Amerika Vs Indonesia
Pada suatu hari, Fanton Dummond – seorang pria yang hidup sendirian di sebuah apartemen bernama Tulip Tree di Bloomington, India, Amerika Serikat, secara kebetulan, bertemu seorang wanita, yang bernama Olenka, yang mencuri perhatiannya. Pertemuan pertama tersebut menjadi inspirasi bagi Fanton untuk mengusahakan kembali bisa bertemu Olenka, tetapi ternyata diusahakan dengan sengaja untuk bertemu, Dummond malah kehilangan jejak Olenka. Memang dia sudah memastikan bahwa Olenka juga tinggal di apartemen tersebut bersama Wayne, suami, dan Steven, anaknya, namun ia memutuskan untuk melakukan pertemuan yang dirancang untuk terlihat kebetulan saja. Dan Fanton gagal. Tetapi secara kebeulan pula, ia malah bisa bertemu dengan Olenka setelah Olenka juga dengan sengaja mengusahakannya. Singkatnya mereka saling kenal dan bahkan sampai bisa tidur berdua. Wayne tahu sebetulnya tapi cuek saja. Dummond pun saling kenal dengan Wayne. Dan ada perang terselubung di batin masing-masing mereka. Sementara hubungan Fanton dengan Olenka pun banyak diwarnai percakapan-percakapan ‘tingkat tinggi’ namun dibuat santai bahkan seperti asal saja. Memang hidup Dummond dipenuhi pula oleh pikirannya yang selalu mencoba menelusup ke jalan pikiran orang lain.
Hingga suatu hari Olenka menghilang. Wayne santai saja. Fanton kalang kabut. Namun dalam situasi itu Dummond malah jadi sering berhubungan dengan Wayne, bahkan Fanton sempat membantu Wyne dalam memberi saran pekerjaan, dan Wayne menikmati pula pekerjaan hasil saran Dummond. Tapi di dalam pikirannya, Fanton teramat sangat memusuhi Wayne begitupun sebaliknya ia membaca pikiran Wayne terhadap dirinya. Dan ditengah keanehan sikap antar keduanya ini, ia sempat meninju muka Wayne yang ternyata juga malah tersenyum saja seperti sudah memperkirakan dan memaklumi tindakan itu yang membuat Fanton Dummond semakin membenci Wayne dalam pikirannya. Olenka tiada juga berkabar, Dummond mulai melakukan pencarian mengikuti instingnya dari suatu tempat ke tempat lain dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, ia hampir berhasil. Ia mendapat informasi bahwa Olenka di Chicago, dan berdasarkan pengetahuannya akan pengalaman Olenka yang memungkinkan ia sedang bergaul dengan seniman-seniman jalanan di kota tersebut, Fanton pergi ke sana. Tetapi di Chicago ia juga tak betul-betul serius merencanakan mekanisme kerja dalam investigasi akan keberadaan Olenka. Dummond malah sibuk berwisata ria dengan dua perempuan, M.C. dan M.B., yang secara kebetulan pula dikenalnya. Meski masih dalam bayang-bayang akan pencarian terhadap Olenka, M.C. mulai mencuri perhatian Fanton.
Terus dalam bayang-bayang Olenka dan tanpa pertimbangan yang kuat, Dummond melamar M.C. M.C. menolak dan ternyata ia harus segera kembali ke rumahnya di Pensylvania. Fanton kembali ke Tulip Tree dan di sana telah menunggu surat dari Olenka. Olenka bercerita banyak namun tak ada jalan untuk sebuah pertemuan. Dummond juga terkenang terus pada M.C. dan membuatnya terinspirasi untuk membuat lima surat masturbasi. Ditulis untuk seseorang namun dibalas sendiri. Ditengah pikiran tentang M.C. itu, Fanton semapat dua kali menerima surat dari Olenka dan dalam membaca surat tersebut ia seperti sedang bercakap-cakap seperti biasanya dengan Olenka karena Olenka juga seperti tahu perikehidupan Dummond selama ia tinggalkan. Kemudian, secara kebetulan juga, Fanton mengetahui tentang kecelakaan pesawat yang menimpa M.C. Tanpa alasan yang jelas ia pergi mengunjungi M.C. Lalu ia pun tinggal disana. Mengulangi pinangannya, tapi kemudian Dummond malah pergi, tanpa alasan yang pasti, sebelum perkawinan jadi.
Sepergi dari tempat nona M.C. yang telah cacat itu, Fanton berencana kembali ke Tulip Tree, manatahu ada surat lagi dari Olenka selama sekian waktu Tulip Tree ditinggalkan, pikirnya. Namun, secara kebetulan, di sebuah bandara – sebelum sempat pulang kembali, Dummond membaca sebuah surat kabar yang memberinya informasi tentang keberadaan Olenka di Washington D.C. Fanton pun memutuskan menuju ke sana. Setiba di Washington, Dummond pun tak menyegerakan diri mencari Olenka, sempat dulu beliau main-main ke suatu tempat. Dalam keinginan yang tak begitu kuat untuk menemui Olenka, yang ia ketahui kemungkinan sedang di rawat di rumah sakit, ia mendapat informasi dari perawat rumah sakit bahwa Olenka baru saja keluar dari sana. Fanton tak segera pula mencari Olenka. Dummond merasa telah menderita nausea.
Untuk novel ini, sebagai karya pengarang Indonesia dan berlatar Amerika – terkait dengan ciri-ciri perikehidupan masing-masing keduanya, saya akan membagi unsur mimetik utama karya ini pada dua hal: latar tempat, perihidup, dan jalan pikir manusia Amerika (barat) dan kedua, ciri ke-Indonesia-an pada novel tersebut.
Amerika Serikat adalah perlambang kebebasan bagi dunia barat. Sebagai sebuah negara, sejarah mereka dimulai oleh kedatangan para perantau dari bumi Inggris Raya yang tak mau tunduk pada kemapanan aturan hidup, baik oleh negara maupun gereja, yang ada di tanah asal mereka. Sekumpulan koboi-koboi liar, begitulah gambaran tentang karakter manusia-manusia yang anak cucunya nanti akan membikin negara tersebut begitu ber-Adi kuasa. Selain ada juga unsur ras lain yang minoritas seperti negro, latin, dan asia di sana, termasuk kaum Indian sebagai penduduk aslinya. Dan setelah Perang Dunia II terlihatlah kebesaran the Amerika. Sebagai negara modern yang besar, disanalah tempat berbiaknya pertumbuhan pemikiran hingga perikehidupan modern. Gaya hidup makhluk modern yang diidentifikasikan sebagai individual, hasil oposisi dari ciri kehidupan tradisional yang lebih terikat dalam hubungan kesatuan sosial, pun dicapkan pada kehidupan ala Amerika. Pun, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dan kemapanan ekonomi dan kemajemukan berpikir, jadi ciri tempat itu pula. Dalam novel Olenka, secara eksplisit dimasukkan realitas sejarah pada tempat-tempat latar novel tersebut yang bersetting sekira akhir tahun 70-an. Alhasil beberapa kejadian aktual waktu itupun dijumpai dalam novel ini, semisal berita yang sedang hangat waktu itu, dan hal ini bisa diujikan pada kejadian sebenarnya. Hal ini semakin mengukuhkan kehadiran kehidupan ala Amerika dalam novel ini.
Unsur kedua adalah mengenai unsur ala Indonesia sebagai tanah kelahiran pengarang novel ini, lebih sempitnya lagi adalah bagian filosofi Jawa sebagai ras pengarangnya. Dibanding living style of Americans, cara hidup dan olah pikir orang Indonesia masih cukup terhubung dengan perihidup masyarakat tradisional. Dalam menjelang kemodernannya, unsur-unsur yang bersifat metafisis dan relijiusitas adalah masih kuat posisinya, setidaknya jika dibanding, sekali lagi, living style of Americans. Unsur-unsur metafisis yang masih cukup kuat inilah yang membuat makhluk Indonesia tak (mau) jatuh dalam materialistis sempurna sebagai tujuan hidup manusia modern harapan Barat sana. Jika dalam relasi sosial di Amerika (dan Barat) menyerahkan sepenuhnya segala perhitungan untung rugi pada logika dan kebutuhan dunia (dengan memisahkan dulu pembicaraan tentang relijiusitas yang tentu juga ada di sana karena bagaimanapun sistem sekuleritas membungkusnya), di Indonesia relasi sosial masih sangat kuat dipengaruhi petuah-petuah lama dan tentu, katanya, petunjuk agama.
Novel ini ditulis oleh Budi Darma sewaktu ia melanjutkan pendidikannya ke Amerika dan hidup selama beberapa lama di sana. Novel ini memang berbicara tentang hidup di Amerika. Namun, jika harus dikhususkan kepada pangsa pasar masyarakat Indonesia dan kehidupannya, novel ini seperti juga memberi pelajaran. Secara eksplisit, kita bisa melihat unsur ke-Indonesia-an dalam novel ini terdapat dalam hal-hal seperti: penggunaan sapaan dan makian jawa timuran dalam beberapa bagian, pengutipan sajak-sajak Chairil Anwar, hingga pengutipan ayat-ayat Al-Quran. Tapi, sebagai sebuah fiksi, bukan hal tersebutlah yang utama (atau barangkali memang bukan sama sekali) untuk memeriksa unsur ‘manusia Indonesia’ di negeri Barat sana. Pengambilan setingan latar Barat bagi fiksi ini adalah sebuah perefleksian bagi bangsa kita yang barangkali berencana untuk di masa depan bisa seperti Barat sana. Novel ini seperti memberi pelajaran tentang bagaimana kekeringan ruhaniah yang diderita manusia-manusia individual di Barat sana. Novel ini memang penuh dengan peristiwa peng-katarsis-an seorang individu atas dirinya, bercermin akan diri sendiri, kira-kira begitulah bahasa yang lebih populernya. Untuk proses katarsis ini pengarang perlu membuat tokohnya menjadi majemuk dan toleran dalam melihat berbagai persilangan arus pemikiran, mencerna dalam segala logikanya agar tak begitu saja percaya atau menentang sesuatu.
Menariknya kemudian, dengan segala ke-absurdan-nya, cerita selalu mengambangkan berbagai persoalan yang seperti didesak mencari penyelesaian. Pertama bisa disebabkan oleh tuntutan hidup ala barat yang butuh segera memutuskan dan harus menyenangkan. Kedua, disini muncul unsur cara pikir timur yang relijius, karena manusia itu serba terbatas maka ia pun akhirnya hanya bisa menyerahkan pada takdir. Secara eksplisit ini tercantum pada akhir cerita. Dalam hal ini barangkali bisa dinilai ada keberpihakkan pada orang timur punya nilai-nilai, namun tetap dalam berbagai bagian kesempitan cara pandang yang masih tradisional di-tidak sarankan lewat berbagai eksploitasi cara pikir modern. Dan terakhir, sekali lagi, kemualan terhadap diri sendiri ‘nausea’ merupakan peringatan bagi keinginan untuk membarat (hal yang negatif dari barat) –nya manusia Indonesia. Sekali lagi, seperti yang dieksplisitkan pada akhir cerita oleh novel ini.
Sesuai dengan tujuan tulisan ini yang membatasi analisis pada pembandingan setara unsur sosial dan psikologis yang terdapat dalam karya ini, sekarang akan kita lihat hubungan antar keduanya. Berdasarkan pengaluran peristiwa cerita bisa kita anggap bertemakan petualangan cinta. Tapi, dari unsur psikologi tokoh dan konflik sosial yang dihadapi oleh tokoh utamanya, Dalam Olenka, tokoh utamanya Fanton Dummond pun juga mengalami keguncangan psikologis yang lebih dikonkritkan dengan nama penyakit nausea. Olenka pun memiliki pola yang sama. Sebagai akibat memburu Olenka, Fanton Dummond yang selama ini cuek bebek menikmati gaya hidup individual dan materialistis sehari-harinya, akhirnya jadi banyak mengambil ‘hikmah’ dan pelajaran bagi kehidupannya hingga ia pun mengalami nausea, rasa mual pada diri sendiri. Pola berkebalikan dapat kita lihat dalam penyelesaian akhir bagi kedua permasalahan tokoh novel ini.
LEGENDA BANYU WANGI
17 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar