Custom Search

Jumat, 13 Februari 2009

LEGENDA BANYU WANGI

Pada suatu hari Nyai Pandanwungu datang ke Kerajaan Karang Sewu. Ia menemui Raja Sindureja dan sang Permaisuri yang bernama Kencanawati. Ia meminta Sang Raja agar mengutus seseorang untuk memetik Bunga Kendaga Buana di puncak Gunung Ijen. Nyai Pandanwungu mengatakan bahwa bunga tersebut sangat berkhasiat untuk meremajakan kecantikan abadi pada wajah yang meminum air tersebut khususnya ditujukan kepada Permaisuri. Selain itu ia juga mengusulkan anak tirinya yaitu Patih Sidapaksa untuk melaksanakan tugas tersebut. Hal itu ditujukan untuk menguji kesetiaan sang patih. Mendengar cerita Nyai Pandanwungu akhirnya Prabu Sindureja menyetujui hal tersebut. Dalam hati Nyai Pandanwungu sangat gembira ia dapat segera melaksanakan rencana jahatnya.
Setelah itu, Patih Sidapaksa dipanggil untuk menghadap. Padahal ia baru selesai melaksanakan tugas penting. Dan sekarang dalam masa istirahat. Untuk menunjukan kesetiaannya kepada Sang Prabu, ia segera berangkat. Disana ia diberi tugas tersebut. Betapa sedih hatinya karena ia harus melaksanakan tugas penting disaat istrinya yang bernama Ni Kembang Arun sangat membutuhkannya. Dikarenakan ia sedang hamil. Mendengar perkataan suaminya hati Ni Kembang Arun sangat sedih. Ia harus menerima dua hal berat yaitu ditinggal suaminya dan berhadapan dengan mertuanya yang selalu jahat dan merendahkan dirinya. Tetapi Ni Pandan Arun tidak mengatakan apapun, ia akan menyetujui keputusan apapun yang diambil oleh suaminya.
Maka berangkatlah Patih Sidapaksa menuju puncak Gunung Ijen. Sebelum ia berangkat, iatelah diberitahu oleh ibu tirinya agar ia jangan pernah kembali sebelum mendapatkan Bunga Kendaga Buana. Karena inti dari tugas ini adalah menguji kesetiaanmu kepada kerajaan ini. Kini sang patih telah menempuh perjalanan yang sangat jauh sampai berminggu-minggu, hingga istrinya melahirkan ia belum kembali. Ni Kembang Arun melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan tampan seperti ayahnya, yang kelak akan menggantikan posisi ayahnya di kerajaan.
Setelah bayi itu lahir, ibu tiri sang patih berpura-pura baik keada menantunya, seolah-olah ia sangat senang dengan kelahiran cucunya. Pada awalnya Ni Kembang Arun merasa heran dengan perubahan sikap mertuanya. Tetapi karena perilaku Nyai Pandanwungu selalu baik terhadap cucunya Ni Kembang Arun mulai percaya kepada mertuanya.
Ketika Ni Kembang Arun akan mandi, ia menitipkan putranya ke nenek dan bibi emban. Saat yang ditunggu Nyi Pandanwungu telah tiba. Ia segera menyuruh bibi emban untuk pergi, lalu ia membawa cucunya ke tengah hutan belakang rumah. Disana ia menghunuskan pisau ke leher cucunya yang masih suci sambil mengatakan, “keturunan darah Jember itu ! Mampuslah, kau !” Mayat anak Sidapaksa itu dibuang ke kali yang sangat keruh dan berbau busuk. Dan pisau kecil itu dibawa kembali untuk digunakan dalam muslihat yang selanjutnya.
Selesai mandi Ni Kembang Arun mencari anaknya. Ia bertanya kepada bibi emban. Kata bibi emban, “Den Putra tadi bersama neneknya”, lalu mereka mencari bayi tersebut sampai seisi rumah. Namun hasilnya nihil. Ni Kembang Arun pun mulai curiga kepada mertuanya, tetapi tanpa bukti yang jelas ia tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa hari kemudian Nyi Pandanwungu datang ke rumah menantunya. Ia berpura-pura kaget saat menantunya mengatakan bahwa cucunya teah hilang. Kemudian ia memaki menantunya dengan kata-kata yang sangat kasar dan kotor.
Setelah kejadian itu, setiap malam Ni Kembang Arun berdo’a agar kelak ia dapat bertemu kembali dengan anaknya yang sangat ia cintai. Ia menangis tanpa henti. Selain itu, ia tidak mau untuk makan sehingga tubuhnya tinggal sisa kulit dan tulang.
Patih Sidapaksa telah berhasil mendapatkan Bunga Kendaga Buana. Iakini telah sampai di kerajaan. Betapa senangnya hati Sang Prabu dan Permaisuri, karena sang Patih dapat melaksanakan tugas sesuai dengan keinginan mereka. Mendengar kabar tersebut Ni Kembang Arun sangat bahagia. Ia akan bertemu kembali dengan suaminya yang sangat ia cintai. Mengetahui kabar yang sama, Nyai Pandanwungu segera menyusun siasat. Ia menunggu anaknya di perempatan yang akan dilalui anaknya. Patih Sidapaksa melewati tempat tersebut sesuai apa yang diperkirakan Nyi Pandanwungu. Ia segera menghentikan langkah kudanya ketika melihat ibunya berada di tengah jalan. Lalu Nyi Pandanwungu menceritakan semua cerita bohong kepada anaknya. Kalau istrinya telah berselingkuh selama Sidapaksa pergi dan ia juga telah membunuh anakmu. Buktinya lihat saja di bawah bantal pasti ada pisau kecil yang berlumuran darah kering. Seandainya ia menangis itu hanya pura-pura untuk menutupi perbuatan bejadnya saja. Dipacunya kuda dengan kencang, sedang Nyi Pandanwungu bergembira melihat peristiwa itu.
Sesampainya di rumah Sidapaksa sangat marah. Ia lalu menyeret istrinya keluar rumah dan memaki istrinya dengan kata-kata yang kasar. Ia terus memaki tanpa memperdulikan apa yang dikatakan istrinya. Ia membawa istrinya ke tepi kali dimana istrinya membuang anaknya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Namun Ni Kembang Arun yang tadinya diam saja tiba-tiba menangis, “Oh, Gusti, ternyata Engkau selama ini disini anakku,” kata Ni Kembang Arun. Tiba-tiba muncul bunga berwarna putih yang besar dari kali tersebut. Airnya yang tadinya keruh dan berbau busuk, kini telah berubah jernih dan harum. Dengan sekejap Ni Kembang Arun melompat kedalam air dan hilang begitu saja. Sidapaksa hanya diam saja tak berdaya melihat kejadian itu. Inti bunga tersebut terdapat wajah anaknya. Ia mengatakan bahwa ibunya tidak bersalah melainkan neneknya yang telah membunuh dirinya. Kemudian muncul bunga yang lebih besar lagi dari dalam kali itu. Didalam bunga tersebut terdapat wajah Ni Kembang Arun. Kedua bunga itu hanyut oleh arus sungai dan hilang dalam sekejap mata.
Dengan perasaan galau Patih Sidapaksa meninggalkan tempat tersebut. Dari balik pohon terdapat Nyi Pandanwungu yang sedari tadi mengintip kejadian tadi. Ia segera lari ketakutan karena ia takut akan dibunuh oleh anak tirinya. Tiba-tiba langit menjadi gelap gemuruh bersahut-sahutan. Seketika itu pula tubuh nenek penuh dengki itu tersambar petir, dan abunya ditiup angin yang keras. Seakan-akan bumipun tidak mau menerimanya. Sejak saat itu tempat tersebut diberi nama Banyu Wangi.

Unsur Intrinsik
Tema
Kesetiaan istri terhadap suaminya

Tokoh
Sidapaksa : setia, patuh terhadap orang tua
Nyai Pandanwungu : jahat, iri dan dengki
Ni Kembang Arun : setia, baik hati
Kencanawati : setia

Alur
Maju karena alur dari cerita ini beruntun antara kejadian satu dengan yang lain


Sudut Pandang
Orang ke-3, karena dalam cerita ini pengarang menggunakan nama tokoh/orang dalam menceritakannya. Selain itu pengarang hanya sebagai pengamat.

Setting
Cerita ini terjadi di Kerajaan Karangsewu

Amanat
- Kebenaran akan selalu terungkap walaupun melalui proses yang panjang
- Siapa yang menanam benih kebaikan pasti ia akan menuai hasilnya begitu pula dengan kejahatan

Gerbang Unpad Ngompol

Gerbang Universitas Padjadjaran (Unpad) ngompol adalah sebuah pernyataan yang sangat mengherankan. Karena dalam benak kita hanya bayi saja yang bisa ngompol. Namun gerbang unpad yang ada di Jatingangorpun bisa ngompol juga. Saya rasa hal itu bisa saja tetapi pernyataan tersebut tidak kita telan metah-mentah.
Dalam kasus ini makna ngompol adalah kebocoran saluran air di gerbang Unpad yang sekarang sudah beralih fungsinya menjadi jalan raya. Dan kebocoran tersebut mengakibatkan terbentuknya aliran air di sisi kanan dan kiri jalan. Maka terciptalah sebuah sungai kecil yang mengapit jalan raya. Kebocoran air semakin bertambah parah saat hujan datang. Kapasitas air bertambah maka bertambah kuat pula air yang mencoba keluar dari saluran yang bocor. Saya kira kalau hal itu dibiarkan begitu saja pasti masalahnya akan bertambah panjang.
Seperti kata Cinta Laura yang berbunyi “ Sudah ujan, becek, tapi banyak ojek”. Mungin itulah gamabaran jalan disekitar gerbang Unpad saat ini. Secara kasar dapat digambarkan pula seperti pasar induk di saat hujan. Ditambah lagi dengan jumlah kendaraan yang melintasi jalan tersebut sangat padat. Maka pemandangan yang kurang memanjakan mata tercipta di sekitar jalan yang menjadi aliran sungai kecil yang terbentuk akibat kebocoran.
Sebagai pejalan kaki, saya merasa sangat dirugikan dengan konsisi tersebut. Karena semenjak terjadinya kebocoran tersebut saya sulit untuk menyebrang jalan. Apalagi saat hujan ditambah lagi dengan jumlah kendaraan yang melintas taksedikitpun berkurang. Sekalilagi banyak pejalan kaki yang dirugikan.
Dalam Hal ini siapakah yang bersalah? Apakah dri pihak pemerintah yang telah membangun jalan tersebut kurang teliti sehingga mengakibatkan kebocoran. Karena menurut pengalaman saya belum gerbang lama Unpad dipugar untuk dijadikan jalan raya. Hal seperti ini tidak pernah terjadi. Tetapi mungkin saja ini hanya sebuah kebetulan. Lalu siapakan yang bersalah? Apakah mahasiswa Unpad dan masyarakat sekitar yang kurang peduli terhadap lingkungan. Sehingga kebocoran saluran air terjadi akibar sampah yang mumpuk. Atau pihak Unpad juga turut andil dalam masalah ini. Saya kira setiap orang memiliki jawabannya masing-masing. Dan sekarang bukan saat kita untuk saling menyalahkan.
Saya pikir yang terpenting untuk saat ini adalah masalah kebocoran ini harus segera teratasi. Walupun terlihat sepele namun akan menjadi perkara yang besar apabila sudah menelan korban. Saya harap pihak yang berwenang dalam masalah ini belum tetutup nuraninya. Sehingga mereka cepat tanggap dalam mengatasi malasah ini.

Otak atau Perut yang Bekerja

Kebanyakan orang membangkan apa yang mereka punya. Salah satunya adalah kemampuan otak mereka. Bahkan sebagian orang merasa lebih tinggi dibanding orang lain. Dan setiap orang pasti akan merasa senang jika memiliki otak yang pandai. Namun dalam kenyataannya banyak orang yang membanggakan kepandaian otak mereka saat makan tidak menggunakan otak mereka. Mengapa saya menagatakan seperti itu karena. Kita telah mengetahui bahwa banyak makanan yang berbahaya dan mengancam kesehatan orang yang memakannya. Contohya makanan –makanan instan yang kita sendiri tahu bagaimana kandungan kolesterol yang tinggi. Apabila kandungan kolesterol dalam tubuh kita terlalu banyak maka semakin rentan pula berbagai penyakit akan mudah datang menyerang.
Karena kebanyakan orang makan tidak menggunakan otak mereka melainkan dengan kepuasan indra perasa dan kenyangnya perut yang menjadi takaran mereka. Maka penyakit yang seharusnya terjadi pada usia lanjut yaitu stroke. Kini mulai merambah usia produktif. Saya kira hal itu wajar karena kebanyakan orang kurang memperhatikan pola makan dan gaya hidup mereka. gambaran manusia zaman sekarang adalah manusia yang semuanya serba priktis dan semuanya serba dikendalikan oleh mesin. Olah raga sedikit demi sedikit ditinggalkan. Kalau sudah seperti ini apa kata dunuia. Manusia hanya tidur dan sedikit melakukan aktivitas. Paling hanya jempol mereka saja yang berkerja untuk mengirim short massage service (SMS). Jadi dapat digambarkan proto tipe manusia di zaman yang akan datang kalu manusia bertubuh kecil, berkepala kecil, sedangkan jempol mereka saja yang besar. Karena organ itulah yang bekerja.
Sampai kapankan pola kehidupan seperti ini akan berlanjut. Padahal sudah banyak film yang mengingatkan kita akan bahaya pola hidup yang tidak sehat. Contohnya film Wall-E yang mengangkat bahwa kebiasaan manusia yang membuang sampah sembarangan dan memproduksi barang tanpa memperhitungkan kegunaan serta kapasitasnya. Mengakibatkan dunia akan tertutup sampah dan mengakibatkan taman tak mau tumbuh. Sehingga oksigen musnah dan manusia harus meninggalkan bumi. Selain itu, bentuk manusia digambarkan hanya segumpal daging yang bisanya hanya duduk. Makan dan minum sambil duduk. Tulang mereka tidak mampu menahan berat beban mereka. Untuk berdiri saja susah. Senandainya kehidupan kita seperti ini selamanya maka bagaimana kehidupan kita dimasa yang akan datang. Apakah yang digamabarkan dalam film futuristik Wall- E akan jadi kenyataan?
Mulai dari sekarang kita harus merubah kebiasaan kita. Yaitu makan dengan menggunakan otak. Memilih apa yang baik dan buruk bagi tubuh kita. Selain itu kita harus peduli linggkungan agar udara yang menyehatkan masih tersedia untuk kita. Karena perlu diwaspadai penyakit akibat pola makan dan pola hidup yang kurang baik. Senantiasa mengincar kita.

Murka dan Merana

Pemanasan global (global worming) sebuah kata yang sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penduduk dunia. Termasuk saya yang sudah lama merasakan efek pemanasan global tersebut. Saya sering berangan-angan sampai kapankah bumi kita akan bertahan? Bumi kita mulai terbatuk-batuk dengan asap pabrik yang sekarang mulai menyelimuti langit kita. Apakah bumi kita dapat bertahan dari penyakit kronis yang menggerogoti seluruh organ dalamnya secara perlahan tatapi pasti layaknya virus HIV?
Kalau saja bumi kita dapat berbicara, dia pasti akan mencaci-maki kita. Bahkan dengan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Dan sampai akhirnya, ia tidak mau lagi menampung manusia untuk tinggal. Ia begitu merana. Ia hanya bisa meluapkan isi hatinya dengan memendam perasaannya dalam-dalam. Mungkin saja ia sering iri dengan teman sejawatnya yaitu planet-planet lainya. Mereka tidak memiliki beban untuk memberi kehidupan. Mereka dapat melenggang dengan santainya mengitari matahari. Tidak seperti bumi yang harus memikul beban berat di pundaknya.
Salama ini, hanya segelintir orang saja yang peduli terhadap lingkungan. Apakah kita tidak mempedulikan masa depan anak cucuku kita? Akankah gambaran bumi yang digambarkan dalam film animasi Wall-E yang begitu jelas dengan tumpukan sampah dan merana. Sampai-sampai tanamanpun takmau tumbuh. Oksigen lari entah kemana. Dan bumi tinggalkan begitu saja. Oleh manusia yang tidak tahu balas budi. Sampai kapankah kita tetap diam dengan keadaan seperti ini? Sudah hilangkah akal budi manusia di zaman yang sudah edan ini.
Hutan di Indonesia semakin menyusut. Sedangkan pembalakan liar semakin hari meningkat. Hutan di Indonesia yang dulunya mendapat julukan paru-paru dunia. Kini mulai terserang bronkhitis. Kuman-kuman jahanam mengerogoti sel-sel paru-paru dunia. Mereka hanya mereguk untungnya saja tanpa memikirkan efek jangka panjangnya.
Coba kita pikirkan, lubang ozon sudah terbuka begitu lebarnya. Dan alam sering menunjukan kemurkaannya kepada kita. Kapankah setiap orang di seluruh dunia sadar akan peduli lingkungan? Saya pikir hal itu sangat tipis kemungkinannya untuk terjadi. Terutama untuk bangsa Indonesia. Bangsa yang penduduknya bebal untuk peduli lingkungan. Menurut saya, setiap warganya sudah kebal terhadap banjir dan bencana alam yang menimpa. Dan hidung kita sudah berevolusi sehingga tahan terhadap berbagai macam bau sampah yang ada. Mata kita sudah tertutup katarak sehingga membiarkan kekayaan alam kita dikeruk dan dirusak oleh orang asing.
Musim di Indonesia sudah tidak menentu. Kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Sudah tidak dapat ditentukan seperti dulu. Semua serba tidak menentu, musim sudah linglung. Ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Akibat lapisan ozon terbuka yang semakin melebar. Alam begitu murka, sampai-sampai menunjukan kemurkaannnya dengan mendatangkan bencana di mana-mana. Tidak terkecuali Negara Indonesia.
Dari segi kesehatan berbagai macam penyakit aneh mulai bermunculan. Dan meneror setiap penduduk dunia. Virus-virus bermutasi akibat ulah kita yang menjalamah dunia mereka. Dan akibat sinar ultraviolet yang secara langsung menerobos pori-pori ozon yang sudah merapuh. Flu burung dan HIV, salah satu contoh nyata dari hasil mutasi tersebut. Ulah siapakah? Lagi-lagi ulah kita sendiri.
Angan-angan saya melambung lagi, andai saja seluruh penduduk dunia sadar dari mimpinya sekarang. Mungkin pencegahan terhadap pemanasan global dapat sedikit teratasi. Namun, kini kita tengah asyik terlelap dalam nina bobo teknologi yang semakin lama semakin mengila. Setiap Negara berlomba-lomba menciptakan alat mutahir yang dapat menghancurkan dunia sekalipun. Nuklir salah satu produk utamanya. Apakah pemikiran mereka sudah keblinger. Saya hanya tertawa sinis melihat keadaan yang semakin miris. Di sisi lain, negara kita hanya negara yang tunduk seperti kerbau. Negara yang tidak punya kekuatan. Ia hanya menarik nafas panjang. Melihat badannya dijadikan tempat sampah. Bagi teknologi asing yang sudah menjadi rongsokan. Ia hanya menjadi korban dari manusia yang semakin edan.
Awan hitam membumbung dilangit, kentut dari kijang dan bebek bermesin memenuhi setiap partikael udara yang ada di dunia. Ditambah lagi dengan cerutu pabrik yang tidak berhenti mengepul. Di Indonesia tidak ada syarat khusus untuk memiliki kendaraan tersebut. Jadi binatang dan banguan bermesin itu dapat tumbuh subur. Bagaikan cendawan di musim hujan. Hal itu dikarenakan pola pikir kita sudah keblinger. Kita lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum. Padahal dengan naik kendaraan umum kita tidak susah-susah dalam perjalanan. Kita hanya duduk manis untuk sampai tujuan. Sayangnya, hal itu tidak akan terjadi. Karena kurangnya fasilitas dan perhatian pemerintah untuk memanjakan rakyatnya. Selain itu, pemerintah juga kurang memperhatikan tata ruang kota. Sehingga asap dapat berkumpul dimana-mana tanpa di uraikan oleh tanaman. Dan pemerintah hanya memikirkan keuntungan dari investor yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Hal yang ironis terjadi di Negara kita tercinta. Yaitu pembalakan liar terus berjalan bergandengan tangan dengan angka polusi di Indonesia. Negara yang kecil dalam segala hal ini, turut andil terhadap pemanasan global yang melanda dunia. Dunia yang semakin tua.
Inti permasalahan dari pemanasan global adalah manusia itu sendiri. Saya beragnggapan bahwa kita selama ini takut dengan masalah yang kita buat sendiri. Takut yang sudah mengakar dalam hati manusia yang ada di bumi. Rasa takut untuk menyelesaikan permasalahan. Sampai akhirnya kita merasa terbiasa dengan rasa takut itu. Pemanasan global sudah tidak dapat dicegah lagi. Semua terlanjur terjadi. Yang dapat kita lakukan saat ini adalah merubah pola hidup kita. Kita harus peka terhadap lingkungan. Agar memperlambat laju kerusakan bumi akibat pemanasan global. Dan umur bumi kita dapat bertahan sampai anak cucu kita.

Senyum Karyamin

Tokoh Karyamin dalan Cerpen “Senyum Karyamin” digamabarkan sebagai orang desa yang miskin. Ia bekerja sebagaipenambang batu di sungai. Penulis mengambarkan karakter Karyamin sebagai seseorang laki-laki yang pantang menyerah ia berusaha terus menerus walaupun ia jatuh samp[ai beberapa kali.berikut kutipannya:
“Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya.”(halaman 1)
Dari kutipan diatas Karyamin pantang menyerah untuk mengankat batu ke atas walaupun ia sudah jatuh dua kali pada pagi itu. Terlebih lagi ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Karyamin digambarkan juga sebagai seorang suami yang bertanggung jawab ia berusaha menafkahi keluarganya. Ia adalah orang miskin yang bodoh. Yang sudah ditipu tengkulak yang membawa batunya. Penulis melukiskan Karyamin sebagai orang desa yang identik dengan kebodohan, kemiskinan dan bersahaja. Penulis menggambarkan kemiskinan tersebut dengan Karyamin yang terbelit oleh banyak utang. Selaina itu ia sendiri tidak mampu untuk mengisiperutnya sendiri. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Karakter tiadak mau merepotkan orang lain ditambahkan penulis sebagai sifat Karyamin. Sebagai mana orang desa yang tahu diri. Karyamin adalah orang yang sabar ia mengahadapi cobaan hanya dengan tersenyum. Karena ia tidak tahu lag harus berbuat apa dengan kesulitan yang ia alami. Penulis menggambarkan senyuman Karyamin sebagai suatu kemenangan atas segala kesuliatan yang menimpa Karyamin. Karyamin juga sangat mencintai istrinya dan ia tidak mau membuat istrinya bersedih atas apa yang menimpanya. Ia tidak mau menambah penderitaan yang sedang dialami istrinya.
Dalam cerpen ini latar alam merupankan hal yang sangat menonjol dalam cerpan ini. Seperti cerpen-cerpennya yang lain Ahmad Tohari sangat kuat dalam menggambarkan latar alam. Lataralam di cerpen ini adalah sebuah kali yang masih asri dan masih dapait diambil batunya. Tidak seperi kali-kali yang ada di kota-kota besar yang kalinya sudah tidak dapat diharapkan lagi karena berwara hitam dan bau. Berikut kutipan latar alam carai cerpen “Seyum Karyamin”:
“Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karuyamin menagkap sesuatu yang bergerak padasebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh si paruh udang.punggugnya biru erngkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah sanga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Degan mangsa diparuhnya mangsa diparuhnya burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap dibalik gerumbul pandan.” (halaman 5)
Penulis benar-benar dengan sangan sangat detail menggambarkan suasana alam yang ada didaerah tersebut. Baik dari kebiasaan burung si paruh udang yang lengkap dengan morfologi burung tersebut. Yang kini sudah jarang ditemui di kota. Penulis juga menggambarkan pedesaan sebag dunia yang jujur dan masih erat sekali rasa saling menolong. Berikut kutipannya:
“Jadi kamu sungguh tak mau makan, Min?” Tanya Saidah melihat Karyamin bangkit.
“Tidak. Kalau kamu tak taham melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang –utangku dankawan kawan.” (halaman 4)
Dari kutipan di atas penulis berusaha melukiskan rasa saling menolong maih sangat lekat di pedesaan. Tidak seperti di kota yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Selain itu penulis benar-benar dengan jelas mengetahui bagai mana cara menganakat batu. Dari tempat yang miring.hal itu menambah kesan benar-benar seperti nyata.
Cerpen “Senyum Karyamin” menggunakan sudut pandang ketiga penulis serba tahu. Karena penulis menggukan Karyamin sebag pelaku utama dan menggukana kata ganti orang ketiga. Penulis juga menggukan gaya bahasa yang sederhana di samaping itu ia juga banyak menggukan majas. Berikut kutipannya:
“Tubuhnya rubuh,lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.” (halaman1)
“lambungnya yang kempongberguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya”(halaman 6)
Sedangkan alur penulismenggukan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu Karyamin. Dan setiap kejadian berlangsung secara runtun.
Agaknya, judul itu sendiri dapat menyuratkan makna yang ingin diangkat dalam cerpen-cerpen di dalamnya. Senyum—untuk kepahitan hidup yang sering mendera Karyamin (wakil dari orang-orang desa yang miskin, yang pinggiran, dan juga yang tersingkir dari masyarakat desa) tanpa mengetahui jalan keluar darinya, dari kepahitan itu. Senyum sebagai lambang dari usaha menerima nasib, bahkan menertawainya, karena apa boleh buat. Dan dalam hampir 13 cerpen, “senyum” itu ada.

Laras Panjang Senapan Cinta

Laras Panjang Senapan Cinta
DZREPPP!
Letup dengan desibel rendah. Letusan tertahan, yang mengumpulkan sekaligus memecah udara. Seperti bunyi petir dalam gumpalan awan pekat, jauh di ujung langit. Mirip beduk dingin yang dipukul ketika malam basah. Lalu setiap orang menunggu: ada apa sesudah itu?
Sunyi.
Angin terdengar lebih detail. Kesiur udara menampar rimbun daun. Dengung halus sayap kumbang. Ah, tapi bukan itu. Di beranda, aku dikejutkan oleh derai bulu burung. Seketika aku melompat turun ke halaman rumah. Mendongak ke atas. Berlatar langit kesumba, awal senja yang cemerlang, kulihat berpuluh kelopak bulu putih jatuh seperti serpihan kapas.
Helai-helai sayap yang begitu lembut. Perlahan mencium bumi. Satu per satu. Tetapi, kenapa tak kunjung muncul pemilik bulu-bulu itu? Hatiku berdesir. Ada sesuatu yang tak biasa. Dan aku pun menyimpulkan, suara yang terdengar beberapa detik lalu adalah letusan senapan dengan peredam. Dari mana ditembakkan?
Aku memutar kepala ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari tanda. Sumber suara. Atau isyarat sekecil apa pun. Namun, tak terdengar langkah, dengus napas, atau kerisik rumput yang terinjak. Atau setidaknya bau keringat orang asing di sekitarku. Tentu, desa yang tenteram ini tak boleh terusik. Apalagi oleh sebuah kejahatan. Menembak burung, untuk alasan apa pun, adalah sebuah kejahatan. Maka wajar jika di dadaku, kemudian, tumbuh tunas dendam. Penembak burung itu, jika diketahui, harus mendapat ganjaran yang setimpal.
Kini, seluruh lembaran bulu sayap telah tiba di tanah.
Menemani Ayah Merokok

Satu jam menunggu dalam pesawat, bukan hal yang menyenangkan. Suasana air port Changi hanya kulihat melalui oval kaca jendela. Gugusan arsitektur yang rapi, bangunan kubikal, dengan warna-warna tropis, tampak hangat di luar sana. Di sekitar kami, beberapa pramugari Cathay Pacific sibuk mengatur penumpang yang baru masuk. Setiap kali melintas, beterbangan uap wangi dari leher dan ketiak mereka.Tapi, bukan itu yang kupikirkan saat ini. Ada seorang ayah sedang menunggu di Kaloran, Serang, Provinsi Banten. Ia sedang sakit, dan cukup kritis. Anaknya memang bukan hanya aku. Enam orang. Tetapi aku si bungsu yang sangat dinanti-nantikan."Taufan, karena telepon ke Tokyo mahal, aku ingin bicara singkat saja," ujar Kak Bayu dalam sebuah interlokal. Tiga hari yang lalu. "Ayah sakit keras. Ini hari pertama ayah pulang dari rumah sakit. Ayah rindu kamu. Namamu paling sering disebut.""Aku juga kangen ayah. Aku akan segera minta ijin agar bisa meninggalkan pekerjaan barang seminggu. Tapi, tentu tak langsung bisa bertolak hari ini," kataku."Kuharap boss-mu tidak mempersulit. Kudoakan supaya pekerjaan yang kautinggalkan tidak menjadi terbengkalai." Kak Bayu memahami keadaanku.Aku mengucapkan terimakasih dan menyampaikan salam. Sejak itu, pikiranku terbagi: antara pekerjaan yang harus kuselesaikan dan gema suara panggilan ayah. Kadang-kadang, seseorang yang sudah sepuh memiliki tabiat mirip anak kecil. Itu harus kumaklumi. Aku satu-satunya anak ayah yang belum menikah. Sementara ibu meninggal sejak sembilan tahun lalu. Bisa jadi, kerapuhan ayah bermula sejak ibu tiada. Sigaraning nyawa telah pergi. Ibarat nyala dian, sumbu dan minyak serba tinggal separuh.Akhirnya aku bertolak melalui bandara Narita. Sepanjang perjalanan, yang terbayang hanya wajah ayah. Wajah yang mengandung banyak gurat pengalaman. Garis kerut yang menyerupai lingkaran tahun pada penampang batang jati. Sungguh, ia ayah yang sangat kubanggakan! Dari pendirian-pendiriannya kuperoleh banyak pelajaran, yang kemudian mengalir dalam darahku.PESAWAT kembali mengudara. Ketika menyentuh bandara Soekarno-Hatta, belulang punggungku terasa berlepasan. Segera kutelepon rumah Kak Bayu."Syukurlah kamu sudah sampai. Fajar menjemputmu. Ini dia nomor teleponnya."Kak Fajar tersenyum di pagar pembatas. Kami berpelukan di appron, di sekitar udara Jakarta yang mengalir panas. Lalu sejuk AC mobil membawa kami ke jalan raya, meluncur sepanjang tol ke arah Merak. Kak Fajar menceritakan kesuksesan proses operasi prostat yang telah membuat ayah menderita. Selama ini, rasa sungkan membuat ayah tidak berterus-
Lagu Malam Braga
Selalu ada cita-cita dalam benaknya, untuk mabuk dan menyeret kaki di tengah malam, menyusuri Jalan Braga menuju penginapan. Ia akan menikmati bagaimana lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang yang bimbang; garis-garis bangunan pertokoan – yang berderet tak putus – acapkali menghilang dari pandangan; dan trotoar pun terasa bergelombang seperti sisa ombak yang menepi ke pantai.
Angin malam akan membisikkan keloneng becak di kejauhan, yang mengangkut beban dengan setengah kantuk ke arah Tamblong atau Suniaraja. Sewaktu-waktu mengirimkan pula jerit roda mobil yang sengaja menikung dengan kecepatan tinggi di perempatan, dari arah Banceuy, menjelang warung-warung sop-kaki-kambing di sisi kali Cikapundung menutup dagangan. Ia akan sedikit tersadar oleh suara mendadak itu, seperti cubitan mengagetkan pada gendang telinga. Tapi sebentar saja. Ia akan kembali melangkah dengan oleng, serupa kapal ferry yang menunggu di seberang dermaga, terayun-ayun oleh pertemuan gelombang selat. Bibirnya tersenyum dan mengguman: “Ah, anak muda borjuis! Apalagi yang mereka pikirkan selain makan terlambat? Menawar perempuan? Mengajak singgah ke diskotik? Dan menghabiskan sisa pagi di kamar motel? Puah! Ya, apalagi yang mereka pertimbangkan?”
Bulan yang berlayar di sela langit, begitu tenang dengan cahaya gadingnya, terapit jajaran rapat pertokoan Braga yang hangus oleh gelap malam. Ia menatap sambil terus melangkah di atas paving-block yang memang tidak rata. Melampaui toko demi toko. Terseok di antara mobil parkir yang nyaris beku oleh dingin malam. Serta-merta ia pun merapatkan jaketnya.

Dua Dunia

Cerpen “Dua Dunia” mengisahkan tentang kekuatan seorang wanita yang bernama Isnawati. Dalam menjalani hidupnya. Tubuhnya kini telah habis oleh penyakit tifus yang tealah menyerangnya. Rambutnya rontok setiap kali ia sisir. Dan tubuhnya sudah tidak segar seperti dulu lagi. Selain itu, ia juga harus membatasi semua aktifitasnya tidak seperti dulu. Ia adalah seorang janda yang memiliki satu anak. Suaminya Darwono telah melukai hatinya. Dan sekarang Darwono ingin mengambil anaknya. Namun Isnawati menolak untuk memberikan anaknya. Ia tidak mau anaknya dirawat ibu tiri. Isnawati selama ini tidak mengetahui bahwa mantan suaminya sering memberi uang kepada ibunya. Namun uang tersebut digunakan untuk berjudi oleh ibunya. Setelah ibunya meninggal hanya hutang yang bertumpuk yang ia tinggalkan. Sedangkan gaji pensiunan ayahnya tidak mampu melunasi hutang tersebut. Isnawani meninggalkan suaminya kareana ia tidak betah tinggal bersama mertuanya suka mengatur suaminya. Sedangka sumainya selalu menurut. Ibu mertuanya adalah ibu tiri suaminya. Dan kedunya melakukan hubungan yang sepantasnya tidak dilakukan antara ibu tiri dan anaknya. Hal itulah yang membuat Isnawati meinggalkan suaminya.
Cerpen”Istri Prajurit” mengisahkan tentang ketegaran iasri prajurit yang ditinggal mati. Dan temannya berusaha memberikan semangat untuk menjalani idup yang seperti dahulu. Hidup yang penuh semangat.
Cerpen “Perempuan Warung” mengisahkan Kinah yang menggantikan kakak perempuanya untuk berjualan di warung dikarenakan kakaknya melahirkan. Ia menjaga warung bersama kakak iparnya yaitu Karjan. Namun Karjan sering memarahi Kinah layaknya sebagai seorang pembantu. Kinah melayani setiap pelanggan dengan menundukan kepala. Dan tanpa berkata sepatah kata pun. Pada suatu ketika datang seorang laki-laki berbadan tegap ke warungnya. Kinah melayani laki-laki tersebut seperti biasa tanpa menunjukan mukanya. Sedang kakak iparnya pergi mencari hiburan. Tiba-tiba laki-laki tersebut manggil Kinah. Ternyata laki-laki tersebut adalah laki-laki yang telah merenggut keperawanan Kinah. Ia adalah Marjo. Keduanya bersal dari desa yang sama. Desa yang kurang subur. Sehingga banya penduduk yang menjadi maling. Dan banyak meninggalkan desa tersebut. Marjo mulai merayu Kinah seperti dahulu. Namun Kinah berusah menolaknya karea keduanya sama-sam sudah berumah tangga.
Cerpen “Warung Bu Sally” mengisahkan tentang seseorang yang bernama Saliem dan suaminya yang bernama Samijo. Keduanya adalah orang yang berasal dari desa. Keduanya hidup susah. Dan memiliki banyak anak. Samijo bekerja sebagai buruh bangunan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang terbuat alakadarnya. Di dekat seklolah. Karena pekarangan sekolah tersebut lebih banyak dan tidak digunakan. Sehingga bu Saliem membuka warung pecel di rumah tersebut. Dan anak-anak sekolah banyak yang jajan diwarungnya. Suatu ketika datang seorang laki-laki yang memakai setelan rapih datang ke warungnya.ia memesan satu porsi pecel. Dan setelah memakan pecel tersebut ia memuji percel buatannya. Ternyata laki-laki tersebut adalah orang dari pepsodent yang menawarkan kerjasama. Dengan cara measang iklan pada warung tersebut. Hal itu diwujudkan dengan papan nama waarung tersebut yaitu Warung Bu Sally yang dibarengi dengan lambang pepsodent.
Cerpen “keberuntungan” mangisahkan Jamjuri yang mengalami nasib yang kurang beruntung pada awalnya. Karena ia harus bekerja keras untuk mendapatkana yang ia inginkan termasuk mendapatkan Kasnah. Sedangkan Suro mendaptkan apa yang ia inginkan dengan mudah. Dengan cara meminta belas kasihan orang lain. Namun di akhir cerita keberuntungan berbalik, Jamsuri mendapatkan Kasnah yang selama ini ia impikan. Sedangkan Suro malah menjatuhkan hasil panen Kasnah ke jurang.

Laut Biru Abu

"Mataku menatap biru di bawah situ. Laut. Laut yang mencium langit. Ataukah langit yang mencium laut? Tidak ada yang tahu. Aku hanya mendapati ketika mereka tengah berciuman. Biru. Laut biru berombak seakan seluruh tubuhnya ingin menggapai dan menyentuh. Langit dengan biru yang hampir sama seakan hendak jatuh dan menyerahkan diri ke dalam pelukan laut di bawah situ. Mereka serasa satu. Biru. Tidakkah kamu merasa ini haru ?"
“Hening. Angin memainkan pucuk-pucuk rambut kami. Jalanan aspal menurun ini sepi. Tembok bata pembatas di kiri dan kanan jalan buntu ini tidak menyimpan suara di balik sana. Hanya aku dan kamu yang cukup melankolis untuk duduk di sini, melihat ke bawah sana, dan mengiris sunyi dengan bertukar beberapa baris kata. Perahu layar bergerak semakin ke tengah.”
Dari kutipan diatas tergambar susaba yang damai yang terjalinantara biru langit da biru laut. Dan latar tempat dalam cerpen ini adalah jalan aspal yang terletak dipinggir laut. Berikut kutipnnya:
“Aku menunduk, memandang jalan aspal alas kita duduk. Saat aku kembali memandangmu, agaknya ada satu ?mengapa? yang meluncur keluar dari situ sebab matamu memandang ke arah atas melewati kepalaku. Dan dari situ aku mendapati hatimu berkata, ?ah, ayolah..? Satu gumpal udara jatuh terguling dari lubang hidungku. Tapi mata biruku kali ini terlalu keras kepala untuk berlalu.”
Cerpen ini menggunakan alur maju karena tidak ada bagian yang mengulang masa lalu. Sedangkan sudut pandang cerpen ini menggunkan sudut pandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan emngganakn nam orang sebagi tokoh dalam cerpen ini berkut kutipannya:
“Kamu tidak mengenal kami, o Juliet!" Ujung bibirnya menaik, membentuk segaris senyum menghina. Tapi sebentar...kami? Aku memutar kepalaku ke arah yang berlawanan. Benar sekali, ada empat orang lagi berdiri di tembok pembatas sebelah kiri. Wajah-wajah yang sama menghinanya terpasang di atas tubuh-tubuh yang sama gempalnya. Ada apa ini? "Kamu tidak mengenal kami, tapi kamu akan mengenal dengan baik tangan dan kaki kami, Juliet manis, meski mungkin tak selembut perlakuan Romeo-mu!"
Tokoh Juliet dalamcerpen ini digambarkan sebagi seorang pria yang mengalaipenyimpangan sexual yaitu menyukai sesama jenis. Penulis pada tidak menyebutkan secara langsung bahwa Juliet seorang pria. Namun hal itu terbukti dari kutipan sebagai berikut :
"Julia bukan siapa-siapa. Hanya saja, kita bukan pasangan yang cocok di mata mereka. Membuatku tidak boleh terlihat terlalu bersamamu. Termasuk saat ini."
“ Kusadari itu ketika sebuah perkataan menggedor gendang telingaku tepat ketika pengelihatan dan kesadaran hendak terjerembab jatuh: wahai homo menjijikkan, ternistakanlah kaummu! Aku menutup mataku. Mataku biru. Dan basahnya haru.”
Tokoh Julia digambarkan sebagi tokoh yang setia karena ia tetap menunggu Romeo-nya datang. Berikut kutipannya:
“Pagi yang enggan. Tujuh belas menit aku berada di sini. Angin musim dingin menyelusup masuk pori-poriku bagai hantu. Laut di bawah situ telah berganti baju: abu-abu...dan sedikit bergemuruh. Mataku tetap biru, tidak abu-abu. Mungkin hatiku, entahlah, yang jelas dindingnya menggemakan satu gemuruh yang resah dan sayu. Kamu, di manakah?”
Selain itu Tokoh Julia begitu mencintai Romeonya. Halite terbukti walaupun ia disiksa ia tetap mengingat Romeonya. Berikut kutipannya:
“Suara-suara mereka mengepungku. Laut mengirimkan suara gemuruh, meronta-ronta, seperti aku. Tapi tangan-tangan itu terlalu kuat. Untuk kesekian kalinya tamparan dan kepalan mereka menyapa kulit wajahku. Kurasakan bibir dan hidungku berdarah. Pelipisku robek, darah mengaburkan pandangan. Satu teriakan terlepas dari mulutku ketika sebuah kaki menendang ulu hatiku keras-keras. Untuk sejenak udara tak hanya diisi gemuruh ombak, mengagetkan seekor burung gagak. Kesadaran beringsut ke ambang ada dan tidak. Di manakah kamu, kekasihku?”
Tema dari cerpen ini adalah cinta terlarang. Karena cinta sesame jenis dilarang oleh agama. Cinta antara Romeo dan Juliet dalam cerpen ini memang hamper sama dengan kisah Romeo dan Juliet pada umumnya. Karena orang tu Romeo tidak mengijinkan keduanya bersatu. Namun hal yang berbeda adalah kedua tokoh tersebut adalah pasangan sesama jenis. Dan diakhir cerita penulis menjelaskan bahwa keduanya tidak bisa bersatu seperti langit dan laut. Berkut kutipannya:
“Agaknya kesadaran dan penglihatan bersamaan mencapai pintu keluar, meninggalkan gema denyut jantung seorang diri; sedih. Perlahan aku membuka mata, dan kamu ada di sana. Kudapati kamu di langit putih pucat, memandangku sekilas lalu membuang muka. Ternyata aku terperdaya. Laut biru dan langit biru tidak akan bersatu, tidak pernah bersatu. Mereka hanya bertemu. Langit biru dan laut biru itu haru, karena mereka akan berpisah ketika langit putih pucat dan laut abu-abu”

Orang Bernomor Punggung

Cerpen “Orang Bernomor Punggung” menceritakan ketidak tahuan yang berakhir fatal. Dan keikhalasan orang bernomorpunggunf tersebut. Tokoh laki-laki bernomor punggung memiliki sifat patuh dan tidakmau menyusahkan orang lain berikut kutipannya:
“Berbilang tahun ia tinggal di gubuk kecil batas antara kampung dan hutan. Ia sudah beristri pula. Ia persunting seorang gadis kampung. Untuk menghidupi keluarganya ia menjadi pembelah kayu. Tiga hari sekali ia akan mengangkut kayu di dalam hutan. Menumpuknya di dekat perigi yang digalinya sendiri. Seminggu lamanya ia akan membelah gelondongan itu menjadi kayu-kayu kecil, disatukannya dalam ikatan-ikatan kecil sepelukan besarnya. Ia tidak membawanya ke pasar. Tapi orang-orang akan datang ke tempatnya untuk membelinya sebagai kayu bakar.”
Selain itu ia juga memiliki sifat rajin bekerja. Karena ia tidakmau bergantung kepada orang lain. Ia menghidupi istrinya dari kayu bakar yang ia kumpulkan di hutan. Ia juga memiliki sifat yang baik karena suka menolong orang lain berikut kutipannya:
“Ia seorang yang lata. Keluarga si Bernomor Punggung nyaris tak memiliki persoalan tetek-bengek dengan para tetangga yang memang rumah mereka berjauhan. Bukan pula dia tak terlibat dengan pelbagai kegiatan di kampung. Banyak hal yang telah disumbangkannya kepada kampung. Awalnya orang kampung itu tak mengenal sumur. Karena kebiasaan mereka menciduk air yang melarung dari gunung membentuk batang sungai yang membelah kampung mereka. Jernih nian dan melimpah airnya. Tapi jika musim kemarau tiba batang sungai itu akan kering. Dan orang-orang kampung akan mengangkutnya naik-turun sepikulan bambu dari gunung yang berdepa-depa jauhnya. Diperkenalkannya sumur. Digalinya dalam-dalam tanah tandus itu sehingga air jernih menyembur. Diperkenalkannya pula timba dari pelepah pinang yang kedua sisinya dijahit dengan rotan.”
Penulis juga menambahkan watak penyayang pada tokoh laki-laki bernomor punggung. Ia begitu menyayani anak-anak berikut kutipannya:
“Kanak-kanak berkarib baik dengannya. Kadang, jika musim buah-buahan hutan ia akan membawa serta beranting-ranting buah bersama gelondongan kayu. Dibagikannya kepada para karib kecilnya. Pun kanak-kanak itu dibuatkannya mainan dari sisa belahan yang terlampau bagus kalau sekadar dijadikan kayu pembakar. Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.”
Ia juga sosok laki-laki yang ikhals terhadap nasib yang menimpanya. Walaupun itu berhubungan dengan nyawanya sendiri. Berikut kutipannya:
“Dan sungguh si Bernomor Punggung menerimanya dengan ikhlas. Ia tak mengerti kenapa ia harus dibakar. Sama seperti orang kampung tak mengerti kenapa ia tak terkena wabah, dan berajah 81. Dengan kapak di tangan, si Bernomor Punggung duduk di ruang tamu menunggu api yang berjilat-jilat membakar tubuhnya. Perihal rajah si Bernomor Punggung membawanya sampai ajal. Sampai daging tubuhnya berderik, tulang-tulangnya mengertap dipanggang api.”
Sedangkan masyarakat kampong cenderung percaya terhadap tahayul. Dan pengetahuan belum berkembang dengan baik saat itu berikut kutipannya:
"Ia kepergok Pook," kata sang penyembur sirih. Pook adalah roh pemilik hutan. Para wanita yang menyaksikan kejadian itu menyungkup bayi-bayi mereka di kebusungan dadanya, mengucapkan lafaz penolak-bala agar bayi-bayi mereka tak terkena. Dan mereka meninggalkan tempat di mana orang itu dilentangkan --pada sebuah balai dari bambu-- sambil menggiring kanak-kanak.”
Latar tempat secara tersirat banyak menggunakan kampung yang menjadi latardalam cerpen ini. Berikut kutipannya:
“Ia datang ke kampung itu tiba-tiba. Ia datang seperti wabah yang tak hendak kembali. Ia ditemukan oleh para pencari rotan tersungkur di antara pematang tinggi yang mengapit dua ngarai. Ia sepertinya habis menaiki ngarai yang memang curam itu dengan susah-payah." (halaman 14).
"Begitulah orang itu tidak pergi, tapi memilih membangun rumah di batas kampung dengan hutan. Ia membangun sebuah rumah kecil sendiri, dan menolak dengan halus ketika orang kampung ramai-ramai menawarkan tenaga mereka. Ia mengatakan bahwa selama ini orang kampung telah banyak menolongnya.” (halaman 16).
Sedangkan latar Susana penulis menggunakan banyak latar baik suasana menyerampan maupun menggembirakan. Berikut beberapa kutipan suasana:
“Dua puluh satu kali ia sudah memalingkan wajahnya ke belakang. 21 kali pula ia lihat ada barisan raya yang mengejarnya. Dalam lari, dalam dengus nafas yang memberat ia merasakan barisan raya itu kian merapat, tinggal setombak, lalu sedepa, dengan semena menyentakkan ujung bajunya. Merebahkannya. Meringkusnya.
Ia terus berlari. Lewat lubang telinganya yang menyesak ia dengar raung yang menghasut. Lewat pincing matanya ia lihat puluhan anak panah, bukan puluhan, ratusan anak panah menyongsongnya dari belakang. Juga beliung, kapak, dan tombak. Ia bungkukkan badannya serupa babi menyuruk, ia berlari sambil menyujudkan badannya. Menghindari segala serbuan.” (halaman 13).
“Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.” (halaman 18).
“Terdengar sayup isak istri si Bernomor Punggung dengan suluh di tangan yang urung dilemparkan. Seorang bocah memegang erat sebelah tangannya yang lain. Seorang bocah dengan manik mata memerah menyaksikan tumpukan api. Pun kanak-kanak lain dengan manik mata memerah menyaksikan liuk api.” (halaman 20).
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudulpandang orang ketiga karena menggunakan kata ganti orang ketiga dan menggunakan nama orang. Berikut kutipannya:
"Terang saja punggungnya berjimat."
Ia Pook!"
"Siapkan pembakaran. Ia titisan wabah," perintah tetua kampung.
"Ia harus dibakar," seru yang lainnya”
Dan alur menggunakan alur maju karena secara keseluruhan seluruh kejadiannya berlangsung secara runtun dan tidak ada bagian yang mengenang masa lalu.
Tema yang diangkat dalam cerpen ini adalah ketidak tahuan. Yaitu ketidak tahuan penduduk kampung kalau penyakit yang mereka derita bukan bersal dari orang bernomor punggung. Dan hal mengapa orang bernomor punggung tidak tertular karena ia telah tertular terlebih dahulu dan ia telah kebal terhadap penyakit tersebut.
Cerpen ini terasa begitu kental nuansa aceh karena latar dan bahasa yang digunakan dalam cerpen ini begitu lekat.

Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara

Cerpen “Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara” mengisahkan pengalaman tokoh Aku yang bertemu dengan seorang wanita yang setiap hari menunggu seseorang sampai ia dianggap gila. Dalam cerpen ini tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik. Karena ia tidak pernah mengganggu wanita tersebut walaupun temam-temannya mengejek dan melempari batu kepada wanita itu. Berikut kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kini menjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
Dari kutaipan di atas tokoh aku memiliki dudi yang baik. Ia tidak pernah menggangu wanita yang diagap gila oleh teman-temannya. Tokoh Aku juga tokoh yang penurut karena ia selalu mendengarkan apa yang dikatakan ibunya. Dan ia selalu menurutinya. Berikut kutipannya:
“Ibu berkomentar marah mendengar ceritaku.” Coba bayangkan juga bahwa dia tidak menunggu siapa-siapa, tak punya saudara, dan hannya sekedar duduk di taman. Apakah kamu tahu, dia sudah makan pagi segala? Ia juga manusia cah bagus, yang bisa merasakan sakit.” (halaman 43).
“Roti ia terima. Aku kaget, sadar atas keberanianku mendekat padanya, dimana tangan kami bahkan sampai bersinggungan ketika dia memerima roti.” (halaman 44)
Tokoh aku menurut pada ibunya dengan memeberikan sarapan roti kepada wanita tersebut. Tokoh Aku juga memiliki karakter bahasa yang keras seperti yang ia warisi dari ibunya. Berikut kutipannya:
“Kata-kata ibu memang keras, meski aku tahu dan makin sadar kini, bahwa hatinya lembut. Bahkan dalam beberapa hal, bahasa itulah yang aku warisi darinya,” (halaman 44)
Karakter tokoh Aku adalah orang yang sangat menghargai wanita. Dan ia juga sangat membenci orang yang memanfaatkan titik lemah orang lain. Seperti yang dilakukan maling yang memperkosa wanita yang dianggap gila itu hingga ia hamil. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Tokoh aku merupakan pribadi yang luhur dan taat kepada agama. Berikut kutipannya:
“ketika ada wanita cantik dengan pikiran kosong, dengan hati kosong,mereka curi dannikmati beramai-ramai apel yang mereka bawa. “Ya Tuhan yang kudus, biarlah aku berpuasa seumur hidup tiak akan makan apel curian.” (halam 45).
Wanita yang menunggu ditaman yang dikatakan gila oleh orang-orang memiliki sosokyang cantik sesuai dengan kutipan berikut:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu penulis juga banyak memaparkan mengenai bentuk fisik wanita tersebut. Berikut kutipannya:
“Wanita itu pun, pasti ada darah Balandanya. Sosoknya tinggi ramping, dengan bentuk kaki yang sama sekali berbeda dari wanita-wanita tanpa darah campuran sama sekali. Lebih-lebih mereka yang kami sebut sebagai “Ngablak”.” (halaman 43).
Tokoh wanita tersebut adalah tokoh yang tegar. Ia tetap menunggu seseorang yang sekarang entah ada dimana. Sampai-sampai semua orang menganggapnya gila. Berikut kutipannya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu sampai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggukan tokoh Aku sebagai karakter utama. Berikut beberapa kutipannya:
“Sayang, semua orang menganggapnya orang gila. Seingatku, hanya aku dan teman sekolah berdarah Indo yang kinimenjadi bintang film di Jakarta yang jadi tak pernah menyakitikinya.” (halaman 41).
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).
Latar tempat dalam cerpen ini adalah Salatiga. Berikut kutipannya:
“Ada wanita cantik duduk di taman ditengah kota Salatiga.” (halaman 41).
Selain itu untuk memperjelas bahwa cerita ini memeang terjadi di Salatiga penulis menambahkan aksen jawa pada perkataan ibu tokoh Aku. Berikut kutipannya:
“Jangan, jangan sakiti dia cah bagus. Ia sudah terpanggang panas dan tertusuk dingin, dan tak mengganggu siapa-siapa.” (halaman 41).
“Pada saat cuaca agak buruk menyelimuti kota dilereng gunung merbabu ini, ia mengenakan sweater untuk menahan udara dingin. Dikota ini, cuaca memang tidak menentu. Pada sore hari, kabut kadang bergerak menuruni gunung, membuat bunga-bunga seperti merunduk kedinginan.” (halaman 42)
Darikutipan di atas terpancar suasana yang begitu dingin untuk mendukung rasa ketegaran yang dimiliki oleh tokoh wanita yang dianggap gila itu. Ia tetap menunggu seseorang walaupun keadaan begitu didingin.sedangkan untuk menyakinkan pembaca bahwa wanita yang mngkin gila itu penulis menambahkan sebuah tulisan yang sedikit menggunakan bahasa Belanda yang ditulis wanita itu. Berikut kutipannya:
“Dear Don Van Reunekers,
Kalau Ik (dia memebahaskan dirinya Ik-Bre) tiba-tiba tak mendengar suara kamu, Ik artikan kamu tentulah sedang keluar kota untuk semantara waktu saja, sebentar saja, soalnya Ik takut kamu menghilang dari udara. Ik sealalu takut kamu hilang. Ik berpikir kamu lebih baik pergi dan berlibur bersama Sandra (entah siapa Sandra-Bre).” (halaman 46).
Dari nama seorang laki-laki yang dibicarakan wanita itu saja sudah menggunakan Bahasa belanda. Dan dalam cerita ini penulis tidak member tahu suapakan Don Van Runekers dan mengapa tokoh wanita itu menunggu sampai ia kehilangan pikirannya.
Sedangkan alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur campuran. Karena pada awal cerita penulis menceritakan pengalaman tokoh Aku dan diakhir cerita kembali pada keadaan tokoh Aku yang sekarang. Berikut kutipannya:
“Aku merinding. Itulah ucapan ibu yang bisa aku ingat ,ketika di masa kecil aku bercerita kepadanya, bahwa teman-teman di sekolah selalu menggodanya tatkala kamu semua melewati taman.” (halaman 41)
“Taman kota itu pun sudah berubah menjadi department store dan super market.” (halaman 47).
Permalasahan yang menjadi tema dalam cerpen ini adalah kesetiaan dari wanita yang menunggu seseorang sampai menjadi gila. Dan wanita itu tetap menunggu walaupun mendapat banyak rintangan. Berikut kutipanya:
“Itu pun dia tak perduli. Taman kota berikut bunga-bunga mawarnya yang suka kedinginan seolah miliknya, tempat ia menunggu janji entah dengan siapa, dan tak mempedulikan siapa saja, ganguan macam apa saja. Inilah yang membuat beberapa teman sekolah dulu samapai merasa gemas. Seorang teman yang paling nakal di kelas, melemparkan batu sebesar genggaman tangan padanya.” (halaman 42).
Selain itu cerpen ini juga mengagas mengenai rasa hormat kepada wanita. Sesuai dengan karakter Aku dalam cerpen ini yang begitu menghormati wanita. Baik itu ibunya, istrinya maupun wanita yang dianggap oleh orang-orang gila.dan cerpen ini mengecam perbutan yang melecehkan wanita. Dari segi kekurangan wanita. Berikut kutipannya:
“Alangkah kurang ajarnya maling itu. Sampai sekarang, aku membenci orang yang suka menyelinap dari belakang dan memanfaatkan titik lemah orang lain. Aku benci orang-orang yang tidak menaruh hormat pada wanita, pada ideology male chauvinism, pada play boy play boy tengik yang memani pulasi tentang ilusi hidup bahagia, dan meninggalkan bercak-bercak luka yang luar biasa pada hati yang rapuh.” (halaman 44-45).

Bibir dalam Pispot

Cerita “Pistot” menceritakan tentang pengalaman Tokoh Aku. Pengalaman tersebut terjadi saat Tokoh Aku berada di pasar. Tokoh Aku di gambarkan oleh penulis dengan karakter yang jujur ia menunjukan siapa yang menjadi penjambret di pasar tersebut. Dan ia mau dijadikan sebagai saksi dan mengatakan yang sebenarnya. Selain itu Tokoh Aku juga digambaerkan sebagai tokoh yag pemberami dan cerdas. Karena ia berani dan berhasil merayu tersangka untuk meminum obat pencahar. Yang sebelumnya tersangka tersebut menolak untuk meminumnya. Berikut kutipannya:
“sekarang Cuma kita berdua saja di ruang ini. Ada suatu hal yang ingin kukatakan kepada mu.” Aku mulai meyakinkannya. “ kalau dalam waktu dekat kau tidak mengeluarkan kalung itu, mereka akan mengoperasimu!” aku bergeser mendekat kepadanya.”
Dari kutipan di atas tokoh aku memiliki siasat yang cerdas untuk membujuk Tersangka. Agar meminum obat pencahar dengan cara menakut-nakuti tersangka. Selain itu, Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang baik dan bertanggaung jawab. Ia merasa bersalah atas penderitaan yang diterima oleh Tokoh Tersangka. Setelah ia dinyakatan tidak bersalah. Ia berusaha meminta maaf kepada Tokoh Tersangka atas apa yang menimpanya. Ia memberikan uang kepada tokoh tersangka. Dan mengantarnya pulang. Berikut kutipannya;
“aku raba uang disakuku. Aku beri dia uang untuk menebus rasa berdosa pada diriku. Lelaki itu berlinang air matamenerimanya.”
“Kemudian kami sama diam di dalam perjaanan itu. Kemudian dia minta diturunkan di gang tempat tinggalnya. Aku menolongnya samapai keluar. Aku menyalamnya.”
Tokoh Aku benar-benar sangat menyesal karena ia telah membuat Tokoh Tersangka menjadi babak belur dan terlhat lemas karena terlalu banyak membuang air besar akibat obat pencahar.
Tokoh Tersangka digambarkan penulis sebagai penjambret yang licik. Karena setelah ketahuan ia menelan barang bukti apa yang dijambretnya. Berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang terges.”
Dari kutipan di atas Tokoh Tersangka dapat berpikir cepat untuk menghilangkan barang bukti. Namun, ia tetap dapat dikelabui oleh Tokoh Aku sehingga ia mau menelan obat pencahar. Tetapi kelicikan itu dikeluarkan lagi oleh penulis melalui penuturan Tokoh Tersangka yang mengaku telah menelan kembali. Berikut kutupannya:
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.”
Dari pengakuan di atas Tokoh Tersangka mengakui perbuatannya. Dan ia menyesal melakukan perbuatan itu. Ia malah meminta kepada Tokoh Aku untuk dihukum. Dan ia menjelaskan mengapa ia meakukan perbuatan itu. Berikut kutipannya:
“Bapak orang baik. Hukumlah saya.” Dia raba uang yang telah saya beri itu di dalam saku bajunya. Dia mungkin hendak mengembalikannya.”
Cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama. Karena penulis menggunkan kata ganti aku. Tokoh Aku dalam cerpen ini adalah mewakili penulis karena cerpan ini terinspirasi dari pengalan penulis seperti yang dituturkannya pada proses lahirnya cerpen.
Cerpen ini menggunakan alur campuran karena terdapat bagian mengulang kejadian yang sudah terjadi berikut kutipannya:
“Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu sesuatu ke mulutnya di saat langkahnya yang tergesa.”
Cerpen ini menggunakan latar tempat yaitu pasar dan kantor polisi. Sedangkan latar suasana sangat mempengaruhi jalan cerita cerpen ini karena penulis serusaha mengambarkan apa yang dirasakannya pada saat mengalami pengalaman itu. Yaitu membuat pembaca bergidik. Berikut beberapa kurtipan mengenai suasana:
“kamu beri kepada temanmu?”
“tidak.”
“dia tidak bisa berkata lain selain: tidak!” mereka mulai tidak sabar.” Siksa!” (halaman 13)
“cukup! Itu sudah cukup!” bentak kepala pemeriksa “ (halaman 14)
Dari gambaran di atas terlukis suasana tegang yang menimpa Tokoh Tersangka. Selain itu penulis menggambarkan apa yang ia lihat dan membuat pembaca bergidig.
“Belum keluar! Baru biji-biji kedele rupanya dia makan tempe!”
Dia keluar membawa pispot dan seorang menyambutnya dan membersihkannya di lubang pispot.” (halaman 18)
“saya bukanlah penjambret. Tetapi saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu kelur aku langsung menelannya.” (halaman 21)
Cerpen ini membahas tentang kebaikan hati dari Tokoh Aku. Ia berusaha menolong seseorang yang tidak ia kenal. Dan ia tetap menolong orang yang dia ketahui telan menjambret kalung seorang wanita.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

I. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "dia akan berangkat".
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Irian Jaya
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Misalnya:
Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
bulan Agustus hari Natal
bulan Maulid Perang Candu
hari Galungan tahun Hijriah
hari Jumat tarikh Masehi
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara Kali Brantas
Banyuwangi Lembah Baliem
Bukit Barisan Ngarai Sianok
Cirebon Pegunungan Jayawijaya
Danau Toba Selat Lombok
Daratan Tinggi Dieng Tanjung Harapan
Gunung Semeru Teluk Benggala
Jalan Diponegoro Terusan Suez
Jazirah Arab

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam inggris
gula jawa
kacang bogor
pisang ambon
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
menjadi sebuah republik
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menurut undang-undang yang berlaku
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
Dr. doktor
M.A. master of arts
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Surat Saudara sudah saya terima.
"Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
majalah Bahasa dan Kesusastraan
buku Negarakertagama karangan Prapanca
surat kabar Suara Karya
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi 'pandangan dunia'.
Tetapi:
Negara itu telah mengalami empat kudeta.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.
II. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
• bergeletar
• dikelola
• penetapan
• menengok
• mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
• bertepuk tangan
• garis bawahi
• menganak sungai
• sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
• menggarisbawahi
• menyebarluaskan
• dilipatgandakan
• penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati mahasiswa
aerodinamika mancanegara
antarkota multilateral
anumerta narapidana
audiogram nonkolaborasi
awahama Pancasila
bikarbonat panteisme
biokimia paripurna
caturtunggal poligami
dasawarsa pramuniaga
dekameter prasangka
demoralisasi purnawirawan
dwiwarna reinkarnasi
ekawarna saptakrida
ekstrakurikuler semiprofesional
elektroteknik subseksi
infrastruktur swadaya
inkonvensional telepon
introspeksi transmigrasi
kolonialisme tritunggal
kosponsor ultramodern

Catatan:
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
• non-Indonesia
• pan-Afrikanisme
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra
D. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
E. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.)
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.
Catatan:
Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.
Bawa kemari gambar itu.
Kemarikan buku itu.
Semua orang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.
F. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun mahasiswi ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun miskin, ia selalu gembira.
3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000 per helai.
G. Singkatan dan Akronim

Hantu Kuntilanak dan Pocong

A. Kuntilanak
1. Deskripsi
Kuntilanak (bahasa Melayu: puntianak, pontianak) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "kuntilanak" atau "pontianak" kemungkinan besar berasal dari gabungan kata "bunting" (hamil) dan "anak".
Dalam folklor Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik yang punggungnya berlubang. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kamboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak juga senang menyantap bayi dan melukai wanita hamil.
Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.
Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat "bersemayam", misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut "waru doyong")
.2. Kepercayaan penangkalan
Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.
Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.
3. Budaya popular
Kepercayaan akan adanya kuntilanak atau sundel bolong sangat sering dijadikan sebagai bahan urban legend serta sinema. Berikut adalah beberapa film yang dibuat dengan inspirasi dari kuntilanak:

* Film Indonesia
o Terowongan Casablanca (Kuntilanak Merah) (2007) (Indika Entertainment)
o Kuntilanak (2006) karya Rizal Mantovani
o Kuntilanak (1962), dibintangi oleh Ateng
o Sundel Bolong, dibintangi oleh Suzanna

* Film Malaysia
o Pontianak Gua Musang
o Anak Pontianak (1958)
o Pontianak Kembali (1963)
o Pontianak Harum Sundal Malam (2004)
o Pontianak Harum Sundal Malam 2 (2005)
Adapun cara memanggil jaelangkung, ada pula cara memanggil kuntilanak. Dan cara memanggil kuntilanak adalah dengan melatunkan sebuah tembang Jawa. Tidak sama dengan cara memanggil jaelangkung,yang bisa dilakukan oleh siapa saja, lain halnya dengan kuntilanak.
Cara memanggil kuntilanak hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan “lebih” dari pada orang kebanyakan. Kemampuan ini belum bisa dipastikan bagaimana cara memperolehnya karena ada beberapa mitos yang mengatakan bahwa ini kemampuan yang diperoleh dari nenek moyang atau keturunan, ada pula yang mengatakan itu factor kebetulan atau dialah orang yang terpilih tanpa sebab apapun.
Apabila tembang jawa pemanggil kuntilanak ini dinyanyikan, akan membuat si korban menjadi mimisan, setelah itu si”penembang” akan memuntahkan belatung (sejenis ulat yang memakan mayat atau organ yang sudah busuk), dan si korban menjadi mimisan setelah itu akhirnya si korban akan mati mengenaskan dengan kepala terpelintir. Konon ritual yang sama akan terjadi bila tembang jawa ini dinyanyikan, nyanyi - mimisan - belatung - mati mengenaskan.
Bersahabat dengan mahluk halus atau disini dengan kuntilanak, mengacu pada seseorang yang mengikat tali persahabatan dengan mahluk halus atau kuntilanak. Dalam hal ini tujuan memelihara kuntilanak adalah untuk memperoleh sesuatu entah itu membalas dendam, memperoleh pesugian yang erat kaitannya dengan cara”memperlancar” usaha atau bisnis yang sedang dijalani.
Persahabatan dengan mahluk halus ini juga dikenali sebagai saka Mereka yang bersahabat dengan mahluk halus ini perlu mematuhi beberapa syarat seperti ada yang meminta persembahan makanan, ada yang perlu dibakar kemenyan setiap waktu tertentu, dan ada yang tidak mengenakan syarat apa-apa, atau dengan melaksanakan ritual tertentu.


B. Pocong
1.Deskripsi
Penampakan hantu pocong di pekuburan Bungur, Jalan MH Thamrin Cikokol, Kota Tangerang, persis di depan kantor Kelurahan Cikokol, Rabu (26/7) petang, membuat heboh warga Tangerang. Seribuan orang memadati areal pekuburan tersebut untuk melihat pocongyang katanya bergelantungan di dahan pohon beringin yang tumbuh di areal pekuburan itu.
Akibat kerumunan massa, arus lalu lintas di Jalan MH Thamrin dari Kota Tangerang ke arah Serpong macet total hingga berjam-jam. Puluhan polisi lalu lintas dari Polrestro Tangerang dan petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Tangerang yang disebar di sepanjang jalan, tak mampu mengatasi kemacetan.
Geger hantu itu bermula dari munculnya kabar tentang penampakan hantu pocong yang terbang dari pepohonan di areal pekuburan menuju gedung SDN 01-02 Cikokol yang berada di depan areal pekuburan. Keberadaan hantu tersebut terlihat oleh beberapa siswa SDN Cikokol yang tengah berjalan pulang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
Kabar tentang penampakan hantu itu segera tersiar ke perkampungan di belakang areal pekuburan. Ratusan warga yang penasaran segera mendatangi kuburan itu guna menyaksikan wujud hantu tersebut. Beberapa orang warga mengaku sempat melihat hantu itu bergelantungan di dahan pohon beringin. "Saya lihat sendiri hantu itu bergelantungan di pohon. Hantu pocong itu bukan cuma satu, tapi banyak. Mereka terbang dari pohon ke pohon lalu menghilang," ujar Anwar, warga Kampung Sembung yang mengaku melihat hantu pocong itu.
Cerita Anwar dan beberapa warga kampung lainnya yang mengaku sempat melihat hantu pocong itu, makin membuat warga penasaran. Ratusan orang terus berkerumun di depan areal pekuburan menunggu kedatangan hantu itu. Kerumunan warga menarik perhatian ratusan pelintas yang ikut-ikutan nimbrung. Beberapa orang pemilik handphone berkamera terlihat mengarahkan lensanya ke arah pohon beringin. "Hantu pocong itu nggak bisa terlihat dengan mata telanjang. Tapi sosoknya bakal tertangkap jika dibidik lewat kamera," ujar seseorang memberitahu.
Apa penyebab penampakan hantu pocong itu. Menurut seorang warga Kampung Kelapa bernama Kopral, hantu dari areal pekuburan itu ke luar dari persemayamannya setelah seorang pertapa asal Jawa Timur menyelesaikan semedinya di kuburan itu. "Pertapa itu sudah sembilan hari bersemedi di bawah pohon beringin. Tadi siang dia selesai bertapa dan langsung menghilang. Berbarengan dengan itu, beberapa hantu pocong ke luar dari tempatnya karena diperintahkan sang pertapa," kata Kopral. Hingga pukul 20.30, ratusan warga masih terus berkerumun di sekitar pekuburan Bungur.

Penggambaran pocong bervariasi. Dikatakan, pocong memiliki wajah berwarna hijau dengan mata yang kosong. Penggambaran lain menyatakan, pocong berwajah rata dan memiliki lubang mata berongga atau tertutup kapas dengan wajah putih pucat. Mereka yang percaya akan adanya hantu ini beranggapan, pocong merupakan bentuk protes dari si mati yang terlupa dibuka ikatan kafannya sebelum kuburnya ditutup. Selain itu, pocong sering dinamai dengan hantu bungkus. Hantu bungkus atau juga dikenali sebagai hantu punjut, merujuk kepada sejenis makhluk yang berbentuk seperti mayat yang dibungkus dengan kain kafan.
Hantu bungkus sering dikatakan mengusik orang yang lemah semangat, dan akan bergerak dengan meloncat seperti hantu cina, atau bergoleh. Ia dikatakan mampu bergerak sepantas kereta, bergerak seiring dengan kereta yang dipandu oleh mangsa udikan merek Status : Hantu bungkus tidak dipelihara dan terdapat secara bebas. Kelebihan mereka yang berani menangkap hantu bungkus dikatakan mampu mendapat kekayaan yang banyak. Ini kerana dikatakan, dalam bungkusan tersebut terdapat wang yang banyak.

.2. Kepercayaan penangkalan
Meskipun pocong dalam film sering digambarkan bergerak melompat-lompat, mitos tentang pocong malah menyatakan pocong bergerak melayang-layang. Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat. Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu dimasyarakat. Kepercayaan akan adanya hantu pocong hanya berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Walaupun penggambarannya mengikuti tradisi muslim, umat beragama lain pun ternyata dapat mengakui eksistensi hantu ini.
Menurut kepercayaan masyarakat, hanya ada 2 cara untuk melepaskan diri bila dikejar oleh pocong. cara pertama adalah bersetubuh dengan bumi atau yang biasa disebut tiarap sedangkan cara kedua adalah jalan berkelok-kelok layaknya cacing. Kedua cara ini diyakini sangat efektif oleh masyarakat diberbagai daerah.
3. Budaya popular
Pocong sering kali mewarnai cerpen atau roman bertema misteri. Dalam sinema nasional Indonesia bergenre horor, pocong bahkan sering kali dihadirkan. Beberapa bahkan menggunakannya sebagai judul.
Dalam parade ogoh-ogoh sebelum perayaan Nyepi di Bali, umpamanya, wujud pocong kerap diwujudkan, biasanya oleh kelompok masyarakat non-Hindu. Kepercayaan akan sosok yang satu ini membawanya hadir kedalam layar lebar. Film yang sudah dirilis menggunakan sosok ini diantaranya "Pocong" pada tahun 2005, "pocong2" pada tahun 2006, "pocong3" pada tahun 2007, dan 40 Hari Bangkitnya Pocong.
4. Cerita yang berkembang dalam masyarakat
Penampakan hantu pocong di pekuburan Bungur, Jalan MH Thamrin, Cikokol, Kota Tangerang, persis di depan kantor Kelurahan Cikokol, Rabu (26/7) petang, membuat heboh warga Tangerang. Seribuan orang memadati areal pekuburan tersebut untuk melihat pocong yang katanya bergelantungan di dahan pohon beringin yang tumbuh di areal pekuburan itu.
Akibat kerumunan massa, arus lalu lintas di Jalan MH Thamrin dari Kota Tangerang ke arah Serpong macet total hingga berjam-jam. Puluhan polisi lalu lintas dari Polrestro Tangerang dan petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Tangerang yang disebar di sepanjang jalan, tak mampu mengatasi kemacetan.
Geger hantu itu bermula dari munculnya kabar tentang penampakan hantu pocong yang terbang dari pepohonan di areal pekuburan menuju gedung SDN 01-02 Cikokol yang berada di depan areal pekuburan. Keberadaan hantu tersebut terlihat oleh beberapa siswa SDN Cikokol yang tengah berjalan pulang. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
Kabar tentang penampakan hantu itu segera tersiar ke perkampungan di belakang areal pekuburan. Ratusan warga yang penasaran segera mendatangi kuburan itu guna menyaksikan wujud hantu tersebut. Beberapa orang warga mengaku sempat melihat hantu itu bergelantungan di dahan pohon beringin. "Saya lihat sendiri hantu itu bergelantungan di pohon. Hantu pocong itu bukan cuma satu, tapi banyak. Mereka terbang dari pohon ke pohon lalu menghilang," ujar Anwar, warga Kampung Sembung yang mengaku melihat hantu pocong itu.
Cerita Anwar dan beberapa warga kampung lainnya yang mengaku sempat melihat hantu pocong itu, makin membuat warga penasaran. Ratusan orang terus berkerumun di depan areal pekuburan menunggu kedatangan hantu itu. Kerumunan warga menarik perhatian ratusan pelintas yang ikut-ikutan nimbrung. Beberapa orang pemilik handphone berkamera terlihat mengarahkan lensanya ke arah pohon beringin. "Hantu pocong itu nggak bisa terlihat dengan mata telanjang. Tapi sosoknya bakal tertangkap jika dibidik lewat kamera," ujar seseorang memberitahu.
Apa penyebab penampakan hantu pocong itu. Menurut seorang warga Kampung Kelapa bernama Kopral, hantu dari areal pekuburan itu ke luar dari persemayamannya setelah seorang pertapa asal Jawa Timur menyelesaikan semedinya di kuburan itu. "Pertapa itu sudah sembilan hari bersemedi di bawah pohon beringin. Tadi siang dia selesai bertapa dan langsung menghilang. Berbarengan dengan itu, beberapa hantu pocong ke luar dari tempatnya karena diperintahkan sang pertapa," kata Kopral. Hingga pukul 20.30, ratusan warga masih terus berkerumun di sekitar pekuburan Bungur.

Hantu Alat Kontrol Sosial

Perbincangan masyarakat dan para ahli mengenai maraknya tayangan mistik (khususnya makhluk halus) di berbagai media massa di Indonesia kian hari-kian terasakan. Tua muda, besar kecil, laki perempuan ramai memperbincangkan bagaimana ngerinya wajah seorang perempuan tanpa raut muka yang beberapa waktu lalu ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta dalam acara uji nyali, atau banyak yang bergidik ngeri ketika menyaksikan tingkah polah seorang laki-laki yang kerasukan karena melanggar pantangan untuk tidak mengencingi pohon besar. Dan masih sangat banyak lagi kesaksian lain yang senada. Sampai-sampai banyak kalangan yang menghimbau agar tayangan-tayangan yang berbau mistis dan sejenisnya dienyahkan dari layar kaca. Padahal program-program tersebut memiliki segmen pasar yang cukup menjanjikan terlihat dari semakin menjamurnya program sejenis dan banyaknya pemasang iklan yang masuk.
Perdebatan mengenai makhluk halus sebenarnya bukan masalah yang baru di Indonesia, bahkan di dunia. Tulisan-tulisan maupun kajian ilmiah tentang makhluk gaib ini telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan terutama kalangan Antropolog, sebut saja Malinowski dengan etnografi Suku Trobriannya yang menyangkutkan makhluk halus dengan perdagangan Kula, atau kerelaan orang Jawa untuk hidup berdampingan dengan memedi (makhluk halus) seperti yang ditulis Clifford Geert the Religion of Javanya. Bahkan sebagian orang Indonesiapun telah melakukan perhatian terhadapnya meski mayoritas belum masuk dalam tataran ilmiah. Karena pada umumnya lebih suka berpolemik tentang ada atau tidaknya para hantu tersebut di dunia ini.
Dunia makhluk halus sering dianggap sebagai masalah kuno dan sebagai sisa-sisa kebudayaan kuno. Karena hampir pada setiap penjelasannya sulit diterima dengan akal sehat. Seperti kemampuan mereka menembus tembok tebal, kemampuan menghilang tanpa bekas, masuk ke dalam tubuh seorang dukun, atau kemampuan bertengger di puncak dahan. Anggapan yang tersebut dikarenakan akal pikiran manusia belum mampu menembus fenomena alam yang demikian dalam. Untuk menjelaskan fenomena tersebut sangat dibutuhkan pemahaman sosial budaya secara kontekstual dan spiritual yang baik. Hal ini sebagai akibat dari selalu terpenjaranya manusia ke dalam paham materialisme yang sering menjerumuskan.
Dari kacamata budaya kita bisa melihat bahwa makhluk halus memiliki posisi sosial yang cukup penting. Di dalam kisah penampakan makhluk halus, misalnya, sebenarnya sarat dengan makna dan fungsi sosial. Makhluk halus bukan hanya sekedar sesuatu makhluk jahat yang senang mengganggu manusia, suka merasuki tubuh manusia, hingga menyebabkan seseorang maninggal dunia atau bukan pula sesosok makhluk baik yang bisa dipekerjakan untuk membantu memperbaiki mobil penyok, membantu mengumpulkan kekayaan (mencuri uang), atau diperintah menjadi satpam di rumah. Meminjam istilah Geertz bahwa perilaku-perilaku tersebut menunjukkan sebuah kemenangan manusia atas alam sehingga manusia bisa berbuat seenak perutnya sendiri.
Di luar masalah itu, kalau dicermati secara seksama kish-kisah penampakan para mahluk halus selalu memiliki pola yang sama yaitu selalu berkaitan dengan tempat sepi, gelap, kotor, dihuni oleh jenis-jenis makhluk tertentu, serta selalu mengganggu orang-orang yang nakal maupun iseng.. Dari kondisi tersebut bisa dijelaskan bahwa paling tidak ada dua posisi strategis makhluk halus dalam kedudukan sosial manusia. Pertama adalah sebagai alat rekonstruksi sosial. Kehidupan manusia masa lalu berusaha dihadirkan kembali melalui peristiwa-peristiwa yang sangat unik. Kita mungkin pernah meyaksikan atau mendengar sebuah benteng perjuangan, pabrik gula yang tidak berfungsi, atau sebuah rumah tua yang dijadikan tempat tinggal para makhluk halus Londo. Dimana pada waktu-waktu tertentu para makhluk tersebut menyambangi manusia yang kebetulan melintas didekatnya dengan membawa atribut keLondoannya. Atau barangkali kita juga tidak pernah mendengar bahwa ada drakula maupun vampir yang berkeliaran di wilayah Indonesia. Belum pernah juga ada hantu pocong yang bergentayangan di Amerika. Sehingga dapat dikatakan bahwa makhluk halus memiliki wilayah sosial tertentu yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain bahwa hantu-hantu yang ada merupakan ciptaan dari masyarakat yang mendiaminya. Di kompleks candi Borobudur pada malam-malam tertentu orang akan mudah menemui hantu uwil-uwil (bala tentara Budha), di sekitar kali Code kita akan mudah menemui cerita tentang hantu Lampor (iring-iringan pasukan berkuda), atau di tempat bekas terjadi kecelakaan akan beredar cerita tangisan yang sangat menyayat hati pada malam-malam tertentu.
Kedua adalah sebagai alat kontrol sosial. Keeksistensian para hantu saat ini juga sangat tergantung dari peran masyarakat. Masyarakat merasa perlu menjaga kehidupan mahkluk halus karena membutuhkan peran mereka dalam menjaga keseimbangan sistem-sistem nilai yang berlaku. Terutama pada saat ini ketika sudah banyak sekali pranata-pranata dan nilai-nilai sosial yang dilanggar manusia. masyarakat perlu membentenginya agar kerusakan yang terjadi paling tidak bisa dihambat. Merebaknya kasus prostitusi di berbagai wilayah di Indonesia berusaha disindir oleh masyarakat dengan menghadirkan makhluk halus yang bernama kuntilanak. Diamana kuntilanak divisualisaikan sebagai sesosok wanita yang sangat cantik dan menggairahkan berjalan sendirian di tempat yang sepi kemudian serta merta berubah menjadi nenek-nenek reyot ketika hendak diajak berbuat zina seorang lelaki. Atau upaya masyarakat yang berusaha mempertahankan keberadaan sebuah hutan dilakukan dengan menghembuskan sebuah makhluk penunggu yang mendiami hutan tersebut dan akan marah apabila akan ditebang. contoh lain adalah hantu Kemanag-mang di Indramayu. menurut saya fungsi hantu tersebut adalah sebuah bentuk kontrol sosial agar masyarakat di wilayah pesisir pantai utara tidak merusak tanaman bakau. sehingga wilayah tersebut tetap asri dan abrasi tidak menyerang penduduk tersebut.
Banyak orang yang mengingkari keberadaan makhluk tersebut, namun banyak pula yang mempercayai bahwa makhluk halus benar-benar ada. Pada saat ini melalui pengkisahan kembali terhadap peristiwa-peristiwa perjumpaan dengan para makhluk halus, atau melalui pemvisualisasian dalam berbagai media elektronik, wacana makhluk halus mulai berusaha diungkapkan kembali. Betapa banyaknya media massa di Indonesia yang menyediakan ruang khusus untuk pemuatan berbagai opini tentang makhluk halus. Secara sadar maupun tidak media-media massa ini ikut berperan dalam terjaganya sistem masyarakat yang ideal.
Terlepas dari nilai-nilai dan hukum-hukum yang berlaku dalam Agama. Bahwa keberadaan makhluk halus disekitar kehidupan manusia karena memang makhluk-makhluk tersebut sengaja diciptakan oleh masyarakat. Keberadaan makhluk halus merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Penciptaan ini dimaksudkan agar tatanan nilai dan norma yang ideal pada suatu masyarakat kelangsungannya dapat terjamin dengan baik. Dengan kata lain makhluk halus diciptakan sebagai rambu-rambu sosial yang wajib di taati oleh siapapun.
Akhirnya, maraknya tayangan mistis di berbagai media massa sebaiknya disikapi dengan pemahaman sosial yang baik dan dilandasi dengan keimanan yang kuat agar kita tidak terjerumus kedalam kesesatan. Informasi yang muntahkan media massa sebaiknya tidak dimaknai sebagai ajakan untuk berbuat menyimpang dari kodrat alam. Dengan ketebalan iman kepada Yang Kholiq kita tidak perlu khawatir akan dibodohi oleh tayangan-tayangan itu. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Tembang Lir-Ilir

Tembang Lir-ilir merupakan lagu yang tidak diketahui umurnya ini sudah dari sejak dulu berkembang di tanah Jawa sejak dulu. Ada yang menyatakan bahwa tembang ini diciptakan oleh wali songo. Untuk memudahkan dalam menyebarkan agama islam kala itu. Temabang ini terkesan sangat sederhana namun sarat akan makna. Tembang ini sering dipakai masyrakat jawa. Dari mulai ritual ke agamaan sampai ritual kejawen. Tembang ini mengandung banyak misteri. Yang belum terkuak sampai saat ini.. Berikut ini adalah lirik tembang lir-ilir berserta terjemahannya:
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang yang sarat yang makna ini akan saya jabarkan setiap baris dari tembang tersebut. Berikut penjabarannya:
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa yaitu Ruh dari kesadaran Pikiran. Terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak.Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Yaitu: (dua kalimat) syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa. Namun, bagi cah angon yang taat, perintah Allah untuk memanjat blimbing tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. Pada zaman WaliSongo dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan iman Islam oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
Lagu lir-ilir terbukti bahwa tembang ini bukan tembang mainan bisa tembang yang mengungatkan manusia saat itu bahwa manusia sepantasnya kembali keajaean yang benar. Yaitu ajaran islam. Ajaran yang arif. Mungkin berabad-abad yang lalu lagu ini digunakan dalam menyebarkan agama islam ditanah Jawa. Yang samapai sekarang masih saya rasakan


Tembang Lir-ilir merupakan lagu yang tidak diketahui umurnya ini sudah dari sejak dulu berkembang di tanah Jawa sejak dulu. Ada yang menyatakan bahwa tembang ini diciptakan oleh wali songo. Untuk memudahkan dalam menyebarkan agama islam kala itu. Temabang ini terkesan sangat sederhana namun sarat akan makna. Tembang ini sering dipakai masyrakat jawa. Dari mulai ritual ke agamaan sampai ritual kejawen. Tembang ini mengandung banyak misteri. Yang belum terkuak sampai saat ini.. Berikut ini adalah lirik tembang lir-ilir berserta terjemahannya:
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang yang sarat yang makna ini akan saya jabarkan setiap baris dari tembang tersebut. Berikut penjabarannya:
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa yaitu Ruh dari kesadaran Pikiran. Terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak.Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Yaitu: (dua kalimat) syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa. Namun, bagi cah angon yang taat, perintah Allah untuk memanjat blimbing tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. Pada zaman WaliSongo dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan iman Islam oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.
Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.
Yo surako surak hiyo. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
Lagu lir-ilir terbukti bahwa tembang ini bukan tembang mainan bisa tembang yang mengungatkan manusia saat itu bahwa manusia sepantasnya kembali keajaean yang benar. Yaitu ajaran islam. Ajaran yang arif. Mungkin berabad-abad yang lalu lagu ini digunakan dalam menyebarkan agama islam ditanah Jawa. Yang samapai sekarang masih saya rasakan