Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

Laras Panjang Senapan Cinta

Laras Panjang Senapan Cinta
DZREPPP!
Letup dengan desibel rendah. Letusan tertahan, yang mengumpulkan sekaligus memecah udara. Seperti bunyi petir dalam gumpalan awan pekat, jauh di ujung langit. Mirip beduk dingin yang dipukul ketika malam basah. Lalu setiap orang menunggu: ada apa sesudah itu?
Sunyi.
Angin terdengar lebih detail. Kesiur udara menampar rimbun daun. Dengung halus sayap kumbang. Ah, tapi bukan itu. Di beranda, aku dikejutkan oleh derai bulu burung. Seketika aku melompat turun ke halaman rumah. Mendongak ke atas. Berlatar langit kesumba, awal senja yang cemerlang, kulihat berpuluh kelopak bulu putih jatuh seperti serpihan kapas.
Helai-helai sayap yang begitu lembut. Perlahan mencium bumi. Satu per satu. Tetapi, kenapa tak kunjung muncul pemilik bulu-bulu itu? Hatiku berdesir. Ada sesuatu yang tak biasa. Dan aku pun menyimpulkan, suara yang terdengar beberapa detik lalu adalah letusan senapan dengan peredam. Dari mana ditembakkan?
Aku memutar kepala ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari tanda. Sumber suara. Atau isyarat sekecil apa pun. Namun, tak terdengar langkah, dengus napas, atau kerisik rumput yang terinjak. Atau setidaknya bau keringat orang asing di sekitarku. Tentu, desa yang tenteram ini tak boleh terusik. Apalagi oleh sebuah kejahatan. Menembak burung, untuk alasan apa pun, adalah sebuah kejahatan. Maka wajar jika di dadaku, kemudian, tumbuh tunas dendam. Penembak burung itu, jika diketahui, harus mendapat ganjaran yang setimpal.
Kini, seluruh lembaran bulu sayap telah tiba di tanah.
Menemani Ayah Merokok

Satu jam menunggu dalam pesawat, bukan hal yang menyenangkan. Suasana air port Changi hanya kulihat melalui oval kaca jendela. Gugusan arsitektur yang rapi, bangunan kubikal, dengan warna-warna tropis, tampak hangat di luar sana. Di sekitar kami, beberapa pramugari Cathay Pacific sibuk mengatur penumpang yang baru masuk. Setiap kali melintas, beterbangan uap wangi dari leher dan ketiak mereka.Tapi, bukan itu yang kupikirkan saat ini. Ada seorang ayah sedang menunggu di Kaloran, Serang, Provinsi Banten. Ia sedang sakit, dan cukup kritis. Anaknya memang bukan hanya aku. Enam orang. Tetapi aku si bungsu yang sangat dinanti-nantikan."Taufan, karena telepon ke Tokyo mahal, aku ingin bicara singkat saja," ujar Kak Bayu dalam sebuah interlokal. Tiga hari yang lalu. "Ayah sakit keras. Ini hari pertama ayah pulang dari rumah sakit. Ayah rindu kamu. Namamu paling sering disebut.""Aku juga kangen ayah. Aku akan segera minta ijin agar bisa meninggalkan pekerjaan barang seminggu. Tapi, tentu tak langsung bisa bertolak hari ini," kataku."Kuharap boss-mu tidak mempersulit. Kudoakan supaya pekerjaan yang kautinggalkan tidak menjadi terbengkalai." Kak Bayu memahami keadaanku.Aku mengucapkan terimakasih dan menyampaikan salam. Sejak itu, pikiranku terbagi: antara pekerjaan yang harus kuselesaikan dan gema suara panggilan ayah. Kadang-kadang, seseorang yang sudah sepuh memiliki tabiat mirip anak kecil. Itu harus kumaklumi. Aku satu-satunya anak ayah yang belum menikah. Sementara ibu meninggal sejak sembilan tahun lalu. Bisa jadi, kerapuhan ayah bermula sejak ibu tiada. Sigaraning nyawa telah pergi. Ibarat nyala dian, sumbu dan minyak serba tinggal separuh.Akhirnya aku bertolak melalui bandara Narita. Sepanjang perjalanan, yang terbayang hanya wajah ayah. Wajah yang mengandung banyak gurat pengalaman. Garis kerut yang menyerupai lingkaran tahun pada penampang batang jati. Sungguh, ia ayah yang sangat kubanggakan! Dari pendirian-pendiriannya kuperoleh banyak pelajaran, yang kemudian mengalir dalam darahku.PESAWAT kembali mengudara. Ketika menyentuh bandara Soekarno-Hatta, belulang punggungku terasa berlepasan. Segera kutelepon rumah Kak Bayu."Syukurlah kamu sudah sampai. Fajar menjemputmu. Ini dia nomor teleponnya."Kak Fajar tersenyum di pagar pembatas. Kami berpelukan di appron, di sekitar udara Jakarta yang mengalir panas. Lalu sejuk AC mobil membawa kami ke jalan raya, meluncur sepanjang tol ke arah Merak. Kak Fajar menceritakan kesuksesan proses operasi prostat yang telah membuat ayah menderita. Selama ini, rasa sungkan membuat ayah tidak berterus-
Lagu Malam Braga
Selalu ada cita-cita dalam benaknya, untuk mabuk dan menyeret kaki di tengah malam, menyusuri Jalan Braga menuju penginapan. Ia akan menikmati bagaimana lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang yang bimbang; garis-garis bangunan pertokoan – yang berderet tak putus – acapkali menghilang dari pandangan; dan trotoar pun terasa bergelombang seperti sisa ombak yang menepi ke pantai.
Angin malam akan membisikkan keloneng becak di kejauhan, yang mengangkut beban dengan setengah kantuk ke arah Tamblong atau Suniaraja. Sewaktu-waktu mengirimkan pula jerit roda mobil yang sengaja menikung dengan kecepatan tinggi di perempatan, dari arah Banceuy, menjelang warung-warung sop-kaki-kambing di sisi kali Cikapundung menutup dagangan. Ia akan sedikit tersadar oleh suara mendadak itu, seperti cubitan mengagetkan pada gendang telinga. Tapi sebentar saja. Ia akan kembali melangkah dengan oleng, serupa kapal ferry yang menunggu di seberang dermaga, terayun-ayun oleh pertemuan gelombang selat. Bibirnya tersenyum dan mengguman: “Ah, anak muda borjuis! Apalagi yang mereka pikirkan selain makan terlambat? Menawar perempuan? Mengajak singgah ke diskotik? Dan menghabiskan sisa pagi di kamar motel? Puah! Ya, apalagi yang mereka pertimbangkan?”
Bulan yang berlayar di sela langit, begitu tenang dengan cahaya gadingnya, terapit jajaran rapat pertokoan Braga yang hangus oleh gelap malam. Ia menatap sambil terus melangkah di atas paving-block yang memang tidak rata. Melampaui toko demi toko. Terseok di antara mobil parkir yang nyaris beku oleh dingin malam. Serta-merta ia pun merapatkan jaketnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar