleh kantong mahasiswa. Walaupun tempatnya tidak begitu higienis.
Hal itu masih sebuah misteri. Mungkin akan terjawab setelah pembangunan jalan tersebut selesai. Saya berharap pembangunan jalan tersebut dapat cepat selesai. Sehingga kampus tercinta dapat berbenah diri lagi.. Dan pemandangan yang kurang memanjakan mata dapat segera sirna. Hal yang terpenting adalah kemacetan yang selama ini sudah menjadi rutinitas setiap hari dapat teratasi.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar